Menyongsong Indonesia Emas! Merdeka Bukan Zona Nyaman, Justru Pemacu Zaman dan Tantangan

Pernah enggak sih kalian dengar "Indonesia Emas 2045"? Yap, hari di mana Indonesia tepat 100 tahun merdeka. Pada tahun 2045, Indonesia memiliki bonus demografi. Artinya, sekitar 70 persen dari jumlah penduduk Indonesia ada dalam usia produktif (15-64 tahun). Selaras dengan kata bonusnya, hal ini bisa menjadi bekal yang baik untuk menghadapi tantangan dan mewujudkan Indonesia yang berkilau. So, ini dia 3M ala INJO.ID untuk turut berkontribusi dalam Indonesia Emas 2045!

Menyongsong Indonesia Emas! Merdeka Bukan Zona Nyaman, Justru Pemacu Zaman dan Tantangan
Dirgahayu Republik Indonesia. Sumber: Canva

Wah enggak terasa ya, tiba-tiba kita sudah ada di bulan Agustus saja! Bicara soal Agustus, pasti sudah enggak heran lagi dengan bulan yang kental akan nuansa kemerdekaan ini. Momentum suka cita turut dirayakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Merasa bersyukur pula, capaian 76 tahun lamanya Indonesia telah merdeka. Kalau kita coba kilas balik, nuansa bahagia ini tak luput dari hasil keringat dan jerih payah para pejuang yang rela menyongsong kemerdekaan bagi tanah air kita. Tidak peduli seberapa deras peluh di dahi, para pejuang rela mati-matian membela dan memperjuangkan kemerdekaan. Tenaga, harta, bahkan nyawa turut dipertaruhkan untuk kepentingan bersama. Sampai akhirnya negara ini bisa merdeka, dengan leluasa kita menghirup segarnya udara kebebasan tanpa dibayangi oleh perasaan ketakutan akibat masa penjajahan. Tentu kenikmatan ini juga, tak lepas dari izin Allah Swt.

By the way, kemerdekaan yang sejak tadi dielu-elukan rasanya seperti zona nyaman bukan? Maksudnya, kita hidup di zaman yang bisa dibilang “serba enak”. Misalnya, di zaman dulu yang bisa mencicipi bangku pendidikan hanya kaum elite dan para bangsawan. Pribumi dibuat tak berdaya akan adanya peraturan-peraturan dari penjajah yang mau tak mau harus mereka telan. Dalam menjalankan syariat agama pun, para pendahulu kita dibebani keterbatasan, misalnya saja para wanita yang tidak diperbolehkan memakai jilbab saat bekerja. Kalau sekarang sih, siapa pun sudah bisa mencicipi nikmatnya kebebasan dalam hal duniawi mau pun hal yang menyangkut syariat agama.

Zaman sekarang, kita bisa mendapatkan pendidikan, juga bisa leluasa menjalankan syariat agama sesuai tuntunan yang diajarkan Nabi Muhammad. Tapi sebetulnya kemerdekaan ini enggak boleh kita jadikan sebagai zona nyaman loh! Generasi muda bangsa, enggak bisa terus-terusan terlena dalam nikmatnya rebahan, padahal diam-diam sedang dipacu zaman dan tantangan. Mari kita buka mata lebar-lebar… Waktu terus bergulir, zaman selalu berganti, dan tantangan silih berganti akan menghampiri. Bukankah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sudah pernah bersabda soal tidak ada zaman selain zaman tersebut akan terus menghadapi kerusakan?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنْ الْحَجَّاجِ فَقَالَ اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zubair bin ‘Adi mengatakan: pernah kami mendatangi Anas bin Malik, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang ulah para jamaah haji. Maka dia menjawab: “Bersabarlah, sebab tidak lah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk dari padanya, sampai kalian menjumpai Rabb kalian. Aku mendengar hadis ini dari Nabi kalian Shallallahu Alaihi wasallam.” (HR. Bukhari).

Hadis di atas seakan jadi tamparan untuk para pemuda-pemudi generasi penerus bangsa. Walau pun zaman akan semakin rusak (menurut akhlak), namun enggak bisa disangkal kita akan hidup selaras dengan perubahan zaman. Masa iya kita cuma bakal diam dan menonton kerusakan zaman yang menggerus bangsa dan akhlak keimanan kita?

Lantas, kita harus ngapain?

Seperti yang sudah disinggung di atas, kemerdekaan bukan berarti kita terbebas dari segala tantangan, justru kita harus siap dengan tantangan baru di zaman yang akan datang. Tantangan bukan lagi datang dari lucutan senjata dan kejamnya masa penjajahan. Justru kita harus siap hadapi perubahan zaman yang menguji iman dan akhlak.

Dalam menjalani itu semua, pernah enggak sih kalian dengar "Indonesia Emas 2045"? Yap, hari di mana Indonesia tepat 100 tahun merdeka. Memangnya apa yang spesial? Pada tahun 2045, Indonesia memiliki bonus demografi. Artinya, sekitar 70% dari jumlah penduduk Indonesia ada dalam usia produktif (15-64 tahun). Tentu bonus demografi ini harus dimanfaatkan bersama dengan baik. Sebab jika tidak, akan membawa masalah sosial seperti kemiskinan, kualitas kesehatan yang rendah, pengangguran, bahkan bisa meningkatkan kriminalitas. Selaras dengan kata bonusnya, hal ini bisa menjadi bekal yang baik untuk menghadapi tantangan dan mewujudkan Indonesia yang berkilau. So, ini dia 3M ala INJO.ID untuk turut berkontribusi dalam Indonesia Emas 2045!

1. Memegang Teguh Nilai-nilai Integritas

Mungkin sebagian dari kita belum mengetahui apa itu nilai-nilai integritas dan seberapa pentingnya. Dikutip dari kamus kompetensi perilaku KPK, integritas adalah bertindak secara konsisten antara apa yang dikatakan, dengan tingkah lakunya sesuai nilai-nilai yang dianut. Ada 9+1 nilai-nilai integritas yang harus dimiliki setiap generasi penerus bangsa, diantaranya: jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, adil, dan sabar. Melihat deretan sikap penting ini dan bonus demografi tadi, bisa dibayangkan, bagaimana nasib bangsa ini bila generasi penerus bangsanya tidak menyadari betapa penting nilai-nilai integritas? Misalnya saat nilai kejujuran diabaikan, tindak korupsi bisa saja jadi hal yang lumrah. Mulai hilang rasa peduli, dengan tega menggelapkan dana demi gaya hidup foya-foya. Kalau sudah begini, kehancuran bangsa tampak jelas di depan mata. Naudzubillahi mindzalik…. 

Menguasai nilai-nilai integritas, maka bisa meningkatkan keimanan dan budi luhur kita. Maka dari itu, mari kita terbuka pada nilai tersebut melalui tindakan pembiasan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab integritas enggak bisa ujug-ujug kita miliki selain lewat kebiasaan positif.

2. Memperkaya Diri dengan Soft Skills

Enggak bisa ditampik kita hidup di zaman yang serba dinamis, segala perubahan terasa begitu cepat. Mau tidak mau, kita pun harus menyesuaikan diri dengan segala perubahan yang ada. Bagaimana supaya kita siap menghadapi perubahan yang ada? Yaps! Memperkaya diri dengan soft skills! Catat nih soft skill apa saja yang harus dimiliki. Pertama, dimulai dari kemampuan berkomunikasi atau communication skill. Kemampuan ini diperlukan untuk berbicara secara tepat dengan berbagai karakter orang, mendengarkan secara efektif, juga untuk mengemukakan ide dengan tepat. Kedua, yang enggak kalah penting yaitu kemampuan berpikir kritis. Kemampuan ini memudahkan kita untuk mengobservasi masalah yang ada, juga untuk menemukan jalan keluar dari permasalah tersebut. Last but not least, yaitu kemampuan melek teknologi! Kemajuan teknologi sudah sangat memudahkan mobilitas kita, tapi kalau kita nggak bisa memanfaatkannya, ya sama saja bohong!

Hal-hal itu punya peran penting bagi kemajuan bangsa sebab kualitas diri pun turut meningkat. Jika semua itu perlahan dipelajari dan dikuasai, menuangkan ide dan pengambilan keputusan akan menjadi output penting bagi negeri tercinta kita.

3. Memiliki Kepahaman Agama

Kepahaman agama bukan hanya sebagai penjagaan diri dari dosa dan maksiat, melainkan bekal yang wajib dimiliki bagi setiap generasi penerus yang akan memimpin bangsa di masa mendatang. Sebab sesuai sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam,

فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلَاكًا لَهُ وَلَهُمْ (رواه الدارمي)

“Barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya atas dasar kepahaman agamanya maka hiduplah bagi pemimpin itu dan bagi kaumnya. Dan barangsiapa yang dijadikan pemimpin oleh kaumnya atas dasar selain kepahaman agamanya maka rusak bagi pemimpin itu dan bagi kaumnya.”

Jelas sekali hadis di atas menyebutkan, bahwasanya bila seseorang yang kita jadikan sebagai pemimpin tidak memiliki kepahaman agama, maka rusak bagi kaum tersebut yang menjadikannya sebagai pemimpin. Tentu kita tidak mau kan bila kelak bangsa ini terjerumus ke dalam kerusakan karena pemimpinnya tidak memiliki kepahaman agama? Mari bekali diri kita masing-masing dengan kepahaman agama untuk menghadapi tantangan dan perubahan zaman!

Seiring dengan bertambahnya usia negara kita tercinta, bukankah ini saatnya kita juga semakin giat untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik? Upaya 3M di atas, mari coba implementasikan dari sekarang agar persiapan Indonesia Emas 2045 sukses dan berkah diikuti dengan tingkatan keimanan kita. Ingat! Merdeka bukan zona nyaman, justru kita sedang dipacu zaman dan tantangan. Jangan terlena dengan segala kemudahan yang ada, karena sejatinya tantangan tetaplah ada, terus mengintai kita. Selamat memperingati hari jadi Republik Indonesia ke-76!

Merdeka!

Redaktur: Prita K. Pribadi