Menyimak Sudut Pandang Agama dan Psikologi: Mengapa Seseorang Perlu Menikah?

Menikah merupakan ibadah yang bisa menyempurnakan separuh agama. Tak hanya itu, menikah dan berumah tangga akan menjadi ibadah terlama bagi seorang pria setelah kewajibannya berbakti kepada orang tua. Sedangkan bagi seorang wanita, ketika ia telah menikah maka kewajiban berbaktinya berpindah kepada suaminya. Mungkin benakmu bertanya-tanya, "Kalau cuma ibadah sunah, kenapa harus menikah?"

Menyimak Sudut Pandang Agama dan Psikologi: Mengapa Seseorang Perlu Menikah?
Pasangan menikah. Sumber: thebridedept.com

Dari pelbagai ibadah sunah, ada satu ibadah yang pelaksanaannya boleh dibilang gampang-gampang susah. Yap! Menikah.

Menikah merupakan ibadah yang bisa menyempurnakan separuh agama. Tak hanya itu, menikah dan berumah tangga akan menjadi ibadah terlama bagi seorang pria setelah kewajibannya berbakti kepada orang tua. Sedangkan bagi seorang wanita, ketika ia telah menikah maka kewajiban berbaktinya berpindah kepada suaminya.

Mungkin benakmu bertanya-tanya, "Kalau cuma ibadah sunah, kenapa harus menikah?"

Secara hukum, menikah memang termasuk sunah sehingga bukan suatu kewajiban yang harus dikerjakan layaknya salat lima waktu atau puasa ramadan. Akan tetapi, menikah merupakan perintah langsung dari Allah. Hal ini bisa kita ketahui dari firman Allah yang berbunyi,

فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ

"Maka nikahilah perempuan yang kamu senangi dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim." (QS. An-Nisa' : 3).

Saya mendapatkan makna dan keterangan ayat di atas dari Ustaz Akri M. Isnan dalam suatu forum pengajian bulanan yang diselenggarakan secara online pada hari Minggu (05/09). Ustaz Akri merupakan Kepala Pondok Pesantren Al-Muflihun yang berdiri di bawah naungan Yayasan Al-Muflihun, Jakarta Utara. Ketika menerangkan ayat tersebut, Ustaz Akri berkata, "Hukum menikah memang sunah, hanya saja hukum sunah yang diterangkan konsekuensinya, berarti ada penguat di situ, sehingga hukum sunah menikah menjadi sunah muakkad."

Konsekuensi yang dimaksud adalah apabila kita mampu menikah namun enggan untuk melaksanakannya, kita akan lebih mudah terjerumus ke dalam perbuatan zalim yaitu pelanggaran terhadap lawan jenis seperti pacaran atau bahkan zina. Naudzubillahi mindzalik. "Maka jika memang mampu, kita harus menikah," imbuh Ustaz Akri.

Jauh sebelum Ustaz Akri menerangkan ayat tersebut, Rasulullah saw sudah terlebih dahulu memerintahkan para pemuda untuk menikah. Sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadis,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ عَلَيْكُمْ بِالْبَاءَةِ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ الْبَاءَةَ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّ الصَّوْمَ لَهُ وِجَاءٌ

"Wahai para pemuda, menikahlah! Karena (nikah) itu lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluan kalian. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah. Sebab puasa itu adalah perisai." (HR. At-Tirmidzi)

Selain itu, Rasulullah saw juga pernah bersabda, “Menikah adalah sunahku, barang siapa yang tidak mengamalkan sunahku berarti bukan dari golonganku.” Beliau bersabda demikian bukan bermaksud untuk menghukumi bahwa orang yang tak mau menikah itu berarti orang yang tidak beriman. Akan tetapi, ini merupakan bentuk konsekuensi lain bagi orang yang tak mau menikah. Ia bukan termasuk golongan yang mengikuti jalan atau sunah nabi. Nah loh, panik gak? Ya panik lah, masa enggak. Hihi.

Lalu, apakah keutamaan menikah hingga Rasulullah SAW bersabda demikian?

Hakikat menikah adalah memiliki pasangan. Keberadaan pasangan yang baik dapat membuat hati seseorang merasa lebih tenteram. Hal ini tercermin dari firman Allah dalam QS. Ar-Rum: 21

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu sekalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Rum: 21)

Guna memperkaya sudut pandang akan hal itu, saya pun bertanya kepada Arif Budi Setiawan, seorang psikolog. Ternyata jawaban dari Mas Arif, sapaan saya kepada beliau, selaras dengan firman Allah sebelumnya. "Secara psikologi, keberadaan pasangan jika dilihat dari tugas perkembangan akan menjadi hal yang baik yang berpengaruh pada kesehatan mental," ujar Mas Arif ketika saya wawancara via forum chat Alodokter pada Jumat (24/09).

“Dalam psikologi, usia 21-40 tahun berada pada tugas perkembangan kemelekatan atau isolasi,” imbuh Mas Arif.

Kemelekatan adalah kondisi dimana kita bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain terutama pasangan. Apabila dalam usia tersebut tidak dapat menjalin hubungan yang melekat secara emosional, maka akan muncul kondisi perasaan sepi atau bisa disebut sebagai bagian dari isolasi diri.

Kemudian manfaat menikah yang lain seperti yang telah disinggung sebelumnya, yaitu bisa menjaga pandangan dan kemaluan. Jika kita lihat dari kacamata agama, aktivitas bercinta yang dilakukan sepasang kekasih dalam koridor rumah tangga merupakan kegiatan yang akan mendatangkan kenikmatan beserta pahala. Tentu saja hal ini bertolak belakang dengan pacaran atau berzina yang justru akan mendapatkan dosa dan berbagai ancaman siksa. Dalam sebuah hadis dari Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah saw bersabda,

وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ قَالَ « أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ »

“Hubungan badan antara kalian (dengan istri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah.” Para sahabat lantas ada yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian akan mendapatkan dosa? Oleh karenanya, jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 1006)

Selanjutnya ketika telah menikah, akan ada kecenderungan untuk memiliki keturunan. Terkait hal ini, Mas Arif menuturkan jika ditinjau dari tugas perkembangan, kehadiran anak akan memberi motivasi kepada orang tua untuk lebih berkembang. Dalam artian berusaha mencari penghasilan lebih dan kondisi finansial lainnya. Mas Arif juga menambahkan,“Jika ditinjau dari tujuan pernikahan, kehadiran anak akan berdampak positif pada keinginan untuk mewariskan sesuatu kepada anak berupa harta benda, perilaku, ilmu, atau bakat tertentu.”

Ketika mendengar penjelasan tersebut, pikiran saya langsung tertuju pada keberadaan anak yang shalih/shalihah. Pasalnya kehadiran anak yang shalih/shalihah merupakan pewaris sekaligus ladang jariyah bagi orang tua. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Ketika seorang manusia meninggal dunia, maka putuslah amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat baginya atau anak shalih yang mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim no. 3084).

Hadis di atas memiliki makna tersirat yang menyebutkan bahwa keutamaan ketika telah menjadi orang tua adalah bisa memperoleh tiga hal tersebut sekaligus. Ketika masih hidup, ia bisa beramal jariyah dengan shodaqoh fii sabilillah. Ia juga bisa memberi ilmu yang bermanfaat kepada orang lain terutama anaknya. Kemudian anak itu tumbuh menjadi anak yang shalih/shalihah dan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya. Inilah rangkaian keutamaan yang bisa didapatkan dari pernikahan. Siapa yang tak tergiur dengan pahala yang terus mengucur meski raga telah terbujur di dalam kubur? Masyaa Allah.

Oleh sebab itu, jika secara fisik, mental, dan finansial sudah merasa siap untuk menikah serta ada calon pasangan yang memiliki visi dan misi yang sefrekuensi, maka akan lebih baik jika segera melangsungkan pernikahan. "Jika sudah siap segalanya dan keluarga juga mendukung sehingga memungkinkan pernikahan untuk dilakukan, hal apa yang membuat tidak menikah?" kata Mas Arif.

Lantas saya bertanya kepada Mas Arif, “Bagaimana dengan seseorang yang sudah memasuki fase nikah, dari segala aspek pun sebenarnya dia sudah siap untuk menikah, namun lebih memilih memfokuskan diri untuk meraih kesuksesan karir atau pendidikan terlebih dahulu sehingga menunda pernikahan?”

Mas Arif justru mengatakan bahwa pernikahan yang sehat tentu akan menjadi pendukung kesuksesan karir. Keberadaan pasangan yang baik juga dapat membantu meringankan segala hal yang akan dilalui dalam setiap sendi kehidupan. “Pernikahan bukanlah hal yang menghambat karir seseorang,” pungkas Mas Arif.

Jika kita cermati, apa yang disampaikan oleh Mas Arif ini merupakan implementasi dari salah satu dalil yang berbunyi, “Carilah rezeki dengan cara menikah.” Sebab memang demikian adanya, banyak orang yang justru meraih kesuksesan setelah berkeluarga. Coba sesekali tengok kerabat terdekatmu yang sudah menikah, bagaimana keadaan mereka sebelum dan setelah menikah? Insyaallah akan condong pada keadaan yang lebih baik dengan catatan pernikahan tersebut merupakan pernikahan yang baik pula.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyelipkan sepenggal sabda Rasulullah saw yang insyaallah bisa menjadi pemacu untuk segera menikah.

إِنَّ سُنَّتَنَا النِّكَاحُ شِرَارُكُمْ عُزَّابُكُمْ وَأَرَاذِلُ مَوْتَاكُمْ عُزَّابُكُمْ

"Sesungguhnya sunah kami adalah menikah, orang yang paling buruk di antara kalian adalah orang yang masih bujang, dan mayat kalian yang paling hina adalah orang yang meninggal dalam keadaan masih bujang." (HR. Ahmad)

Teruntuk teman-teman INJO.ID yang masih jomlo, apakah kita mau meninggal dalam keadaan yang dikatakan hina oleh Rasul? Oleh sebab itu, jadikanlah pernikahan sebagai salah satu tujuan dalam menjalani kehidupan.

Pada dasarnya, praktik pelaksanaan pernikahan memang tak semudah memasukkan wish list ke dalam keranjang belanja, namun juga tak sesulit check out belanjaan ketika akhir bulan. Sebab menikah itu Allah yang memerintahkan, maka Allah pula yang akan bertanggung jawab untuk memberikan pertolongan. Semoga teman-teman INJO.ID yang hendak menikah diberikan kemudahan, kelancaran, dan kebarokahan. Aamiin. Yowis, yuk nikah yuk!

Redaktur: Prita K. Pribadi