Menjadi Mulia dengan Punya Anak, Yakin Nolak Jadi Ibu?

Childfree merupakan istilah dari pasangan menikah yang merujuk pada ketidakinginan untuk memiliki anak. Keputusan yang masih terdengar awam di telinga masyarakat kita ini mendapat respon pro dan kontra. Banyak yang menentang tetapi tidak sedikit juga yang mendukung. Lalu apa sih alasan pasangan memilih untuk childfree?

Menjadi Mulia dengan Punya Anak, Yakin Nolak Jadi Ibu?
Ibu dan anak. Sumber: parenting.dream.co.id

Beberapa waktu lalu, jagat maya sempat dihebohkan dengan sebuah pernyataan dari salah satu influencer Indonesia yang memutuskan menganut childfree dalam menjalani rumah tangganya. Childfree merupakan istilah dari pasangan menikah yang merujuk pada ketidakinginan untuk memiliki anak. Keputusan yang masih terdengar awam di telinga masyarakat kita ini mendapat respon pro dan kontra. Banyak yang menentang tetapi tidak sedikit juga yang mendukung.

Lalu apa sih alasan pasangan memilih untuk childfree?

Setelah melakukan beragam penelusuran di dunia maya, ada yang berprinsip untuk tinggal berdua saja seumur hidup bersama pasangan. Ada juga yang menganggap memiliki anak adalah tanggung jawab yang besar dan merasa tidak sanggup menanggung beban itu. Atau mungkin perempuan yang merasa punya hak memilih. Hingga alasan lain seperti kondisi yang tidak memungkinkan untuk memiliki anak lalu ikhlas menerima takdir dan memutuskan hidup berdua bersama pasangan hingga akhir hayat.

Melihat fenomena ini, aku semakin tertarik untuk mengulik lebih dalam melalui perspektif lain. Bukan dari perspektif penganut childfree, namun dari pandangan perempuan-perempuan yang memutuskan untuk memiliki anak dan alasan mereka menginginkan anak dalam pernikahannya. Sebab sebagian orang masih takut punya anak dan merupakan perkara yang simpel. So, yuk simak pandangan dari dua Ibu muda yang saya wawancarai pada waktu yang sama, Sabtu (25/9) via WhatsApp.

Devi, Ibu muda yang kini tengah sibuk mengisi hari bersama dua toddler-nya mengungkapkan, “Mengasuh anak itu menyenangkan.”

Sama halnya dengan Mila, “anak itu anugerah, rezeki, kalau kita dikasih anak ya berarti kita dianggap mampu buat jadi orang tua. Rejeki yang memang enggak bisa diukur materi sih, bahagia nya hamil, melahirkan, liat senyum anak. Ahh…. Meskipun dibalik itu semua ada perjuangan yang enggak gampang,” kata Ibu muda yang baru saja melahirkan putri keduanya.

Dibalik rasa senang, mempunyai keturunan bagi seorang muslim rasanya jadi keuntungan tersendiri. Sebab anak yang saleh-salehah⎯selain sebagai generasi penerus dan pejuang agama Allah, anak merupakan ladang amal yang bisa menjadi pahala jariyah ketika orang tua meninggal kelak.

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang berdoa untuknya.” (HR Muslim).

Meskipun dibalik itu semua harus diiringi dengan kesabaran dan keihlasan tanpa batas untuk terus membimbing, mengarahkan, mendidik, dan tentunya menyayangi anak hingga akhir hayat. Merawat anak mungkin memang berat, tapi melalui wawancara kedua Ibu hebat ini meyakinkanku bahwa dikaruniai anak adalah kebagiaan tiada tara. Tak bisa diukur dengan angka dan kata-kata.

Saat disinggung soal memilih anak, apakah ada penyesalan melepas karir?

Keduanya mantap dan sepakat bahwa menjadi ibu seutuhnya adalah hal yang membahagiakan. Meskipun kedepannya mereka masih memiliki rencana untuk bisa kembali berkarir saat keadaan telah memungkinkan. Bagi mereka, menjadi full time mother berarti dapat menyaksikan tumbuh kembang anak secara saksama. Hal ini dinilai terasa menenangkan dan menyenangkan batin.

“Mungkin sekarang prioritas anak dulu, enggak mau kehilangan golden moment sama anak. Kedepannya insyaallah kalau anak sudah ‘gedean’ penginnya kerja lagi. Meskipun anak sudah ‘gede’ juga tetap perlu perhatian. Memang enggak mudah berdamai begitu, tapi percaya deh setelah jadi ibu, turun itu yang namanya ego. Siap mengorbankan kesenangan kita buat orang lain,” jelas Mila.

Salah satu kekhwatiran dari perempuan ketika memiliki anak adalah ketakutan untuk tidak lagi memiliki waktu bagi diri sendiri, tidak punya kesempatan mengembangkan potensi, atau khawatir tidak bisa mendidik anaknya menjadi generasi penerus yang baik. Namun bagi Devi, seorang anak adalah cerminan kita di masa kecil, jadi buatlah semuanya terasa menyenangkan.

“Menjadi orang tua tidak butuh keahlian khusus. Hanya memerlukan tanggung jawab, rasa ingin belajar, dan kesabaran dalam menghadapi anak-anak setiap hari,” kata Devi yang tetap mengakui bahwa memiliki anak adalah hal yang menyenangkan.

Bagi seorang muslim, pasti memahami bahwa memiliki anak berarti investasi dunia dan akhirat. Bahkan proses yang dijalani seorang perempuan mulai dari hamil, melahirkan, menyusui, dan mengasuh anak memiliki pahala yang besar. Bahkan ibu merupakan sosok yang mulia hingga jikalau didapatkan meninggal dalam proses melahirkan, hal itu menjadi ganjaran surga lantaran dianggap mati syahid. Selain itu, doa ibu juga jadi doa yang mustajab bagi seorang anak.

Ingatkah kita pada kisah Al Qomah yang kesulitan menghadapi sakaratulmautnya? Padahal ia seorang ahli salat, ahli puasa, dan ahli ibadah. Hanya karena kemarahan sang ibu yang belum memaafkan kesalahannya, bisa menjadi sesulit itu. Yap! Sebegitu penting dan mulianya seorang ibu dalam hidup ini. Hingga Al Qomah baru mampu melafalkan Laa ilaaha illallah setelah sang ibu memberi maaf dan rida.

Dari kisah tersebut, apakah kita akan menyiakan kesempatan menjadi manusia mulia ini?

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

“Sesungguhnya Allah berwasiat tiga kali kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).

Ya, ibu yang pertama dan disebutkan hingga tiga kali.

Tanpa meributkan tren, tanpa memusingkan banyak teori. Lewat kedua ibu ini seolah membuka mataku lebar-lebar. Betapa sederhananya segala sesuatu yang dilewati jika kita mau mengambil contoh dari sekeliling dan dijadikan pelajaran yang berharga. Menjadi Ibu mungkin memang tidak bisa dilakukan dengan cara yang sempurna, namun kita bisa belajar dari banyak pihak mulai dari yang terdekat. Seperti Ibu kita sendiri, Mertua, Kakak, Saudara, teman, maupun beragam sumber lainnya. Memiliki anak juga bukan keputusan sepihak yang harus ditanggung sendiri. Sehingga dalam mengasuh anak merupakan bagian dari rumah tangga yang bisa dilakukan bersama pasangan. Hal ini tentu akan semakin melekatkan keharmonisan didalamnya.. Selain itu, memiliki anak menjadi bukti bahwa Allah percaya pada kita dan dianggap mampu menjadi orang tua. Sehingga sesulit apa pun rintangannya, insyaallah akan ada jalan keluar yang diberi Allah.

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An’am : 151).

Sebagai tambahan, Mila dan Devi juga memberi pesan kepada pembaca setia INJO.ID yang belum dikaruniai anak. Yakni selalu sabar, perbanyak husnudzon billah dan nikmati waktu bersama pasangan. Belajar mengurus anak dengan ilmu parenting, juga persiapan finansial, dan yang terakhir banyak mohon ampun pada Allah. Sebab selama kita hidup di dunia tidak mungkin tidak memiliki dosa. Bisa jadi ditundanya punya buah hati karena Allah ngasih waktu supaya kita perbanyak ibadah taubatnya.

Catat lagi nih jangan sampai lupa! Takdir Allah itu lebih baik dari sekadar keinginan manusia, dan nikmat yang diturunkan-Nya jauh dari jangkauan akal manusia. Menolak takdir atas pemberian Allah berupa anak, menurutku bukan hal yang baik apalagi saat seseorang mampu untuk punya anak. Sebab jika membayangkan perempuan di luar sana, banyak sekali pasangan yang mendambakan anak, yang artinya Allah belum mengizinkan.

Beberapa kekhawatiran yang (katamu) realistis itu bahkan belum tentu terjadi. Pernah dengar kan istilah, anak itu rezeki? Ya, yakin deh kalau setiap anak itu membawa rezekinya masing-masing. Pun kalau memiliki anak adalah hal yang sulit, banyak juga kok pasangan yang berhasil mendidik dan membesarkan anaknya dengan baik. Sebab Allah beserta persangkaan hambanya.

Maka dari itu, takdir memiliki anak adalah sebuah keindahan. Kalau belum di-qadar yakinlah juga hal itu yang terbaik bagi kehidupan sang pasangan, yang penting tak lupa berdoa selalu diberikan petunjuk baik. So, berpikir dan mempertimbangkan boleh kok! Yang terpenting jangan mendahului qadar, jangan menolak sesuatu hanya karena dihantui bayang-bayang menakutkan, yang padahal bisa saja hal itu mendatangkan kebahagiaan tak terduga.

Redaktur: Prita K. Pribadi