Persiapan Menikah Bagian 3: Cara Memilih Jodoh yang Baik

Kamu tentu pernah mendengar sebuah peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Artinya, sifat seorang anak biasanya tak jauh dari sifat orang tuanya. Meski tak semua demikian, namun hal ini bisa dijadikan sebagai salah satu acuan ketika hendak memilih pasangan.

Persiapan Menikah Bagian 3: Cara Memilih Jodoh yang Baik
Persiapan Menikah Bagian 3: Cara Memilih Jodoh yang Baik. Sumber: indozone.id

Cara memilih suami atau istri merupakan sesuatu yang amat penting karena berkaitan erat dengan proses mendidik anak kelak. Kok bisa?

Kamu tentu pernah mendengar sebuah peribahasa, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Artinya, sifat seorang anak biasanya tak jauh dari sifat orang tuanya. Meski tak semua demikian, namun hal ini bisa dijadikan sebagai salah satu acuan ketika hendak memilih pasangan.

Melalui artikel ini, saya akan membagikan upaya agar bisa mendapatkan jodoh yang baik. Saya memperoleh materi ini saat mengikuti pengajian usia nikah yang diselenggarakan oleh DPD LDII Jakarta Pusat pada bulan November 2020. Selain itu, lebih lanjut saya akan membagikan beberapa tips lainnya dari kacamata wanita maupun laki-laki. Yuk, simak baik-baik!

1. Memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah

Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa ibadah merupakan tugas pokok seorang manusia. Dalam Al-Qur'an, Allah juga telah berfirman, "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." Oleh karenanya, seseorang yang memahami penggalan ayat ke-56 dalam surat Ad-Dzariyat ini, akan terus berusaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadahnya.

Kaitannya dengan cara memilih pasangan yang baik, hindari pemikiran rajin beribadah agar mendapatkan pasangan yang sesuai keinginan. Akan tetapi, tetap niatkan memperbaiki dan meningkatkan kualitas ibadah ini hanya karena Allah semata. Tak perlu khawatir, jika ibadahmu sudah baik di mata Allah, maka Allah pun akan memberikan yang terbaik untukmu. Kejar cintanya Allah, dan jangan underestimate kepada Allah, ya!

2. Melaksanakan taubat atas kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat dan menutup peluang terjadinya dosa

Setiap anak turun Nabi Adam pasti tak terlepas dari qodar bersalah. Dan sebaik-baiknya orang yang bersalah yaitu orang yang mengakui kesalahannya yaitu dengan segera bertaubat dengan taubat nasuha. Ada empat syarat taubat yaitu:

- mengakui kesalahan

- merasa menyesal dan tidak akan mengulanginya kembali

- memohon ampunan kepada Allah (memperbanyak istigfar)

- melaksanakan kafaroh (memperbanyak sedekah dan amalan-amalan lain sebagai pulihan)

Di samping melaksanakan taubat, kita juga perlu menutup peluang terjadinya dosa. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir terulangnya dosa yang sama maupun terjadinya dosa yang baru.

Dari sekian banyak firman Allah, ada sebuah firman yang berbunyi, "Dan janganlah kalian mendekati zina!" Ini menandakan bahwa larangan untuk melakukan zina tentu lebih keras lagi. Kemudian Allah melanjutkan, "Sesungguhnya zina adalah suatu kegiatan yang keji dan sejelek-jeleknya jalan." (QS. Al-Isra': 32)

Nah, tugas kita adalah berusaha menutup peluang terjadinya dosa tersebut. Melanjutkan contoh sebelumnya, yaitu zina. Maka peluang zina seperti pacaran, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, dan chatting berlebihan yang berisi rayuan atau mengumbar perasaan itu perlu dihindari. Dengan demikian peluang terjadinya dosa akan lebih kecil. Pasalnya, tak mungkin dua orang bertemu di jalan lalu tiba-tiba mereka berzina, kan?

3. Tidak mengawali pernikahan dengan kemaksiatan

Pernikahan merupakan bentuk ibadah yang bisa mendatangkan pahala. Sedangkan kemaksiatan merupakan perbuatan yang menghasilkan pundi-pundi dosa. Pernikahan yang diawali dengan kemaksiatan akan mengikis kebarokahan dari pernikahan itu sendiri.

Salah satu contoh sederhana bentuk kemaksiatan menjelang pernikahan adalah pacaran. Maka kita perlu mengubah mindset, bukan pacaran dulu baru nikah, tetapi nikah dulu baru pacaran. Kalau sudah menikah, setidaknya ketika mau kencan tak perlu sembunyi-sembunyi buat ketemuan di depan gang, hihi.

4. Mengerjakan salat istikharah dan salat hajat

Istikharah memiliki makna meminta pilihan. Sesuai dengan pengertiannya, salat istikharah berarti memohon pilihan yang terbaik berdasarkan sudut pandang Allah. Bagaimana cara mengetahui jawaban istikharah? Bagaimana kita tahu kalau itu pilihan Allah?

Memang betul, mimpi menjadi salah satu perantara dari jawaban istikharah. Namun perlu dipahami bahwa tidak semua jawaban istikharah melalui mimpi. Ada kalanya setelah istikharah kemudian muncul keyakinan atau keraguan terhadap seseorang yang sudah kita istikharahkan.

Jawaban istikharah ini juga bisa berasal dari nasihat atau masukan orang lain sehingga kamu bisa memiliki gambaran mana yang terbaik untukmu. Jadi jangan memiliki anggapan, “aku udah istikharah tapi kok gak mimpi-mimpi?” Sebab Allah menunujukkan jawabannya melalui berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya.

Kemudian salat hajat. Hajat di sini memiliki arti maksud, keinginan, atau kehendak. Dengan melaksanakan salat hajat berarti kamu sudah melibatkan Allah ke dalam sebuah hajat yang ingin kamu capai apalagi hajat VVIP seperti menikah. Salat hajat ini menjadi modal yang amat penting agar Allah memberi kemudahan dan kebarokahan di dalam pernikahanmu dan kehidupan setelahnya.

5. Meminta nasihat, saran, dan rida orang tua

Sudah tak perlu diragukan lagi bagaimana peran orang tua dalam kehidupan seseorang. Meski terkadang beliau tidak berperan secara langsung, tetapi dampaknya bisa sangat terasa. Termasuk ketika memilih pasangan, jangan sungkan untuk meminta pendapat orang tuamu. Apakah calonmu ini baik menurut orang tuamu? Apakah orang tua rida jika kamu menikah dengannya?

Sebab Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

"Rida Allah terdapat pada rida orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua." (HR. At-Tirmidzi).

Itulah lima upaya yang bisa kamu lakukan dalam rangka memilih pasangan yang baik. Sebagai anak maupun orang tua harus menyadari bahwa pernikahan adalah amalan mulia tetapi tidak lepas dari cobaan, sehingga dalam memilih pasangan harus mempunyai visi dan misi yang jauh ke depan. Bukan hanya sekadar asal suka atau karena faktor keduniaan semata.

Oleh sebab itu, pilihlah calon pasangan sesama orang Islam yang beriman agar bisa memiliki visi dan misi yang sefrekuensi yaitu bahagia menjalani kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat nanti.

Sebagai wanita, cobalah pikirkan, apakah lelaki yang akan menikahimu bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anak-anakmu kelak? Apakah ia bisa menjadi imam yang baik untuk keluargamu? Apakah ia bisa membimbing keluarganya untuk masuk surga?

Dalam berumah tangga, seorang suami memiliki kewajiban yang pokok yaitu sebagai pengatur, pengayom, dan pemimpin, serta berkewajiban memberikan nafkah lahir dan batin. Akan tetapi, terdapat kewajiban penting yang banyak dilalaikan oleh para suami yaitu mendidik dan mengajarkan perkara agama kepada anak dan istrinya. Peran suami sebagai pendidik ini tak bisa berjalan sebagaimana mestinya kalau suami suka keluyuran, meninggalkan anak dan istri tanpa adanya keperluan yang mendesak.

Untuk itu, dalam memilih suami, hendaklah melihat bagaimana kepahaman agamanya. Bagaimana salat wajibnya? Apakah ia ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pengurus masjid di lingkungannya? Sebab sebagai seorang istri, kamu akan membutuhkan sosok imam yang bisa memberikan bimbingan dan arahan yang baik kepadamu. Kamu bisa menggali informasi terkait hal-hal tersebut dengan bertanya kepada kerabatnya atau pengurus masjid yang bersangkutan.

Selain memiliki kepahaman agama yang baik, lihat pula bagaimana akhlaknya. Coba kamu tengok, dengan siapa dia berteman? Bagaimana perilakunya terhadap keluarga terutama orang tuanya? Bagaimana pula sikapnya terhadap orang yang lebih tua maupun lebih muda darinya?

Lelaki dengan akhlak yang baik cenderung memiliki sifat pengertian, penyabar, bisa mengendalikan emosi, memiliki cara bicara dan tutur kata yang lembut, dan bertanggung jawab. Dengan akhlak yang baik, ia juga akan memperlakukanmu dengan baik. Percayalah, hal-hal semacam ini akan terasa dan sangat kamu butuhkan setelah menikah nanti.

Lelaki yang saleh juga berpotensi memberikan jaminan rasa aman dan bertanggung jawab dalam membina rumah tangga serta mendidik anak-anaknya. Lelaki seperti ini apabila mencintai, maka akan memuliakan seseorang yang dicintainya. Dengan agama dan akhlak, ketangguhan dan amanah bisa terbentuk. Hal itu menjadi landasan utama yang menentukan suksesnya sebuah rumah tangga.

Pun demikian sebagai laki-laki, cobalah pikirkan, apakah kira-kira wanita yang akan kamu nikahi ini bisa menjadi istri yang baik bagimu? Apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak? Apakah ia bisa menjadi madrasah yang layak? Karena sejatinya pendidikan anak oleh seorang ayah dimulai ketika si calon ayah tersebut memilih istri.

Lalu bagaimana kriteria istri yang baik? Dalam sebuah kesempatan, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Beliau menjawab, "Yang paling menyenangkannya jika dilihat suaminya, dan menaatinya jika ia memerintahkannya dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya." (HR. An-Nasa’i)

Maksud dari "tidak menyelisihi dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci oleh suaminya" adalah, misalkan sang suami tak suka melihat istri memakai baju tertentu padahal baju tersebut merupakan baju yang sangat disukai oleh si istri. Maka seorang istri shalihah akan legowo dan mendahulukan keinginan suami daripada seleranya sendiri.

Inilah karakter wanita atau istri yang baik. Dia berusaha mempercantik dirinya ketika berada di hadapan suaminya atau setiap kali bersama suaminya. Demikian pula perhatian dan fokus utama seorang istri selalu berkaitan dengan kebutuhan, keinginan, dan perintah sang suami. Dengan catatan perintah yang baik, bukan perintah untuk bermaksiat.

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan alasan-alasan yang perlu kamu pertimbangkan ketika hendak memilih istri. Beliau bersabda,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." (HR. Muslim)

See? Lagi-lagi kepahaman agama menjadi tolok ukur utama.

Di samping itu, ada kriteria lain yang mungkin belum disadari oleh kebanyakan laki-laki. Saya memperoleh kriteria ini dari Mas Habib Maulana, teman sekaligus guru saya. Mas Habib juga pernah menjadi narasumber di kanal Youtube INJO.ID pada rubrik Alasan Menikah.

Saat itu, kami tak sengaja bertemu di sebuah musala. Kami ngobrol sebentar dan saya memanfaatkan momen tersebut untuk bertanya-tanya tentang kehidupan berumah tangga kepada Mas Habib karena kebetulan saya juga hendak melangsungkan pernikahan, hehe.

Mas Habib mengatakan, “Kalau kamu ingin merasakan nikmatnya memiliki istri, carilah wanita yang tidak bekerja! Tetapi kalau kamu mau segera memiliki rumah dan bisa segera memenuhi keperluan lainnya, carilah istri seorang pekerja atau wanita karir!”

Kemudian ia menjelaskan, wanita yang tidak bekerja memiliki banyak waktu di rumah. Sehingga ia bisa meng-handle segala urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan menyiapkan semua keperluanmu dengan baik. Ketika kamu pulang kerja dalam keadaan lelah, sudah ada wanita cantik yang menyambutmu dengan senyuman dan pelukan hangat. “Semua pelayanan tersebut bisa kamu rasakan secara optimal apabila memiliki istri seorang ibu rumah tangga,” lanjut Mas Habib.

Namun untuk bisa memiliki rumah dan memenuhi kebutuhan lainnya perlu sedikit bersabar karena pemasukan hanya berasal dari satu sumber yakni pihak suami. Berbeda apabila kamu memiliki istri seorang pekerja. Dengan pemasukan yang berasal dari dua sumber utama, kalian bisa bersama-sama menabung sehingga bisa memenuhi kebutuhan semisal rumah dengan lebih cepat. “Akan tetapi perlu diingat, sebagai suami kamu harus bisa menyadari bahwa istrimu sudah lelah bekerja di luar,” tutur pria yang memiliki dua anak tersebut.

Dengan demikian kamu harus bisa memaklumi apabila kondisi rumah kurang tertata rapi. Atau mungkin kamu jarang mendapatkan sambutan yang hangat ketika pulang karena adaya perbedaan jam kerja, dan lain sebagainya. Semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tugasmu adalah belajar berdamai dengan hal itu :).

Alhamdulillah, kita sudah mengetahui cara memilih pasangan yang baik beserta kriterianya. Selanjutnya, hal yang perlu kita ketahui adalah syarat-syarat sah pernikahan. Apa saja syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pernikahan bisa dilangsungkan? Insyaallah akan INJO.ID bahas pada episode berikutnya. Stay tuned, ya!

Redaktur: Prita K. Pribadi