Perjuangan ke Gunung Ijen, Demi Pesona Blue Fire Dunia

Tokoh utama dalam perjalanan kali ini adalah Gunung Ijen. Ketertarikanku pada gunung ini berangkat dari fenomena terkenal di sana, yaitu terdapatnya blue fire atau api biru. Konon katanya, blue fire hanya terjadi di dua kawasan seluruh dunia yakni di Islandia dan Banyuwangi.

Perjuangan ke Gunung Ijen, Demi Pesona Blue Fire Dunia
Pemandangan Gunung Ijen, Jawa Timur. Sumber: INJO.ID/Lina Desti

Jum’at (14/02) sore, aku dan kedua teman memesan tiket berlibur dan memilih paket wisata Taman Nasional Baluran, Gunung Ijen, dan Pulau Tabuhan. Agak random rasanya bisa mencapai hingga ke titik ini, dimana kami bertiga berdiri di salah satu travel di Pare, Kampung Inggris, Jawa Timur. Perjalanan mendadak sekitar 6 jam sebelum keberangkatan, entah mengapa membuatku merasa lebih tertarik daripada liburan yang direncanakan jauh hari. “Kapan lagi ke sini? Mumpung ada waktu dan kesempatan!” ujarku sebagai pendatang baru di tanah Jawa.

Tokoh utama dalam perjalanan kali ini adalah Gunung Ijen. Ketertarikanku pada gunung ini berangkat dari fenomena terkenal di sana, yaitu terdapatnya blue fire atau api biru. Konon katanya, blue fire hanya terjadi di dua kawasan seluruh dunia yakni di Islandia dan Banyuwangi. Masya Allah menarik sekali! Gunung Ijen merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang terletak antara perbatasan Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung Ijen memiliki ketinggian 2.443 mdpl di atas permukaan laut. Ternyata kawah Ijen pun memiliki kawah paling asam terbesar di dunia. Tak heran, wisata alam kawah Ijen ini dikenal luas oleh wisatawan domestik dan asing. Yap, pesona alam yang memikat hati ini benar-benar ada di negeri sendiri loh! Bangga rasanya dikaruniai alam semewah ini dari Sang Maha Pencipta.

Balik lagi ke perjalanan mendadakku, saat malam tiba tepat pukul sebelas, kami pun melesat menggunakan travel. Butuh waktu 7 jam 30 menit sehingga kami sampai di Taman Nasional Baluran pada Sabtu (15/02) pagi. Rehat sejenak sembari menikmati hamparan savana yang sangat luas, dengan ratusan rusa berlarian membuat kami merasa sedang di Afrika, hehe. Ditambah awan biru, dan pegunungan menambah kesegaran pandangku.

Pemandangan Taman Nasional Baluran saat pagi hari. Sumber: INJO.ID/Lina Desti

Sekadar jadi tempat singgah, menjadikan waktu berlalu begitu cepat saat menginajakan kaki di sini. Menghabiskan hanya 30 menit saja, kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju Gunung Ijen karena jalanannya yang tak mudah dilewati. Benar saja, perjalanan kala itu terasa mencekam dan mengkhawatirkan. Gunung Ijen ini banyak dilalui jalanan berliku, tajam, rusak, gelap dan sepinya malam. Belum lagi mobil travel yang kami tumpangi terasa tersendat. Pikiranku kala itu sangat khawatir mobil travel akan terjungkal. Saking ketakutannya, panjatan do'a pun tak luput dari kami agar sampai tujuan dengan lancar, selamat, dan barokah. Hingga kekhawatiran itu akhirnya sirna dan membuatku tertidur lelap sesudahnya.

Pukul 10 malam, tak terasa tiba di pos pertama Ijen. Awalnya kami mengira untuk melihat blue fire di kawah Ijen akan mudah. Ternyata dugaan kami salah besar! Melihat blue fire ini perlu dilakukan pendakian terlebih dahulu. Taraaa! Berkat persiapan seadanya, bermodalkan lihat foto kawah Ijen di Google saja, sama sekali tak terbayang bahwa mendaki menjadi bagian perjuangan untuk menikmati blue fire. Hanya menggunakan sepasang flat shoes tipis tak memungkinkan aku untuk mendaki sehingga kerepotan untuk mencari solusi. Pada waktu genting itu, kakiku tergiring hingga ke tempat penyewaan sepatu khusus mendaki. Alhamdulillah! Jadi catatan nih, perjalanan semandadak ini akan jadi hambatan juga kalau tidak mencari tahu lebih detail ya teman.

Sepatu gunung yang disewa untuk mendaki kawah Ijen. Sumber: INJO.ID/Lina Desti

Pendakian dibuka mulai pukul satu dini hari yang disambut semangat dari kami. Keadaan yang begitu gelap malah jadi memukau karena kehadiran jutaan bintang di pelataran langit yang saling bersorak ria. Taburan cahaya yang melayang di atas sana memberi asupan semangat yang menggebu-gebu hingga membayangkan mereka berkata, “hey kamu, ayo semangat! Aku di sini menemanimu!” Hihi. Nah! Aku juga mau kasih tahu, sebelum pendakian ini dimulai, sedari tempat pos tadi kami diharuskan menggunakan respirator. Yaitu alat bantu pernapasan sekaligus pelindung aroma belerang dari kawah Ijen yang sangat menyengat. Hal ini jadi poin penting yang tak bisa disepelekan ya karena akan membahayakan kesehatan sang pendaki.

Selama perjalanan mendaki, kami menemukan banyak taksi, dimana sebutannya adalah trolley. Yaitu sebagai alat angkut seperti gerobak yang didorong oleh tenaga manusia dengan merogoh kocek cukup tinggi. "500 sampai 700 ribu neng sampai atas, kalau turun 200 sampai 400 ribu," kata bapak jasa trolley itu. Jadi, untuk pendaki yang sekiranya tidak sanggup meneruskan perjalanannya, bisa menggunakan alat ini untuk tinggal duduk manis hingga ke tujuan.

Dua jam lamanya perjalanan, kami tiba pukul tiga dini hari di puncak Ijen. Sayang sekali, waktu itu langit sangat mendung disertai kabut tebal. Kemungkinan kecil untuk melihat pemandangan blue fire, membuat kami mengharuskan turun kembali. Walaupun sedikit kecewa tak bisa melihat blue fire, kemudian aku berpikir “memang bukan rezeki,” jadi ambil hikmahnya saja. Catat lagi yuk! Jangan lupa musim hujan bukanlah waktu yang tepat untuk ke puncak Gunung Ijen ini ya. Sedikit menghibur diriku dan teman-teman yang penasaran dengan blue fire di kawah Ijen, aku kasih bocoran lewat foto di bawah ini.

Tampak atas, wisatawan sedang melihat fenomena Blue Fire. Sumber: kompas.com

Mengagumkan bukan? Bagi kamu seorang traveler, wisata satu ini cocok loh untuk memacu adrenalin, hihi.

Akibat tak mendapat pemandangan blue fire, kami memutuskan naik ke atas untuk mencapai Gunung Ijen. Tepat pukul 5.30 kami terdampar di bawah kaki gunung, menikmati mahakarya Sang Pencipta yang begitu indah. Melihat matahari terbit di ufuk timur, sambil mengirup udara pagi yang begitu segar dan dingin yang menyelimuti diri. Rasa-rasanya kami tidak mau waktu cepat berlalu, menikmati lebih lama suasana Gunung Ijen. Namun, rezim bernama waktu ini terus saja merenggut tiada henti, memaksa kami untuk turun ke dasar demi mengejar waktu yang telah dijadwalkan untuk pulang.

Pemandangan Gunung Ijen. Sumber: INJO.ID/Lina Desti

Banyak pelajaran yang aku petik dari perjalanan kali ini. Kurangnya perencanaan menjadi hal yang harus aku perbaiki kedepannya. Pada sisi lain, pelajaran aku temui lewat kemuliaan dan kekagumanku melihat jasa trolley dan penambang belerang yang mengangkut beban besar. Hanya bermodalkan tumpuan badan seorang diri tanpa bantuan mesin, dan terkadang hanya menggunakan masker kain. Tampak wajah lelah ngos-ngosan menahan rasa sakit dan pegal, yang mana belerang itu nantinya akan dijual. Ya, jasa trolley dan penambang belerang ini, cara mereka bertahan hidup dan berjuang mecari maisah sehari-hari. Begitu besarnya pengorbanan seorang bapak, rela banting tulang dan bekerja keras menafkahi keluarga tercinta hingga melupakan berbagai macam duka.

Pendakian singkat ini juga memberikanku pengalaman yang berharga tentang arti perjuangan, kebersamaan dan kesabaran. Meskipun bertemu banyaknya rintangan, tetapi itulah yang membuat perjalanan lebih berwarna. Semakin sulit jalan yang dilewati, semakin indah pemandangan yang bisa dinikmati. Ada rasa kepuasan sendiri bisa melihat dan menikmati karya ciptaan-Nya dengan mata kepala sendiri. Terpesona atas segala karya-Nya dan lebih bersyukur atas setiap karunia-Nya. Bagaimana menurut teman-teman? Apakah ada niatan untuk menapakkan kaki ke Gunung Ijen? Atau sudah ada yang pernah  ke sini? Boleh share dong harapan atau pengalaman teman-teman di kolom komentar!

Redaktur: Prita K. Pribadi