Panahan, Olahraga Sunah Membuahkan Prestasi

Panahan menjadi olahraga yang terbilang baru di Indonesia. Popolaritasnya yang belum banyak dikenal ini menjadi salah satu olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Olahraga ini dapat dilakukan baik anak-anak maupun orang dewasa, dan memiliki segudang manfaat di dalamnya.

Panahan, Olahraga Sunah Membuahkan Prestasi
Arif sedang berlatih memanah. Sumber: instagram @indoarcherytv  

Berbicara soal olahraga panahan, ternyata olahraga ini memiliki banyak manfaat. Tidak hanya menyehatkan badan, namun juga meningkatkan konsentrasi dan fokus. Sebab panahan bukan olahraga yang bisa dilakukan dengan terburu-buru. Karena itu, memanah juga dapat mengajarkan kita untuk bisa mengontrol emosi dan melatih kesabaran.

Kamu sudah tahu belum nih? panahan ternyata salah satu olahraga yang dianjurkan dalam agama Islam loh. Panahan menjadi sunah Nabi Muhammad SAW, seperti dalam hadis riwayat Bukhari berikut ini,

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ

Nabi ﷺ bersabda, "Memanahlah wahai Bani Ismail, karena sesungguhnya nenek moyang kalian adalah ahli memanah. Memanahlah dan aku ada bersama Bani Fulan." (H.R. Bukhari no. 2648)

Maka jika kita menekuni olahraga panahan ini, kita bisa memperoleh pahala karena mengikuti sunah rasul ditambah mendapat segudang manfaat bagi badan kita. Seperti  remaja asal Bantul yang kemudian menjadikan panahan sebagai bidang ketekunannya.

17 tahun silam seorang anak laki-laki dilahirkan di Kota Bantul. Arif Dwi Pangestu, anak kedua dari dua bersaudara yang kini menjadi pengharum nama bangsa Indonesia. Ia memulai karirnya sebagai atlet panahan sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Perjalanannya bermula ketika ia melihat sepupunya berlatih panahan, rasa ingin tahunya menggerakkan ketertarikannya dan mencoba untuk bermain panahan tersebut.

Pria kelahiran 25 Maret 2004 ini memilih olahraga panahan karena ia menganggap kegiatan tersebut berbeda dengan olahraga  lainnya. Tidak seperti olahraga pada umumnya yang lebih dikenal seperti sepak bola ataupun bulu tangkis yang lebih familier di masyarakat.

Setelah Arif menekuni dunia panahan, ia mulai diminta untuk mengikuti berbagai perlombaan. Tak disangka, Arif mampu memenangkan beberapa perlombaan tersebut. Kebersyukurannya menjadikan ia semakin tertantang untuk belajar dan memperdalam bidang olahraga satu ini. Kemudian sejak saat itu, semakin ia giat berlatih, semakin ia sering diminta untuk mengikuti perlombaan. Tak hanya perlombaan dalam negeri, ia pun diminta melanglang buana hingga ke luar negeri.

Pengalaman Arif membuahkan prestasi yang gemilang, walaupun ada perlombaan yang ia belum berhasil lolos darinya. Seperti pada tahun 2016, ia mengikuti Kejurnas dan mampu mendapatkan 4 emas dan 2 perak. Ia pun pernah berlaga di World Archery Youth Cup yang berlangsung di Argentina pada tahun 2017. Namun, kala itu ia belum bisa menyesuaikan dengan cuaca dingin yang berada di sana, sehingga Arif hanya menduduki di posisi 28.

Tetapi semangatnya yang luar biasa tidak menjadikannya putus asa atas apa yang ia dapatkan. Pengalaman yang mengajarkan dirinya untuk pantang menyerah dan berlatih sekuat tenaga demi mendapatkan hasil yang maksimal. Ia harus berlatih baik fisik maupun mental setiap harinya, mengorbankan waktu dan tenaga. Ia juga harus merelakan waktu bermain bersama teman-temannya. Bahkan ada saat-saat ia harus merelakan dirinya untuk jauh dari keluarga karena kewajibannya untuk berlatih di Jakarta.

Jerih payahnya tak sia-sia, mengantarkan Arif mememangkan SEA Games pada tahun 2019. Ia menjadi atlet termuda kala itu. Awalnya ia merasa gugup dan cemas, khawatir takut mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada yang lain. Namun teman serta pelatihnya selalu memberi semangat untuk tenang dan fokus pada perlombaan. Satu bulan jelang penyelenggaraan SEA Games ini, Ibunda Arif meninggal dunia karena penyakit yang di deritanya kala itu. Meski sangat menyesakkan, namun kepergian sang Ibu membuat Arif semakin giat dalam berlatih dan ingin menunjukan performa yang terbaik untuk sang Ibu. “Pas Mba Susi (Kakak dari Arif) nikah, aku izin beberapa hari jadi bisa pulang. Waktu Mama gak ada, itu aku pas latihan di Jakarta, terus aku disuruh pulang dan aku dapet izin seminggu. Yang pasti kangen banget apalagi sama Mama. Terus pas aku dapet medali SEA Games itu pas sebulan Mama gak ada.” Kata Arif saat diwawancarai via WhatsApp oleh tim injo.id pada Senin (12/04).

Sejujurnya, Arif tak pernah menyangka akan menjadi atlet panahan hingga sampai sekarang ini. Ia mengaku awalnya ia hanya bercita-cita menjadi Arsitek. “Masih bingung sih mau jadi apa. Soalnya dulu inginnya jadi arsitek tapi kan harus pinter sekolah," lanjut ceritanya. Meski belum tahu rencana jauh ke depan dalam dunia panahan, Arif menargetkan menjadi juara dunia terlebih dahulu.

Hingga saat ini, ada sekitar 60-70 total medali yang telah ia raih. Namun, tentu saja pencapaian tersebut tidak menjadikannya cepat puas dan berbesar hati. Ia tetap rendah hati dan berlatih lebih keras lagi untuk mewujudkan impiannya. Memiliki banyak medali Arif memberi tips, jika ingin menjadi juara kita harus mengikuti instruksi yang diberikan oleh pelatih.

Foto saat Arif memenangkan SEA GAMES 2019. Sumber: Dok. pribadi Arif Dwi Pangestu.

Dialah Arif, pemuda dengan semangat yang luar biasa menunjukan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita terus berusaha. Keterbatasan dan kesedihannya tidak menghalanginya untuk mudah menyerah begitu saja. Akan selalu ada jalan bagi mereka yang masih percaya bahwa harapan itu masih ada. Semangat dan kerja kerasnya dapat dicontoh sebagai generasi muda yang dapat mengharumkan nama Bangsa. Kalau kamu, bagaimana cara kamu untuk tetap semangat dan bangkit dari kesedihan itu?

Selain mengharumkan nama Bangsa, ia juga menjalankan salah satu olahraga yang dianjurkan dalam islam. Perlombaan panahan selanjutnya yang akan diikuti oleh Arif adalah Olimpiade di Tokyo yang akan diadakan di tahun ini. Yuk kita doakan semoga diberikan hasil terbaik dan bisa mendapatkan hasil yang maksimal ya!

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah