Metode Montessori: Menciptakan Hak Merdeka Anak untuk Didengarkan Sedari Lahir

Zaman semakin berubah, kebutuhan anak pun semakin dinamis. Pola asuh yang kita terima pada saat kecil belum tentu bisa diterapkan pada anak kita. Bahkan, bisa jadi sudah tidak relevan. Keuntungan untuk orang tua muda di zaman milenial ini adalah mudahnya akses dalam mencari ilmu parenting serta cara penerapannya. Namun kekurangannya, terlalu banyak informasi yang didapat justru membuat tidak percaya diri ketika realitanya tak seindah teori. So, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bagaimana?

Metode Montessori: Menciptakan Hak Merdeka Anak untuk Didengarkan Sedari Lahir
Model belajar dari metode Montessori. Sumber: islamicmontessori.org

Mendidik anak adalah PR terpanjang dan terberat orang tua dalam hidupnya. Karena selain waktu yang dibutuhkan sangat lama, dampak yang ditimbulkan juga sangatlah besar. Apalagi kalau sampai orang tua lalai, kemungkinan-kemungkinan terburuk bisa sampai terjadi. Hal itu tak hanya akan merugikan diri anak itu sendiri, melainkan banyak orang. Terlebih, orang pertama yang dimintai pertanggungjawabannya di akhirat adalah kedua orang tuanya. Alangkah baiknya, sebelum memutuskan untuk menjadi orang tua, kita perlu mempersiapkan diri beserta ilmu dalam mendidik.

Zaman semakin berubah, kebutuhan anak pun semakin dinamis. Pola asuh yang kita terima pada saat kecil belum tentu bisa diterapkan pada anak kita. Bahkan, bisa jadi sudah tidak relevan. Keuntungan untuk orang tua muda di zaman milenial ini adalah mudahnya akses dalam mencari ilmu parenting serta cara penerapannya. Namun kekurangannya, terlalu banyak informasi yang didapat justru membuat tidak percaya diri ketika realitanya tak seindah teori. So, kita sebagai orang tua atau calon orang tua harus bagaimana?

Ada banyak metode pendidikan di dunia ini, sepaket dengan lebih dan kurangnya. Hal pertama yang perlu dilakukan, riset dari sumber terpercaya untuk menentukan pola asuh atau pendidikan yang cocok untuk anak. Tentu, tetap memerhatikan nilai-nilai yang diyakini pada masing-masing keluarga.

Nah, salah satu yang sedang populer di kalangan ibu muda saat ini adalah metode Montessori (dalam bahasa inggris, Montessori Education). Secara garis besar, metode ini memposisikan anak sebagai individu yang merdeka dan independen selayaknya orang dewasa. Maksudnya, sejak anak itu baru lahir, kita harus bersikap penuh hormat terhadapnya, sama seperti kita hormat kepada sesama orang dewasa. Pendapatnya dihargai, celoteh serta argumennya ditanggapi, dan bahkan di kala kita melakukan kesalahan, kita tak sungkan untuk meminta maaf. Namun sayangnya, saat ini konflik yang terjadi antara orang tua dengan anak masih banyak terjadi. Salah satu pemicunya bisa jadi adalah kurang tepatnya cara berkomunikasi.

Untuk itu, alangkah baiknya kita sebagai orang tua mewujudkan kemerdekaan pada anak untuk berekspresi. Biarkan mereka merdeka untuk berpendapat, didengarkan ketika bercerita, dan dipahami ketika butuh waktu untuk ditemani. Orang tua juga pernah menjadi seorang anak, pasti tahu betapa tidak menyenangkannya merasa diabaikan, juga harus selalu mengangguk untuk hal yang tidak dikehendaki. Maka dari itu, mari saling memahami isi hati.

Sebagai gambarannya, mari berkaca pada Nabi Ibrahim yang sering disebut sebagai kekasih Allah, diperintah untuk mengurbankan anak lelaki kesayangannya, Nabi Ismail.  Namun, ia meminta pendapat terlebih dahulu. Berkomunikasi, jujur, termasuk meminta maaf. Hingga Allah menunjukkan kepada Ibrahim bahwa Ismail adalah seorang hamba yang sabar. Selain bersedia dan taat kepada Allah, ia tahu bahwa ayahnya pun turut mentaati Allah.

Begitu kurang lebih peran asuhan dari metode Montessori. Lebih lanjut pembelajaran yang diterapkan Montessori di dalam rumah, anak-anak difasilitasi kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kemampuan anak. Diberikan tantangan yang terlalu susah dari kemampuannya, juga tak terlalu mudah. Bahan-bahan yang diperlukan biasanya dikumpulkan dalam sebuah nampan dan bisa dijangkau oleh anak. Hal ini membuat anak mudah untuk mengambil peralatan itu secara mandiri. Orang tua berperan pasif dalam menemani kegiatan ini. Tugas orang tua adalah untuk mengobservasi kemampuan anak dari kegiatan yang dilakukannya. Hal ini bertujuan untuk memberikan kebebasan anak dalam menemukan potensi dan membuat anak lebih percaya diri dengan pilihan apapun yang mereka ambil.

Kesalahan pun pasti akan dilakukan oleh anak dalam setiap prosesnya. Namun, justru hal ini lah yang menjadi bekal paling berharga untuk mereka. Mengetahui bahwa segala sesuatu yang dikerjakan pasti akan ada konsekuensinya. Begitu juga sebagai manusia yang hidup sekali di dunia ini. Orang tua mulai bisa menyisipkan pendidikan agama dari kegagalan demi kegagalan yang mereka lewati. Semisal memaklumi kesalahan dan kegagalan yang dilakukan anak, sebab setiap manusia tak melulu benar. Hal ini sejalan dengan salah satu hadis yang bisa dijadikan bekal ilmu untuk anak.

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi 2499, Shahih at-Targhib 3139).

Hal tersebut akan membuat anak tidak merasa rendah diri atas kesalahan yang telah dilakukan. Hingga mencegah rasa menyesal atau khawatir berlebihan yang bisa saja menjadikan penyakit bagi anak. Setelah itu, jangan lupa tanamkan bahwa sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat, serta belajar dari kesalahannya.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114).

Menurutku, penerapan pendidikan ini amat penting dimulai sejak anak terlahir ke dunia hingga usianya menginjak enam tahun. Di rentang waktu ini, anak sedang dalam periode sensitif dalam menyerap yang diajarkan oleh lingkungannya. Maka dari itu, memberikan kemerdekaan mereka untuk bereksplorasi disertai dengan pemahaman yang sesuai dengan Al Qur’an dan Hadis adalah sebuah kombinasi hebat bila bisa diterapkan di setiap rumah-rumah generasi penerus. Sesuai dengan sabda Rasulullah saw,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Sementara itu hal yang dibahas seputar metode Montessori, kini saatnya berbagi di kolom komentar yuk! Metode apa dan bagaimana yang kamu terapkan untuk si buah hati?

Redaktur: Prita K. Pribadi