Merdeka dari Penjajahan kepada Diri Sendiri, Sudahkah Istiqamah?

Pentingnya kemerdekaan diri pada bagi diri kita, dilakukan agar terbebas dari segala bentuk penguasaan nafsu atas diri dan mampu mengendalikannya sehingga bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Semangat kemerdekaan selayaknya terus tertanam dalam diri kita, memberi kesempatan kita untuk merefleksikan diri supaya menjadi pribadi merdeka karena merdeka adalah salah satu fitrah manusia.

Merdeka dari Penjajahan kepada Diri Sendiri, Sudahkah Istiqamah?
ilustasi seseorang sedang merenung. Sumber: unsplash.com

Bulan lalu, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke-76 tahun, dimana kemeriahan hari kemerdekaan lalu dapat kita rasakan. Mulai dari mengikuti upacara bendera 17 Agustus melalui aplikasi meeting atau mengikuti lomba tujuh belasan di rumah saja,  seperti tarik tambang online melalui Instagram story akun-akun tertentu. Di balik hingar bingar keseruannya, apakah sebenarnya kita yakin bahwa diri ini sudah benar-benar merdeka? Apakah semangat kemerdekaan itu masih ada? Atau jangan-jangan sudah mulai memudar?

Berdasarkan KBBI arti dari merdeka adalah bebas, tidak terikat, leluasa, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dan lain sebagainya. Ringkasnya, seseorang dikatakan merdeka apabila individu tersebut tidak bergantung dari adanya hal yang mengukung atau membelenggu dirinya, Untuk mencapai sebuah kemerdekaan pada masa sekarang ini, tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk memperjuangkan kemerdekaan. Namun, hal paling mendasar yang dapat kita lakukan sebagai penerus bangsa adalah dengan mencoba perlahan memerdekakan diri dari kebiasaan yang menghambat dan jauh dari kata merdeka.

Banyak hal yang menyebabkan seseorang masih terbelenggu dan terjajah oleh kebiasaan yang menghambat dirinya. Salah satunya, muncul akibat gairah atau nafsu yang ada pada dirinya dan menimbulkan kebiasaan buruk tersebut terus berulang akibatnya timbul perasaan takut, gelisah, dan rendah diri. Serta menjadikannya individu yang tidak merdeka atas dirinya sendiri.

Ditambah lagi pola pikir dan pengaruh dari orang sekitar yang menyebabkan kita susah sekali untuk memerdekakan diri sendri. Misalnya, ketika seseorang mengusahakan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang muslimah dengan menggunakan jilbab namun ada saja timbul perasaan ragu dan takut seperti: “jilbab-in hati dulu aja kali ya”, “cocok gak ya, tapi ntar dikatain gimana”, “gak deh, ntar gerah”, “ntar dulu deh, abis nikah nunggu hidayah”, dan perkataan lain senada itu. Bahkan orang sekitar pun ikut mengomentari akan niat baik kita, sehingga kita menjadi terpengaruh.

Contoh lain, saat kita tengah asik berada pada zona nyaman sehingga membuat kita menunda akan kewajiban kita seperti sholat dan mengaji. Bahkan meninggalkan dengan dalih “nanti lah nanggung, dikit lagi”, “masih asik ih, satu level lagi” . Hal ini, tentunya akan sangat berpengaruh pada time management kita sehari-hari yang akan terbentuk kebiasaan menunda yang menjauhkan kita dari kata merdeka.

Tak hanya itu, self blaming juga menjadi perkara yang sering menjerat. “Kalau aku ga ngelakuin itu, ga akan kejadian seperti ini”. Self blaming atau menyalahkan diri akan perbuatan di masa lalu, dapat berakibat pada sulitnya kita untuk mengambil suatu keputusan pada diri sendiri. Tentunya akan menghambat kita untuk menjadi manusia yang merdeka dan seolah kita menjajah diri kita dengan kata-kata yang negatif.

Pentingnya kemerdekaan diri pada bagi diri kita, dilakukan agar terbebas dari segala bentuk penguasaan nafsu atas diri dan mampu mengendalikannya sehingga bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Semangat kemerdekaan selayaknya terus tertanam dalam diri kita,  memberi kesempatan kita untuk merefleksikan diri supaya menjadi pribadi merdeka karena merdeka adalah salah satu fitrah manusia.

اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ -

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Q.S. Al A’raf 172)

Disebutkan dalam tafsir Al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 172,  bahwa  sesungguhnya manusia yang lahir dari kandungan ibunya ke dunia ini seluruhnya merupakan makhluk merdeka, manusia diciptakan Allah swt dengan fitrahnya yang bersih, yaitu berakidah dan bertauhid dalam arti kata manusia awal penciptaan merdeka.

Lalu, bagaimana supaya kita bisa memerdekakan diri dan terbebas dari kebiasaan buruk?

Hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menjadikannya terlihat dengan sebuah aksi lewat menumpuk kebiasaan yang diawali dengan niat dan merancang rencana-rencana kecil.

Kamu bisa menuliskan rencanamu pada sebuah notes dengan rumus menumpuk kebiasaan ala James Clear yang tertuang dalam buku best seller miliknya, Atomic Habits. Rumusnya yaitu “Setelah [KEBIASAAN SEKARANG], aku akan [KEBIASAAN BARU]” sebagai contoh :

  1. Setelah kelas daring di pagi hari usai, aku akan langsung berberes meja belajar dan melaksanakan sholat duha.
  2. Begitu duduk dan siap memulai kelas daring, aku akan mengucapkan satu rasa syukur atas apa yang sudah terjadi.
  3. Setiap jam 3 pagi, aku akan berusaha membiasakan sholat tahajjud seminggu dua kali.
  4. Usai mendapatkan ilmu, aku akan mengupayakan berhijab dengan istiqamah.

Dengan mempraktekkan rumus tersebut, setiap harinya kamu dapat melihat perubahan-perubahan kecil yang ada pada dirimu. Tak perlu buru-buru melahirkan perubahan besar dan drastis, pelan-pelan saja agar tidak membebani diri. Dengan begitu, kamu akan jauh lebih termotivasi untuk terus melakukan hal-hal baik dan perlahan bisa mengalahkan nafsu diri.

Tak berhenti sampai di situ, jika strategi tersebut sudah dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan, jangan lupa untuk tetap konsisten atau istiqamah dalam melakukannya. Seorang yang istiqamah akan lebih mudah fokus dan tidak berbelok pada tujuan awalnya untuk menjadi lebih baik. Apabila istiqamah sudah melekat pada diri seseorang, hal tersebut akan melahirkan kepercayaan diri yang kuat, memiliki integritas, mampu mengelola stres, dan tetap punya semangat dalam melakukannya.

Keistimewaan bagi seseorang yang istiqomah dalam menjadi lebih baik, disebutkan  dalam quran surat Al-Ahqaf ayat 13-14 :

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ(13)

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.

اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۚ جَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Mereka itulah para penghuni surga, kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.

Jaminan surga dan hilangnya perasaan negatif merupakan sebuah keistimewaan bagi mereka yang mampu istiqamah. Oleh karena itu, yuk sama-sama terus membangun semangat kemerdekaan! Kita  belajar memerdekakan diri dengan menghilangkan kebiasaan buruk yang berasal dari nafsu diri agar terus meningkatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah.

Redaktur : Dyah Ayu N. Aisyiah