Perihal Resepsi, Kamu Tim "Yang Penting Halal" atau "Yang Harus Spesial"?

Apakah persoalan modal resepsi ini sepenting itu? Padahal contoh dari Nabi saja tak sememberatkan itu? Saya coba telusuri hal ini lebih dalam, untuk mencari titik tengah dalam menyikapi permasalahan ini.

Perihal Resepsi, Kamu Tim "Yang Penting Halal" atau "Yang Harus Spesial"?
Ilsutrasi menikah sederhana. Source : Canva

Dewasa ini, banyak laki-laki yang bekerja dengan niat mengumpulkan uang untuk modal perikahannya bahkan sebelum ia memiliki target wanita yang akan ia nikahi. Tak jarang juga si pria belum mengetahui latar belakang dan adat istiadat keluarga wanita tersebut. Menandakan kesadaran bahwa “resepsi pernikahan itu butuh modal yang harus dipersiapkan” ini sudah terbangun dengan sendirinya.

Berkaitan dengan modal resepsi pernikahan ini, saya teringat ketika malam 27 Ramadan kemarin saya sempat membaca ulang hadis Bukhori yang telah saya kaji. Disana tertulis jelas tentang seruan mengadakan walimah walau hanya menyembelih seekor kambing. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf Radhiyallahu anhu:

 أَوْلِمْ وَلَوْبِشَاةٍ.

“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing.”

Dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu ia berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ، فَإِنَّهُ ذَبَحَ شَاةً.

“Aku tidak melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelenggarakan walimah bagi isteri-isterinya seperti apa yang beliau selenggarakan bagi Zainab. Sesungguhnya beliau menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari no. 5171).

Membaca hadis di atas membuat saya tertegun dalam beberapa menit. Seketika kepala ini dipenuhi dengan banyak sekali pertanyaan, mengingat hadis di atas mungkin sudah hampir tak relevan lagi di zaman sekarang. Tak bisa dipungkiri bahwa modal resepsi pernikahan adalah salah satu hal yang dipertimbangkan, ketika seorang pria ingin mengajak wanita yang disukai ke jenjang pernikahan.

Terlebih saya teringat beberapa bulan yang lalu, ada teman yang bercerita tentang penundaan dari pihak wanita yang akan ia nikahi. Dengan alasan masih belum cukupnya modal yang diberi dan dipunya untuk dapat menyelenggarakan resepsi seperti yang pihak keluarga wanita inginkan.

Dari hadis yang saya baca tadi, serta kenyataan yang terjadi di lapangan, muncul lah beberapa pertanyaan menarik. Apakah persoalan modal resepsi ini sepenting itu? Bukankah contoh dari Nabi saja tak sememberatkan itu? Saya coba telusuri hal ini lebih dalam, untuk mencari titik tengah dalam menyikapi permasalahan ini.

Ternyata ada banyak faktornya. Tidak bijak jika kita terburu-buru menyimpulkan bahwa resepsi yang dibuat dengan layak dan diusahakan menyajikan yang terbaik, itu menandakan pihak wanita atau orang tuanya termasuk dari keluarga yang gengsinya tinggi. Hanya untuk memuaskan ego sesaat agar mendapat testimoni baik dari para tamu undangan, atau tudingan-tudingan jahat lainnya. Belum, belum tentu seperti itu.

Dalam hal ini saya sempat menitipkan pertanyaan lewat admin INJO di Twitter, yang isi pertanyaannya seperti ini,

“Menurutmu, selain karena seumur hidup sekali, apa alasan terbesar resepsi pernikahan harus dibuat yang ‘wah’?”

“Wah” disini takarannya berbeda-beda ya. Maksudnya ia sebenarnya bisa membuat resepsi lebih sederhana, namun ia mengusahakan memberikan yang terbaik bahkan berlebih dalam segala aspek di dalam resepsinya. Pertanyaan itu saya tanyakan guna memperkaya perspektif kita, agar kita saling memahami mengapa ada perbedaan antar keluarga dalam memandang permasalahan ini.

Dari pertanyaan di atas saya mendapatkan beragam jawaban di Twitter, walaupun lebih banyak yang sifatnya masih terkesan “menghakimi”, seperti; keluarganya gengsian lah, biar dijauhi dari omongan tetangga lah dan sebagainya. Tapi ada beberapa jawaban yang menurut saya bagus untuk memperkaya perspektif kita dalam melihat hal ini.

Salah satunya jawaban dari akun @etnikaaza, ia menjawab: “Bentuk rasa syukur sih, jadi yang bahagia bukan keluarga pengantin aja tapi semua tamu undangan yang hadir.” Saya pribadi setuju dengan perspektif ini, resepsi pernikahan adalah momen dimana kita mengundang dan mengumpulkan sanak saudara serta orang-orang terdekat dari kedua mempelai. Jadi tak ada salahnya jika kita memberikan jamuan yang terbaik dalam rangka memuliakan tamu. Dengan begitu, harapannya semua yang datang turut larut dalam kebahagiaan dan senantiasa mengirimkan doa-doa baik kepada kehidupan kedua mempelai.

Namun @etnikaaza juga menambahkan dalam komentarnya, “tapi balik lagi ke finansialnya, kalau dirasa mampu menurut saya tidak berlebihan, tapi kalau memberatkan sebaiknya jangan memaksakan diri hanya karena pengin kliatan "wah''. Ya, jika memang semuanya mendukung dalam terwujudnya resepsi pernikahan yang sesuai dengan apa yang diinginkan, ya tidak jadi masalah. Yang jadi masalah adalah jika momen kebahagiaan ini malah membuka peluang berutang, yang pada akhirnya malah memberatkan banyak pihak.

Akun @AuliaKarimahM juga menambahkan, “Bentuk dari menghormati dan menjamu tamu :) itu salah satu cara mendatangkan rezeki juga bukan?” Komentar Aulia ini senada dengan hadis tentang perintah Nabi untuk memuliakan tamu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia memuliakan tamunya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dapat kita tarik pemahaman bahwa memuliakan tamu menunjukkan kesempurnaan iman. Hadis ini sudah sangat cukup bagi kita untuk menyimpulkan betapa pentingnya memualiakan tamu. Namun, menurut saya sangat tidak bijak jika memakai hadis ini untuk melakukan segala cara agar dapat memenuhi keinginan pernikahan yang diimpikan, salah satunya dengan berutang.

Mengapa tidak bijak? Karena berutang ini akan menjadi masalah yang bisa saja berdampak pada hubungan antar pasangan. Sebab utang itu mereka harus menunda kebutuhan lainnya, bahkan untuk kebutuhan yang jauh lebih penting dan krusial. Belum lagi bahaya yang menghantui apabila mereka sampai melalaikan utangnya, dalam sebuah hadis dari Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah SAW bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Artinya: “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali utang." (HR Muslim Nomor 1886).

Islam sangat menentang orang yang lalai terhadap utangnya. Seseorang yang berutang maka wajib hukumnya membayar. Jika tidak, maka dosanya tak akan diampuni sekalipun orang yang berutang itu mendapat kemuliaan mati syahid.

Hadis lain dari ‘Urwah dan ‘Aisyah disebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam) Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”

Maka dari itu saya mengatakan tidak bijak, bukan berarti tidak boleh. Karena risikonya kembali kepada yang bersangkutan. 

Selain dari kedua jawaban di atas, saya juga menemukan banyak jawaban dari pihak wanita dan keluarganya yang tidak terlalu memusingkan perihal pernikahan yang “wah”. Tak sedikit pula yang mendambakan intimate wedding, yang hanya mengundang keluarga dekat dari kedua belah pihak dengan acara yang serba sederhana.

Kemudian dalam hal ini menjadi jelas, bahwa penyelenggaraan resepsi pernikahan ini adalah keputusan kedua belah pihak. Akan dijadikan seperti apa dan mengapa menginginkan demikian, itu PASTI ada alasannya. Dan setiap keluarga bisa saja berbeda-beda maksud dan tujuannya.

Dari penelurusan di atas juga, kita bisa menarik kesimpulan bahwa sebenarnya masih banyak di luar sana pihak wanita dan keluarganya yang tidak terlalu menjadikan masalah apabila resepsi pernikahan dibuat dengan sederhana. Namun, tidak ada salahnya juga apabila mereka mempertimbangkan pernikahan "wah" sebab satu dan lain hal. Asalkan mampu dan tak harus memberatkan diri dengan berutang. Hargai saja keputusannya tanpa harus melabeli mereka dengan tudingan-tudingan negatif.

Ketika memandang suatu hal, kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk sependapat dan memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Mungkin kamu menganggap, “soal nikah mah yang penting halal, syukuran makan-makan, selesai”, tapi jika ada yang tak sepemikiran denganmu berdasarkan alasan dan perspektif yang mereka punya, selagi itu niatnya juga baik ya hargai! Jangan karena kamu yang tak bisa memenuhi ekspektasinya dan jiwa yang telah telanjur diselimuti sakit hati, kamu memberikan tudingan-tudingan negatif yang justru akan mengotori hatimu.

Dahulukanlah berkomunikasi dan bermusyawarah, untuk mencari jalan tengah, sehingga mendapatkan keputusan yang terbaik dan tidak memberatkan kedua belah pihak. Berdasarkan ayat:

 وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakal kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya” [QS Ali-Imran: 159].

Semoga artikel ini bermanfaat dan semoga teman-teman yang memiliki pemahaman dan idealisme yang sama dalam memandang permasalahan ini, segera ditemukan dan dijodohkan dengan jodohnya. Biar gak ribet kan? Bagi orang yang penginnya simple-simple yang penting halal, bisa ketemu dengan yang sepemikiran, dan yang punya dream wedding yang “wah” dan spesial, juga bisa ketemu dengan yang sama-sama punya duitnya. Hehe.

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah