Persiapan Menikah Bagian 1: Memahami Niat dalam Menikah

Niat karena Allah ini harus dipahami betul dan terus dipelihara untuk ke depannya. Sehingga kelak ketika mengarungi bahtera rumah tangga tidak melenceng dari tujuan utama yaitu melaksanakan ibadah untuk menyempurnakan agama dengan menjadikan surga sebagai destinasi utama.

Persiapan Menikah Bagian 1: Memahami Niat dalam Menikah
Ilustrasi buku nikah. Persiapan Menikah Bagian 1: Memahami Niat dalam Menikah. Sumber: tangerangnews.com

Berbicara tentang niat, saya yakin teman-teman INJO.ID sudah tidak asing lagi dengan salah satu sabda Rasulullah saw yang berbunyi, "Setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan balasan bagi tiap-tiap orang tergantung pada apa yang dia niatkan." Penggalan hadis tersebut menunjukkan betapa pentingnya niat awal ketika hendak melakukan suatu amal.

Allah sendiri pun telah memerintahkan kepada kita agar senantiasa menyandarkan niat hanya untuk mendapatkan rahmat-Nya, bukan yang lain. Hal ini bisa kita lihat dari potongan firman Allah berikut,

وَيَرْجُوْنَ رَحْمَتَهٗ وَيَخَافُوْنَ عَذَابَهٗۗ اِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُوْرًا...

"...Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sungguh, azab Tuhanmu itu sesuatu yang (harus) ditakuti." (QS. Al-Isra': 57)

Demikian pula dengan niat ketika hendak melaksanakan pernikahan. Apalagi pernikahan ini merupakan praktik ibadah yang akan berlangsung dalam kurun waktu yang lama. Lebih dari itu, menikah juga memiliki peran sebagai penyempurna separuh agama. Oleh karenanya, akan sangat berisiko jika suatu pernikahan tidak dibangun di atas fondasi karena Allah.

Ketika dua insan menjalin hubungan yang berlandaskan ibadah karena Allah, maka Allah akan melibatkan diri di dalamnya. Tentu saja bertolak belakang dengan suatu pernikahan yang didasari dengan niat selain karena Allah. Secara logika, dia yang menikah saja tidak melibatkan Allah dalam tujuan pernikahannya. Lantas bagaimana mungkin Allah mau melibatkan diri-Nya di dalam rumah tangga mereka?

Di sisi lain, menikah bukan hanya penyatuan komitmen antara seorang pria dan wanita. Akan tetapi menikah juga merupakan komitmen dengan Sang Pencipta. Untuk itu, sebelum terlalu jauh melangkah, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu niat dalam menikah.

Untuk menyikapi hal itu, kali ini INJO.ID akan membeberkan beberapa hal yang harus kamu jadikan sebagai niat awal atau tujuan utama dalam membina rumah tangga. Yowis, monggo disimak! Hihi.

1. Menjalankan sunah Rasulullah saw

Terdapat banyak sekali sunah yang telah diwariskan oleh para rasul kepada umatnya, salah satunya adalah menikah. Hal ini disampaikan secara langsung oleh Rasulullah saw semasa beliau hidup.

أَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ الْمُرْسَلِينَ الْحَيَاءُ وَالتَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ

"Empat hal yang termasuk sunah para rasul, yaitu rasa malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah." (HR. At-Tirmidzi no. 1000)

Bahkan, Aisyah ra juga pernah menceritakan sabda Rasulullah saw yang menyebutkan bahwa orang yang enggan untuk mengamalkan sunahnya berarti ia bukan termasuk golongan beliau.

النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Menikah adalah sunahku, barang siapa yang tidak mengamalkan sunahku berarti bukan dari golonganku.” (HR. Ibnu Majah).

Maka dari itu, niatkanlah menikah sebagai bentuk ibadah dalam rangka menegakkan sunah Rasulullah saw. Dengan demikian, kita bisa termasuk ke dalam golongan orang yang senantiasa menghidup-hidupkan sunah para rasul.

2. Mendapatkan pasangan agar memudahkan masuk surga

Sebelumnya, mari kita tilik firman Allah yang tercantum dalam salah satu ayat di QS. At-Taubah.

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan orang-orang iman laki-laki dan perempuan sebagian dari mereka adalah kekasih bagi Sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan kebaikan mencegah dari kemungkaran, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 71).

Ayat di atas menyuguhkan ciri-ciri sepasang kekasih yang akan mendapatkan rahmat dari Allah. Garis besar dari beberapa ciri yang telah disebutkan adalah bagaimana pasangan tersebut bisa saling mendukung dalam hal ketaatan kepada Allah dan Rasulullah saw. Adapun praktik dalam kehidupan sehari-hari, kamu dan pasanganmu bisa melaksanakan berbagai ibadah wajib serta ibadah sunah secara bersama sekaligus menjadikannya sebagai amalan andalan.

Jadi, menikahlah dengan tujuan agar memiliki partner yang bisa mempermudah langkah kita dalam upaya meraih surga. Karena tiada couple goals yang lebih diharapkan daripada menjadi pasangan yang saling menyurgakan.

3. Menjaga diri agar terhindar dari pelanggaran had (zina)

Kita tak bisa mengelak bahwa setiap manusia normal pasti memiliki kebutuhan dasar berupa kepuasan seksual. Dalam hal ini, pernikahan merupakan satu-satunya perantara agar seorang pria maupun wanita bisa menyalurkan kebutuhan seksualnya sesuai dengan syariat agama. Di samping itu, aktivitas seksual yang dilakukan di luar koridor pernikahan merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan. Hal ini selaras dengan firman Allah,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةًۗوَسَآءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruknya jalan.” (QS. Al-Isra’: 32).

Ayat tersebut menerangkan dengan sangat jelas bahwa Allah melarang kita untuk mendekati zina, apalagi melakukannya. Maka, niatkanlah menikah untuk menjaga diri agar terhindar dari berbagai pelanggaran lawan jenis terutama yang mengarah pada perbuatan zina. Sebab dengan menikah, seseorang lebih bisa menjaga pandangan dan kemaluannya. Ingat dan pahami, bahwa ini bukan satu-satunya alasan menikah. Sebab ada banyak pelajaran yang harus diketahui dalam menikah dan jalur menikah bukan soal seksual saja, melainkan sebuah ibadah terpanjang dan terindah yang harus didasarkan ibadah kepada Allah Swt.

5. Mempunyai anak yang sholih/sholihah agar mendapatkan jariyah

Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka putuslah semua amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak sholih/ sholihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, menikahlah dengan tujuan agar memperoleh keturunan yang sholih/sholihah. Sebab anak yang sholih/sholihah merupakan ladang jariyah. Terlebih lagi jika sebagai orang tua mampu mendidik anak-anaknya menjadi ahli Al-Qur'an. Kelak ketika di surga, anak tersebut akan menghadiahkan orang tuanya dengan sebuah mahkota yang sinarnya lebih terang daripada sinar matahari yang berada di dalam rumah di dunia. Hal itu tercermin dari sabda Rasulullah saw dalam sebuah hadis,

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا

"Barangsiapa yang membaca Al-Qur'an dan melaksanakan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orang tuanya pada hari kiamat nanti akan dipakaikan mahkota yang sinarnya lebih terang dari pada sinar matahari di dalam rumah-rumah di dunia. Jika matahari tersebut ada di antara kalian, maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang melaksanakan isi Al Qur'an?" (HR. Abu Daud)

Padahal sinar matahari yang saat ini berjarak jutaan kilometer dari bumi saja sudah cukup membuat kita kepanasan dan kita tak mampu untuk menatapnya secara langsung. Lalu bagaimana jika matahari tersebut berada di dalam rumah kita? Subhanallah.

6. Mengembangkan Islam dari dalam

Salah satu harapan Nabi Muhammad saw sebagai salah satu utusan Allah adalah memiliki umat dalam jumlah yang banyak. Sebab ketika hari kiamat nanti, para nabi akan berlomba-lomba untuk saling menunjukkan berapa banyak umat mereka. Dalam sebuah kesempatan, Anas bin Malik berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِالْبَاءَةِ وَيَنْهَى عَنْ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا وَيَقُولُ تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ الْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Rasulullah saw memerintahkan kita untuk menikah dan melarang dari membujang dengan larangan yang keras. Dan beliau Rasulullah saw bersabda, "Menikahlah dengan seorang wanita yang memiliki kasih sayang serta manghasilkan banyak keturunan karena sesungguhnya aku (Nabi Muhammad saw) berlomba-lomba untuk saling memperbanyak umat dengan para nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad)

Jika kita perhatikan, Rasulullah saw memberikan perintah untuk menikah dan melarang seseorang untuk membujang yang kemudian dilanjutkan dengan anjuran untuk memperbanyak keturunan. Berkaitan dengan hal tersebut, mengajak nonmuslim untuk menjadi seorang mualaf memang baik, bahkan itu merupakan salah satu perintah dari Nabi Muhammad saw sebagai bentuk amar makruf. Akan tetapi, sebelum kita mengajak orang lain untuk masuk, alangkah baiknya kita berusaha untuk memperkuat agama Islam ini dari dalam terlebih dahulu.

Oleh sebab itu, menikahlah dengan tujuan untuk ikut andil dalam upaya pengembangan agama Islam serta turut membantu memperbanyak umat Rasulullah saw. Jika sudah memiliki niat demikian, tidak selayaknya kita memiliki pemahaman untuk mengikuti tren childfree atau berkeinginan untuk tidak memiliki anak. Karena keberadaan generasi penerus yang sholih/sholihah bisa menjadi ujung tombak untuk mengembangkan agama Islam dari dalam.

Itulah beberapa hal yang perlu dipahami tentang niat dalam menikah. Pada dasarnya, beberapa hal di atas ditujukan kepada para remaja yang belum menikah dan sedang mempersiapkan diri untuk menikah. Akan tetapi tak ada salahnya bagi yang sudah menikah untuk ikut memahaminya guna mengevaluasi kembali tujuan utama dalam membina rumah tangga.

Teruntuk teman-teman yang hendak menikah, coba tanyakan kepada dirimu, kamu pengin menikah untuk apa? Menyempurnakan agama? Mencari partner ibadah seumur hidup? Agar bisa melepaskan diri dari pertanyaan kapan nikah? Atau hanya sebatas ikut-ikutan pasangan muda yang terlihat ‘uwu’ di media sosial?

Kalau kamu ingin menikah hanya karena terinspirasi oleh pasangan muda di media sosial, maka berhati-hati dan cobalah untuk merenungkannya kembali. Pasalnya, menikah itu tak sesederhana unggahan yang terlihat mesra ketika kamu scrolling beranda. Menikah juga bukan hanya soal bahagia, ada banyak konsekuensi yang perlu dianalisa dan kesiapan untuk menghadapinya.

Oleh sebab itu, niat dalam menikah ini merupakan awal yang akan sangat menentukan. Niat yang sesuai juga akan menjadi jembatan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah. Maka, niat karena Allah ini harus dipahami betul dan terus dipelihara untuk ke depannya. Sehingga kelak ketika mengarungi bahtera rumah tangga tidak melenceng dari tujuan utama yaitu melaksanakan ibadah untuk menyempurnakan agama dengan menjadikan surga sebagai destinasi utama. Semoga bermanfaat :)

Redaktur: Prita K. Pribadi