Modal Bakat Corat-coret, Jadi Ladang Maisyah Lewat Tiktok

"Dari yang awalnya range hargaku cuma 50-80 ribu per satu ilustrasi, dan pemasukan bulanan yang gak sampai satu juta, tapi semenjak karya-karyaku mulai banyak dilihat orang, aku mulai punya nama. Range hargaku pun mulai naik, dan saat ini aku bisa dapat puluhan juta tiap bulannya,” terang Nanda.

Modal Bakat Corat-coret, Jadi Ladang Maisyah Lewat Tiktok
Sosok Nanda M. H. yang sedang menggambar ilustrasi. Sumber: Dokumen pribadi Nanda

Apa sih yang terlintas di kepalamu saat mendengar aplikasi Tiktok? Mungkin kamu mengenal Tiktok adalah tempat berkumpulnya pemuda-pemudi yang hobi joget, apa-apa harus pake tarian─mau nyampein pendapat sambil joget, ngasih edukasi pun joget. Yang akhirnya seringkali menimbulkan banyak pro-kontra dari warganet. Tak sedikit yang jadi penggemar, namun tak sedikit pula yang anti dengan aplikasi satu ini. Kalau kamu tim mana nih?

Tiktok, sebuah jejaring sosial berasal dari Tiongkok yang tengah digandrungi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yiming, aplikasi ini merupakan platform untuk membuat video musik dalam durasi pendek. Walaupun sejatinya aplikasi ini sudah lumayan lama, namun kiprahnya di Indonesia baru tercium beberapa tahun belakangan ini.

Per April 2021, Tiktok telah diunduh oleh 100 juta lebih pengguna diseluruh dunia. Pesatnya perkembangan ini turut dimanfaatkan oleh seorang wanita kelahiran Bali yang tengah menetap di kota Udang, Sidoarjo. Nanda M. H. namanya, setelah lama memperhatikan sepak terjangnya di media sosial sebagai freelance ilustrator, akhirnya tim injo.id berkesempatan mewawancarainya via WhatsApp, pada Sabtu (03/04).

Perjalanan karir Nanda di dunia gambar dimulai saat ia pertama kali mencoba membagikan karya-karyanya di media sosial Instagram miliknya. Tak disangka, ternyata ada yang tertarik untuk menggunakan jasanya bermodalkan melihat unggahannya saja. “Iya, di 2018 itu aku iseng upload karya-karya gambaranku di Instagram, terus gak tahu kenapa tiba-tiba ada yang DM aku untuk order personal.” Tak lama, karyanya bahkan dilirik oleh seorang penulis buku anak asal Indonesia untuk diajak kolaborasi. “Sejak itu aku mulai punya pendapatan dari menjadi ilustrator buku anak juga,” cerita Nanda mengenang masa ia memulai karir profesionalnya.

Kolaborasi pertama Nanda dengan penulis buku anak. Sumber: instagram.com

Wanita berumur 27 tahun ini mengilhami akan pengalamannya, dari keisengan semata ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar jika didalami dengan serius. Mulai saat itu, ia berpikir bagaimana cara agar terus berkarya dan dapat dinikmati oleh sebanyak-banyaknya orang.

Saat itu Instagram menjadi medium utama yang punya nilai powerfull bagi Nanda. Penggunaan hashtag yang pas dan sesuai dengan apa yang ingin ditawarkan, memungkinkan hasil karya dilihat oleh ratusan juta pengguna Instagram yang tersebar di berbagai negara. Terbukti dengan kesungguhan yang selalu konsisten berbagi karya, lambat laun followers akun tempat dimana ia menuangkan semua coretan-coretan indahnya itu semakin bertambah, pesanan dari luar negeri pun turut meramaikan akun bernama @nanmah_art ini. "Ada yang dari Prancis, India, Amerika, Austria, Australia, tapi kebanyakan dari Amerika", jelasnya.

Pesanan luar negeri pertama Nanda, yaitu dari Amerika. Sumber: instagram.com

Lautan media sosial yang luas dengan berjuta karya yang diunggah, hashtag serupa akan selalu ada. Di situ pula akan muncul ragam karya dengan masing-masing keunikan tangan para kreator. Demi memunculkan perbedaan tersebut, wanita lulusan Universitas Surabaya jurusan Pendidikan Seni Rupa ini berhasil menemukan kuncinya. Terinspirasi dari kartun-kartun serial Disney, Nanda konsisten menggambar ilustrasi kartun. Semua yang ingin menggunakan jasanya, jadi punya gambaran akan seperti apa hasil ilustrasinya nanti. Berkat kemampuan dan bakat menggambarnya, foto biasa akan disulap menjadi kartun ala serial Disney. Siapa yang gak penasaran kalau wujud kita diubah jadi kartun seperti itu? Nah, itulah yang coba Nanda tawarkan.

Memasuki 2020, media sosial turut bersaing untuk jadi nomor satu, Tiktok menjadi salah satu media yang naik daun hingga saat ini. Kepintaran Nanda dalam menangkap peluang, membuat ia melirik aplikasi yang sedang viral ini. Walaupun awalnya sempat kebingungan bagaimana cara memasarkannya, sebab Tiktok sebuah platform yang sharing video musik, bukan gambar.

"Sempat ikutin tren-tren alaynya juga sih Mas, karena belum tahu juga gimana mau bagiin karya-karya gambarku di aplikasi itu. Sempat dimarahin Ibu juga karena suka buat video-video gak jelas di sana. Cuma aku bilang aku lagi coba mendalami dulu, cari-cari referensi yang nantinya bakal aku gunain buat sharing hasil art-art aku," cerita Nanda pada injo.id.

Melewati berbagai tahap adaptasinya, Nanda semakin mantap memfokuskan diri untuk berbagi karya dalam bentuk video. Malahan, beberapa kali unggahannya itu sudah mencicipi For Your Page (FYP) di Tiktok, yang artinya video tersebut telah dijadikan rekomendasi, otomatis lebih banyak lagi pengguna awam yang mengunjungi akun Tiktok Nanda. Mulai paham dengan algoritma aplikasi ini, lagi-lagi Nanda kedatangan followers yang tak sedikit dari mana saja.

Tahun ini tepatnya sejak 3 April 2021, seolah menjadikan Nanda seorang kreator terkenal sesungguhnya. Pasalnya ada satu video yang masuk FYP lagi. Bukan konten yang ia sebut ‘alay’, melainkan video ilustrasi buah dari tangan ajaibnya. Video itu telah mencapai lebih dari 1,3 juta penonton. Wow! Bahkan jumlah ini setara dengan jumlah penduduk di Kota Semarang di 16 kecamatan dan 117 kelurahan loh, hehe. Sampai artikel ini diunggah, ia masih disibukkan akibat kebanjiran pesanan.

Konten Tiktiok Nanda yang mencapai 1,3 juta views per April 2021. Sumber: Dokumen pribadi Nanda

Diikuti banyak peminat, diakui Nanda harga per ilustrasi jadi semakin jauh meningkat. Walaupun jasa seperti ini tidak punya penghasilan ‘pasti’ setiap bulannya, melalui Tiktok Nanda bersyukur atas tambahan peluang, dimana karyanya bisa semakin banyak dilihat khalayak. "Dari yang awalnya range hargaku cuma 50-80 ribu per satu ilustrasi, dan pemasukan bulanan yang gak sampai satu juta, tapi semenjak karya-karyaku mulai banyak dilihat orang, aku mulai punya nama. Range hargaku pun mulai naik, dan saat ini aku bisa dapat puluhan juta tiap bulannya,” terang Nanda.

Sampai di paragraf ini, bagaimana perspektifmu tentang Tiktok? Menurutku, semua platform media sosial hanyalah sebuah alat, akan menjadi baik atau buruk tergantung penggunanya. Sejenak kita flashback tentang Tiktok dua tahun lalu, ada banyak kecaman dan seruan blokir dari berbagai pihak bahkan oleh perangkat Negara.

Berdasarkan artikel dari detikcom, Ridwan Kamil, mantan Wali Kota Bandung menyampaikan dukungan pemblokiran yang dilakukan oleh Kominfo. "Jadi saya mendukung Kominfo memblokir aplikasi Tiktok ya, yang tidak banyak faedahnya itu. Lebih baik energi kita diarahkan ke hal yang positif ya, seperti mem-posting hal-hal yang produktif yang inspiratif ketimbang hanya sia-sia hiburan," kata RK di kantor PKB, Jl. Raden Saleh, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

Berbanding terbalik, saat ini Tiktok telah bertransformasi menjadi platform yang sangat powerfull, baik sebagai konten hiburan atau pun tempat pemasaran bisnis. Demikian bisa ditarik kesimpulan, mengapa konten Tiktok dahulu banyak mendapat kecaman? Ya, mayoritas penggunanya memanfaatkan Tiktok sebagai ajang "pamer badan" guna mendapatkan atensi semata. Konten itulah yang memancing anggapan-anggapan negatif tentang keberadaan aplikasi ini. Sebutan "gak guna", "gak berfaedah" pun tak sedikit dilayangkan.

Walaupun sampai saat ini masih ada konten-konten semacam itu, namun konten yang bermanfaat lagi menghibur juga jauh lebih banyak. Tiktok tak lagi dipandang menjadi platform yang hanya menampilkan lenggak-lenggok berunsur pornografi, melainkan terdapat banyak juga konten edukasi layaknya Nanda.

Semoga cerita Nanda dan tangan ajaibnya ini bisa menjadi salah satu referensimu dalam memanfaatkan media sosial ke arah yang lebih berguna, terlebih jika kamu punya bakat dan kemampuan yang bisa kamu "jual". Gunakanlah segala media dengan niat yang baik agar kamu bisa melihat peluang untuk menyimpan karya-karyamu itu. Tak ada sebuah platform yang sempurna, yang isinya baik semua. Balik lagi pada bahasan sebelumnya, semua kembali ke pengguna. Jika pengguna memilih akun-akun bermanfaat, maka yang dihadirkan di berandanya pun akan muncul konten yang sama. Begitu pula sebaliknya.

Salah satu hal menarik dari seorang Nanda adalah, menggali lebih dalam tentang bagaimana ia jeli melihat peluang. Kamu yang saat ini punya karya dan mungkin hanya dilihat orang-orang terdekatmu saja, cara Nanda memanfaatkan "the power of social media" ini mungkin bisa jadi inspirasi buatmu. Yuk bijak gunakan media sosial!

Redaktur: Prita K. Pribadi