Perihal Bertengkar, Bagaimana Sikap Suami dalam Berumah Tangga?

Permasalahan dalam bahtera rumah tangga tentunya akan selalu ada, maka diperlukan suami yang mampu menjadi nahkoda yang cakap dalam mengendalikan kehidupan pernikahan.

Perihal Bertengkar, Bagaimana Sikap Suami dalam Berumah Tangga?
Ilustrasi pertengkaran antara suami dan istri. Sumber: Shutterstock.com

Tak seperti ibadah puasa yang bisa dilakukan sendirian, ibadah pernikahan menuntut adanya kerja sama yang baik antara suami dan istri. Kebiasaan, pengetahuan, dan didikan keluarga yang berbeda antara suami dan istri tentu tak begitu saja mudah disatukan. Padahal, menikah bukan perkara satu atau dua tahun melainkan rentetan kisah panjang yang harapannya dapat berakhir dengan baik sampai maut memisahkan.

Rumah tangga Rasulullah pun tak luput diterpa pertengkaran. Seperti ketika Aisyah yang cemburu tatkala melihat Rasulullah menikah lagi dengan Shofiyyah binti Huyayin, setelah perang Khoibar. Nabi Muhammad yang mengetahui gelagat kecemburuan Aisyah segera mengejar Aisyah dan berusaha memperjelas keadaan.

Dari salah satu kejadian itu, dapat kita ambil hikmah bahwa peran suami sebagai pemimpin sangat dibutuhkan. Segera memahami duduk permasalahan dengan baik dan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Seperti tertuang di dalam Surat Annisa ayat 34 berikut

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)”

Dari ayat tersebut, dapat kita ketahui bahwa Allah memberikan tugas khusus kepada laki-laki sebagai pemimpin. Sebagai pemimpin, suami memiliki hak untuk memerintah, melarang, mengurusi, dan mendidik istri. Suami juga memiliki andil kuat dalam menentukan keputusan dalam perkara rumah tangga, namun suami yang baik akan mengedepankan musyawarah terlebih dahulu dengan istri.

Terutama ketika terjadi perselisihan dengan istri, suami supaya tidak buru-buru mengambil keputusan begitu saja. Diperlukan mekanisme musyawarah untuk mencairkan perselisihan pandangan dan menghindari rusaknya kebersamaan. Baik suami maupun istri perlu saling mengutarakan pandangannya, ganjalan di dalam hati juga selayaknya disampaikan. Berikutnya penyelesaian yang diharapkan seperti apa, dibahas bersama dengan mempertimbangkan manfaat dan madharatnya. Hal ini selaras dengan kebiasaan Rasulullah yang patut diteladani.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا أَكْثَرَ مَشُوْرَةٍ لِاَصْحَابِهِ مِنْ رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه و سلم

“Saya tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Tirmidzi)

Selain hak, suami juga berkewajiban untuk bisa menasihati istri dengan baik. Apabila dalam permasalahan rumah tangga pihak istri melakukan kesalahan, maka suami supaya tetap bisa mengingatkan dengan cara yang baik. Mengontrol nada bicara, hati-hati dengan kalimat yang diucapkan. Jangan sampai mudah melaknat dan mengeluarkan kata-kata cerai. Bahkan semisal kalimat “Aku sudah tidak betah denganmu, pulanglah kamu ke rumah orang tuamu." Jika maksudnya adalah menalak istri, maka jatuh pula hukum talak. Selain menjaga lisan, bahasa tubuh pun perlu dikontrol. Jangan sampai mudah menyakiti istri dengan pukulan yang tidak mendidik, pukulan kekerasan. Jika sampai ada kekerasan dalam rumah tangga, bukannya istri menghormati suami, yang ada hanyalah perasaan takut dan tidak tentram berada di dalam rumah.

Menasehati istri dengan baik sudah menjadi wasiat dari Rasulullah. Bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok. Jika tidak berhati-hati kepada wanita, bersikap kasar, bahkan malah kurang ajar, akan menyebabkan patahnya tulang rusuk tersebut. Yaitu wanita akan teraniaya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ

Rasulullah bersabda, "Nasihatilah para wanita karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya, jika kamu mencoba untuk meluruskannya maka dia akan patah namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita" (H.R. Bukhori)

Kemudian bagaimana jika laki-laki yang berada di posisi salah? Layaknya pemimpin yang bertanggung jawab, suami tak perlu gengsi dalam mengakui kesalahan. Seperti Nabi Adam yang mengakui kesalahannya setelah memakan buah di surga yang telah dilarang oleh Allah untuk didekati. Meminta maaf sebagai bentuk kerendahan hati dan pengakuan—meski suami adalah pemimpin, istri itu merupakan pasangan bukan bawahan.

Pasangan itu artinya saling—saling memberi, saling percaya, saling mengasihi, saling memahami, dan saling memaafkan. Namun, pemegang kendali bahtera perkawinan tetaplah suami yang utama. Maka diharapkan suami dapat menjalankan kewajibannya dengan baik agar terwujud keluarga yang harmonis. Layaknya kisah keromantisan keluarga Pak Heri yang sudah pernah kita bahas sebelumnya, tak ragu berkeluh apalagi malu mengucap maaf.

Sejalan dengan niatmu menikah, seharusnya tahu pula apa yang akan kamu jalani kedepannya.

"Saya terima nikahnya," kata seorang pria sambil bersalaman pada suatu akad nikah, sama artinya dengan "Saya siap menerima tanggung jawab untuk melayani istri saya, mencintai, dan melindunginya." —Anonim.

Redaktur: Prita K. Pribadi