Persiapan Menikah Bagian 2: Mempersiapkan Kemandirian untuk Berumah Tangga

Kemandirian inilah yang bisa menjadi bekalmu untuk menghadapi semua situasi dan kondisi yang acap kali di luar ekspektasi. "Kemandirian itu sangat penting, agar kamu bisa belajar prihatin," pungkas Bapak sebelum salam untuk mengakhiri percakapan kami malam itu.

Persiapan Menikah Bagian 2: Mempersiapkan Kemandirian untuk Berumah Tangga
Persiapan Menikah Bagian 2: Mempersiapkan Kemandirian untuk Berumah Tangga. Sumber: tvislam.id

Apabila mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mandiri bermakna dalam keadaan dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung pada orang lain. Artinya kemandirian adalah kesiapan dan kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan mengambil inisiatif, mencoba mengatasi masalah tanpa meminta bantuan orang lain, dan berusaha serta mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan.

Pentingnya memiliki kemandirian ini juga diperkuat dengan adanya sebuah hadis yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya orang ialah yang tidak menggantungkan diri pada orang lain.

خَيْرُكُمْ مَنْ لَمْ يَتْرُكْ آخِرَتَهُ لِدُنْيَاهُ وَلَا دُنْيَاهُ لِآخِرَتِهِ وَلَمْ يَكُنْ كَلَّا عَلَى النَّاسِ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang tidak meninggalkan akhiratnya karena dunianya dan tidak meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak menggantungkan diri pada manusia (orang lain)." (HR. Al-Khatib)

Meski manusia terlahir membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, seiring dengan berjalannya waktu dan tugas perkembangan, ia akan perlahan melepaskan diri dari beberapa ketergantungan dengan belajar untuk mandiri. Sebab mandiri merupakan keterampilan yang sangat penting bagi seseorang untuk menunjang kehidupannya. Terlebih ketika ia telah memutuskan untuk menikah dan akan menjalani kehidupan berumah tangga.

Sadar atau tidak, menikah merupakan gerbang awal dari proses kemandirian berjangka panjang. Setelah menikah,  suatu pasangan butuh privasi untuk semua kegiatannya sebagai suami istri. Karena setiap pernikahan akan membangun peradaban sesuai dengan  jalur keluarganya masing-masing.

Pasangan suami istri juga membutuhkan keperluan sehari-hari secara mandiri tanpa bergantung dengan orang tua lagi.  Orang tua mungkin bisa membantu satu dua hari pada masa awal pernikahan,  akan tetapi setelah itu semua urusan menjadi tanggung jawab sendiri. Oleh karenanya, mempersiapkan kemandirian dalam berumah tangga merupakan hal yang amat diperlukan.

Lalu, hal apa saja yang perlu dipersiapkan? INJO.ID akan membantumu untuk menjawab pertanyaan tersebut, baik persiapan bagi lelaki sebagai calon suami maupun persiapan bagi wanita sebagai calon istri.

1. Persiapan Kemandirian bagi Lelaki

Seorang lelaki harus memahami bahwa setelah menikah ia memiliki kewajiban untuk meramut, membiayai, dan memberi nafkah lahir batin untuk anak dan istrinya. Mau tak mau ia harus mempunyai bekal kemandirian yang baik. Tidak menggantungkan diri kepada orang tua, akan tetapi justru bisa meringankan beban orang tua.

Dia juga harus menyadari bahwa lelaki yang layak untuk dijadikan sebagai suami adalah sosok lelaki yang rajin dan tekun dalam bekerja serta beribadah. Tidak bermalas-malasan. Sedari dini membiasakan bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan kepadanya dalam hal apapun. Sebagai lelaki juga harus belajar hidup mujhid-muzhid.

Etdah, apaan tuh?

Dalam istilah jawa, mujhid diartikan sebagai kerjo mempeng, atau dalam bahasa Indonesia berarti bekerja dengan giat. Sedangkan muzhid artinya tirakat banter yang dalam bahasa Indonesia berarti hemat.

Sifat mujhid-muzhid ini mengajak seseorang terutama kaum Adam untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja dalam rangka mencari nafkah atau maisyah serta cerdas dalam membelanjakan penghasilan yang didapatkan. Dengan kata lain, ia bisa mengukur kemampuan dan kemauan serta bisa membedakan mana kebutuhan dan mana yang hanya sebatas keinginan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa orang yang bisa menerapkan pola hidup mujhid-muzhid merupakan orang yang beruntung.

قَدْ أَفْلَحَ الْمُزْهِدُ الْمُجْهِد

"Sungguh beruntung orang yang sederhana lagi mempersungguh" (HR. Ahmad)

Ketika telah berkeluarga, suami dituntut oleh keadaan agar mandiri dalam mencari ma’isyah untuk mendukung tugasnya sebagai kepala keluarga. Sebagai calon suami, ia harus memiliki sikap jeli dalam mencari peluang dan memanfaatkannya untuk berusaha mengembangkan keterampilan sesuai kebutuhan dan potensi yang ada.

Memiliki sikap yang kreatif, inovatif, dan tidak merasa malu atau gengsi untuk memulai usaha dari yang kecil selama usaha tersebut halal. Sebab ia paham bahwa tak ada penghasilan yang bisa didapatkan hanya dengan bermalas-malasan. Terlebih, mandiri dalam mencari ma’isyah ini akan membawa kebahagiaan tersendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَ إِنَّ نَبِيَّ الله دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

"Tidak ada seseorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Nabi Daud 'alaihissalam pun makan dari hasil tangannya sendiri." (HR. Bukhari)

2. Persiapan Kemandirian bagi Wanita

Sebagai calon istri, wanita harus berusaha melatih kemandirian sejak dini. Dalam filosofi orang jawa, ada tiga jenis kemandirian yang harus dimiliki oleh seorang wanita terutama yang hendak berumah tangga. Ketiga hal yang dimaksud adalah masak, macak, lan manak atau dalam bahasa Indonesia berarti memasak, berdandan, dan menghasilkan keturunan.

Tunggu tunggu, sebelum komentar dibaca dulu… Mari kita bahas satu per satu!

a. Masak

Secara harfiah, masak berarti memasak atau mengolah makanan. Seorang istri yang baik tentu harus bisa memasak makanan yang enak dan bergizi untuk suami dan anak-anaknya. Ketika seorang wanita bisa memasak dengan baik, masakannya akan menjadi makanan yang selalu dinantikan oleh suami dan anak-anaknya sehingga meminimalisir keinginan mereka untuk makan di luar kecuali jika memang ingin makan di luar bersama. Keharusan bisa masak ini pun dalam arti tetap mau belajar bagi yang belum bisa. Sebab bisa masak ini bnetuk ikhtiar dalam mengelola kesehatan dan keuangan rumah tangga.

Apabila dipahami secara mendalam, masak ini tidak hanya kegiatan mengolah makanan. Seorang istri harus bisa masak artinya istri yang baik itu harus bisa mengolah dan mengelola sesuatu menjadi lebih ‘matang’. Sebagai contoh ketika diberi uang belanja oleh suami, maka seorang istri yang baik akan bisa ngubedno atau mengelola uang tersebut dengan baik sehingga penggunaannya lebih optimal.

Masak ini juga bisa diartikan tidak menerima segala sesuatu secara mentah-mentah, tetapi ‘dimasak’ dulu. Dicari tahu dulu kebenarannya. Misalnya tetangga bilang kalau suamimu selingkuh, jangan langsung ditinju, di-tabayun dulu.

b. Macak

Macak aritnya berdandan. Yap, seorang istri yang baik harus bisa berdandan, merias diri agar tampil menyenangkan dihadapan suami dan anak-anaknya. Tetapi macak di sini tidak melulu berdandan dengan bedak tebal dan lipstik merah merona ala biduanita. Namun macak sesuai dengan porsinya.

Walaupun sudah glowing tetapi masih rutin menggunjing, membicarakan aib suami, sering menerima tamu lelaki asing yang bukan mahramnya ketika suaminya pergi, ya tetap saja itu namanya istri yang tidak bisa macak. Sebab istri yang bisa dan pandai macak adalah istri yang pandai menjaga nama baik keluarga terutama suaminya.

c. Manak

Manak bisa diartikan beranak pinak, menghasilkan keturunan, atau melahirkan anak. Memang itu sudah menjadi kodrat wanita. Sebagian besar pasangan di dunia ini juga pasti mengharapkan kehadiran buah hati ketika mereka memutuskan untuk menikah. Namun, apakah tugas istri cuma sampai melahirkan saja?

Istri yang pandai manak bukanlah istri yang tiap tahun melahirkan anak, tetapi istri yang bisa menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang sholih/sholihah. Selain itu, manak juga bisa diartikan ‘menghasilkan’. Seorang istri yang baik hendaknya tidak hanya menerima jatah dari suami, tetapi bisa menjadi istri yang kreatif sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang baik dan berguna paling tidak untuk keluarganya.

Hal-hal di atas perlu dilatih sedari dini sehingga ketika kelak berumah tangga, kamu sudah memiliki bekal kemandirian yang cukup. Sharing atau tukar pengalaman dengan mereka yang sudah lebih dulu menikah juga akan membuka cakrawalamu tentang kehidupan berumah tangga. Orang terdekat yang bisa kamu ajak berbagi pengalaman tentu saja kedua orang tuamu sendiri. Kamu pun sudah bisa melihat bagaimana kemandirian beliau dalam menjalankan peran sebagai suami istri sekaligus ayah dan ibu yang baik.

Beberapa malam yang lalu, saya berbincang ringan dengan Bapak saya perihal kemandirian dalam berumah tangga. Saya memulai pembahasan dengan menanyakan kehidupan pasangan yang baru menikah, lebih baik tinggal serumah bersama orang tua atau mertua atau tinggal berdua bersama istri.

Kebetulan pada masa awal pernikahan Bapak disuruh tinggal di rumah mertua. Sepengalaman Bapak, tinggal serumah yang di dalamnya terdapat lebih dari satu orang kepala keluarga itu serba tidak enak. Dalam arti ketika hendak melakukan apapun cenderung takut mengganggu anggota keluarga yang lain. "Kadang mau jalan ke kamar mandi malam-malam harus jinjit-jinjit, biar gak terdengar penghuni rumah yang lain," tutur Bapak dalam bahasa Jawa via telepon pada Jumat (03/12).

"Kalaupun sesekali pulang terus nginep di rumah mertua atau orang tua ya tidak masalah, kan hanya sementara," imbuh Bapak.

Bapak juga menambahkan kalau memang sudah niat menikah harus siap mandiri. Pol-polnya belum punya rumah sendiri, lebih baik tinggal di kontrakan. "Masalah rezeki jangan khawatir, kan niatnya sudah benar untuk ibadah. Insyaallah Allah akan membantu, jangan takut tidak cukup."

Berani menikah, berarti siap hidup mandiri. Bertanggung jawab sendiri dengan segala keadaan. Bahkan sebaiknya orang tua tak perlu tahu saat kita mengalami goncangan dalam berumah tangga. Sebab orang tua juga berharap agar anaknya bisa menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan.

Hidup mandiri itu sungguh penuh perjuangan. Apalagi jauh dari sanak saudara dan kerabat.  Kamu harus berani memutuskan setiap masalah sebagai proses belajar menjadi orang tua. Membesarkan anak,  menyekolahkan,  dan membekalinya hidup mandiri sepertimu.

Memang hidup ini  penuh  perjuangan dan itu yang akan membentuk kemandirian. Lalu menciptakan keluarga-keluarga tangguh dan pantang menyerah. Menyongsong masa depan lebih baik dan penuh harapan. Sebab menikah itu sebuah pilihan, dan berani menikah berarti berani mengambil jalan hidup mandiri,  untuk keberhasilan diri dan keturunannya kelak.

Banyak orang yang ditakdirkan hidup dalam keadaan kaya atau punya banyak harta sehingga ada yang memasakkan, membersihkan rumah, menyopiri kemanapun ia pergi, dan kemewahan lainnya. Namun, apakah semua itu akan berlangsung selamanya?

Nah, kemandirian inilah yang bisa menjadi bekalmu untuk menghadapi semua situasi dan kondisi yang acap kali di luar ekspektasi. "Kemandirian itu sangat penting, agar kamu bisa belajar prihatin," pungkas Bapak sebelum salam untuk mengakhiri percakapan kami malam itu.

Memahami niat menikah, sudah. Mempelajari kemandirian untuk berumah tangga juga sudah. Selanjutnya kita akan mulai memasuki persiapan menikah yang tak kalah penting yakni cara memilih jodoh yang baik. Bagaimana cara memilih jodoh yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salllam? Apa saja kriterianya? Stay tuned!

Redaktur: Prita K. Pribadi