Parenting Islami, Resep Mendidik Buah Hati ala Rasulullah saw

Setiap orang tua pasti mendambakan seorang anak yang baik, cerdas, dan memiliki kehidupan yang sukses. Bahkan, tak jarang para orang tua sudah menyiapkan segala fasilitas dan materi dengan nominal yang tak sedikit jauh sebelum hari kelahiran anaknya tiba. Namun, apakah hal itu cukup untuk mewujudkan harapan tersebut menjadi nyata? Sudahkah dibarengi dengan ilmu parenting yang tepat dan bijak?

Parenting Islami, Resep Mendidik Buah Hati ala Rasulullah saw
Potret seorang anak muslim berserban. Sumber : tigaraksa-ep.co.id

“Kenapa ya anak jaman sekarang beda banget sama anak jaman dulu? Susah dikasih tau.”

“Kasih hape aja, nanti juga diem.”

Nggak apa-apa, kan masih kecil. Belum wajib sholat. Biarin main sama temen-nya.

Itulah beberapa kalimat yang terdengar lazim untuk dilontarkan ketika melihat tingkah laku anak pada era digital seperti sekarang ini. Tetapi, suatu saat hal yang dianggap lazim itu bisa menjadi kepiluan bagi orang tua bahkan anak itu sendiri. Hal ini terjadi karena masih banyak orang tua yang menganggap enteng perihal pola asuh anak. Bahkan, tak sedikit orang tua yang belum menyadari bahwa anak merupakan proyek besar yang harus digarap dengan tepat dan bijak agar si anak bisa hidup mandiri dan memiliki bekal yang memadai untuk menyongsong kehidupannya.

Berkaitan dengan hal di atas, sebuah buku tentang pola asuh anak yang berjudul Prophetic Parenting karya dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid menyebutkan, ”Kebanyakan orang belum menyadari bahwa anak-anak adalah salah satu unsur umat ini. Hanya saja dia bersembunyi di balik tabir kekanak-kanakannya.”

“Apabila kita singkapkan tabir itu, pasti kita temukan dia berdiri sebagai salah satu tiang penyangga bangunan umat ini. Akan tetapi, ketentuan Allah pasti berjalan, yaitu bahwa tabir tersebut tidak akan tersingkap selain dengan bimbingan dan pendidikan secara berkala, sedikit demi sedikit.”

Dari kutipan tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa bimbingan dan pendidikan yang dilaksanakan secara berkala akan memberikan pengaruh positif bagi anak. Setiap orang tua pasti mendambakan seorang anak yang baik, cerdas, dan memiliki kehidupan yang sukses. Bahkan, tak jarang para orang tua sudah menyiapkan segala fasilitas dan materi dengan nominal yang tak sedikit jauh sebelum hari kelahiran anaknya tiba. Namun, apakah hal itu cukup untuk mewujudkan harapan tersebut menjadi nyata? Sudahkah dibarengi dengan ilmu parenting yang tepat dan bijak?

Pada dasarnya, ilmu parenting ini dapat dipelajari dari berbagai sumber terpercaya semisal pakar psikologi anak, media cetak, ataupun media sosial yang menyajikan konten khusus parenting. Termasuk dari pengalaman pribadi seperti meneladani didikan yang baik dari orang tuanya dahulu.

Bagi umat Islam, menggunakan metode parenting islami adalah option yang paling tepat. Karena parenting islami mengajarkan pola asuh anak yang selaras dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Dengan demikian, anak dapat berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun mental. Artinya, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang matang dalam segi intelektual, emosional, dan spiritual.

Oleh karena itu, tak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan syariat agama kepada anak. Sebab jika terlambat, kelak hanya penyesalan yang akan didapat baik oleh orang tua maupun si anak itu sendiri.

Lantas, bagaimana cara mempraktikkan pola asuh anak yang baik menurut Al-Qur’an dan Al-Hadis? Simak dengan saksama parenting islami ala Rasulullah saw berikut ini!

1. Mengajak anak untuk mengenal Allah

Mengenal dan mengesakan Allah merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim termasuk anak-anak. Maka orang tua harus memberikan pemahaman tersebut kepada anaknya sedini mungkin. Sebagaimana wasiat Luqman bin Unaqa' bin Sadun kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah pada ayat berikut,

وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْم

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) niscaya kezaliman yang besar." (QS. Luqman: 13)

Dengan mengenal dan mencintai Allah sejak dini, anak akan belajar menggantungkan diri dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Sehingga dalam keseharian, yang menjadi pertimbangan di benaknya adalah pertanyaan-pertanyaan yang hanya tertuju pada rida Allah, “Ini Allah suka nggak ya? Ini dibolehin Allah nggak ya?” dan sebagainya.

2. Memberikan contoh atau keteladanan

Dalam pepatah jawa ada istilah, Kacang ora ninggal lanjaran. Artinya kebiasaan anak selalu meniru dari orang tuanya. Di sinilah peran dominan orang tua sebagai pembentuk karakter pada anak diperlukan. Bukan sekadar memerintah, menasihati, menyalahkan, atau bahkan membentak. Akan tetapi, hendaknya orang tua bisa memberikan keteladanan dan pembiasaan yang baik.

Dengan demikian, ketika memberikan perintah kepada anak, orang tua juga turut melakukannya. Misalnya ketika hendak memerintahkan anaknya untuk melaksanakan salat, orang tua tidak hanya, “Sana ke masjid, sholat!” sedangkan orang tua tidak beranjak dari acara televisinya.

Ilustrasi seorang anak yang meniru ayahnya ketika sedang berdoa. Sumber : tirto.id

Sekali lagi, anak lebih cepat terpengaruh oleh sikap dan perilaku orang sekitarnya daripada hanya sekadar kata-kata. Hal ini senada dengan perkataan Kak Seto, seorang psikolog anak yang kondang juga menjadi Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). “Anak adalah peniru yang ulung, tentu perilaku orang tuanya akan mempengaruhi perilakunya,” ujar Kak Seto.

3. Memberikan Nasihat

Memberikan nasihat dapat membuka wawasan anak terhadap hakikat sesuatu sehingga akan memberikan manfaat baik dan dorongan bagi anak untuk memperbaiki sikap ke arah yang lebih positif. Nasihat yang diberikan hendaknya dilakukan dengan santun dan tidak menjatuhkan harga diri anak. Selain itu, nasihat juga harus diberikan pada saat yang tepat. Contoh, apabila anak sedang marah, sebaiknya orang tua memberikan nasihat ketika amarahnya telah mereda.

Mengapa menasihati anak begitu penting? Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena dia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya (anak).” (HR. Abu Daud)

4. Berlaku adil kepada anak

Berlaku adil bukan berarti menyamaratakan segala sesuatu kepada anak karena kebutuhan anak pun berbeda-beda. Kebutuhan anak usia SMA tentu berbeda dengan kebutuhan anak yang masih balita. Maka orang tua harus bisa menyikapi hal tersebut.

Di samping itu, ketidakadilan dapat menimbulkan permusuhan, kedengkian, dan kebencian terhadap sesama saudaranya sendiri, kemudian yang lebih ironis akan memutus hubungan keluarga. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw berwasiat agar orang tua berlaku adil kepada anak-anaknya. Bahkan beliau mengulangi sabdanya hingga tiga kali.

اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ اعْدِلُوا بَيْنَ أَبْنَائِكُمْ

"Berlaku adillah di antara anak-anak kalian. Berlaku adillah di antara anak-anak kalian. Berlaku adillah di antara anak-anak kalian." (HR. Ahmad)

5. Membelikan mainan untuk anak sesuai dengan usia dan kemampuannya

Mungkin kamu berpikir bahwa mainan itu hal yang sepele dan tersirat pertanyaan, “Buat apa?” Eits, jangan salah! Jika sesuai dengan usia dan kemampuannya, mainan penting bagi tumbuh kembang seorang anak. 

Dalam sebuah hadis, Aisyah ra menceritakan ketika Rasulullah saw pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar. Di depan pintu rumah terdapat tirai, lalu angin berhembus menyingkap boneka-boneka Aisyah yang ada di ujung tirai. Beliau bertanya,“Apa ini, Aisyah?”Aisyah menjawab, “Boneka-bonekaku.”

Lalu Rasulullah saw juga melihat patung kuda yang mempunyai dua sayap. Beliau bertanya, "Lalu sesuatu yang aku lihat di tengah-tengah boneka ini apa?" Aisyah menjawab, "Boneka kuda." Beliau bertanya lagi, "Lalu yang ada di bagian atasnya ini apa?" Aisyah menjawab, "Dua sayap." Beliau bertanya lagi, "Kuda mempunyai dua sayap?" Aisyah menjawab, "Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang punya banyak sayap?" Rasulullah saw pun tertawa hingga gigi-gigi geraham beliau nampak. (HR. Abu Daud)

Cerita di atas menjadi salah satu bukti bahwa Rasulullah saw memperbolehkan Aisyah untuk memiliki mainan. Aisyah juga bisa menghubungkan mainan yang ia miliki dengan kisah Nabi Sulaiman. Ini menunjukkan bahwa mainan bisa mengasah kecerdasan anak, dengan catatan mainan itu sesuai dengan usia dan kemampuan anak serta tidak bertentangan dengan syariat agama.

6. Sabar dan tidak mencela anak

Sejatinya, ketika orang tua mencela anaknya, berarti ia sedang mencela dirinya sendiri. Sebab bagaimanapun juga dialah yang telah mendidik anaknya tersebut. Rasulullah saw tidak pernah mencela apabila anak berbuat salah atau bahkan tidak mengerjakan apa yang dimintanya. Beliau tetap berusaha sabar dan tidak memarahi anaknya. Metode yang dilakukan Rasulullah saw ini dapat menumbuhkan perhatian mendalam dan rasa malu pada diri anak. Dengan sendirinya, anak akan berpikir ulang jika akan mengerjakan hal itu kembali.

Menurut dr. Nurul Afifah, seorang dokter muda yang aktif mengisi seminar parenting di Indonesia, sekaligus founder @bundatalk. Dalam buku pertamanya yang berjudul Don’t Be Angry, Mom, beliau memaparkan beberapa dampak memarahi anak yang dapat dialami oleh anak bahkan orang tua itu sendiri. Bagi fisik anak, ia bisa mengalami kerusakan sel otak, jantung lelah, dan dyspepsia atau nyeri pada ulu hati. Dari segi psikis, kepercayaan diri anak menurun dan ia akan cenderung menjadi pribadi yang emosional.

Sedangkan bagi orang tua, ia bisa mengalami tekanan darah tinggi hingga depresi. Selain itu, orang tua juga bisa kehilangan kendali diri yang akan merugikan dirinya sendiri. Perilaku tersebut juga bisa menurunkan bonding orang tua dengan anak.

Bila anak melakukan kesalahan, memberikan hukuman ringan boleh saja. Sebab hal ini juga telah disabdakan oleh Rasulullah saw.

مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya, dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya." (HR. Abu Daud)

Namun ketika anak berhasil mendapatkan sebuah prestasi atau melakukan tindakan yang baik, maka orang tua juga harus bisa memberikan apresiasi berupa hadiah atau sebagainya.

Rasa kesal, lelah, dan payah yang kerap muncul ketika mendidik anak belum seberapa jika dibandingkan harus melihat hati mereka terenggut lebih dahulu oleh setan dengan berbagai pengaruh buruknya. Sehingga menjauhkan anak tersebut dari jalan Allah dan Rasulullah saw. Naudzubillahi mindzalik. Maka dari itu, tetaplah bersabar dan tekun dalam mendidik mereka. Jangan sampai kendor sedetikpun.

Semua tips parenting di atas akan lebih mujarab apabila disertai dengan doa. Ingatlah bahwa doa orang tua itu mustajab! Oleh karenanya, para orang tua dihimbau agar tidak bosan untuk terus mendoakan anaknya terutama pada waktu-waktu yang mustajab seperti sehabis salat wajib dan sepertiga malam yang akhir. Sebab Allah tak akan membiarkan hamba-Nya yang telah menengadahkan tangan kemudian tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.

Demikian pula bagi para remaja, belum adanya buah hati justru memberikan peluang yang sangat luas untuk memperbanyak doa agar kelak dikaruniai anak-anak yang shalih-shalihah. Berdoa itu ibarat mengayuh sepeda, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kayuhan tersebut akan membawa pada tujuan utama. Semoga anak-anak kita bisa menjadi pribadi yang shalih-shalihah, berakhlakul karimah, dan mandiri serta sukses dalam urusan dunia dan akhirat. Aamiiin, Yaa Robbal ‘Alamin.

Redaktur: Ubaid Nasrullah