Persiapan Menikah Bagian 4: Mengetahui Syarat Sahnya Pernikahan

Dalam pernikahan, khususnya di dalam ruang lingkup agama Islam, setidaknya ada 5 syarat yang harus terpenuhi agar sebuah pernikahan bisa dilaksanakan. Saya mengetahui hal ini dari pengajian usia nikah yang diselenggarakan oleh DPD LDII Jakarta Pusat pada bulan November 2020 silam.

Persiapan Menikah Bagian 4: Mengetahui Syarat Sahnya Pernikahan
Akad nikah. Sumber: news.detik.com

Layaknya mendaftarkan diri untuk bisa masuk ke dalam perguruan tinggi, atau mengikuti seleksi agar bisa menjadi bagian dari sebuah instansi, pernikahan pun memiliki persyaratan-persyaratan yang harus terpenuhi. Terlebih, mayoritas pernikahan ini hanya terjadi seumur hidup sekali. Kecuali bagi mereka yang kehilangan pasangan, baik karena meninggal ataupun bercerai, kemudian menikah untuk yang kedua kali. Atau mungkin bapak-bapak yang menempuh jalur poligami.

Dalam pernikahan, khususnya di dalam ruang lingkup agama Islam, setidaknya ada 5 syarat yang harus terpenuhi agar sebuah pernikahan bisa dilaksanakan. Saya mengetahui hal ini dari pengajian usia nikah yang diselenggarakan oleh DPD LDII Jakarta Pusat pada bulan November 2020 silam. Yap! Masih dalam forum pengajian yang sama dengan materi persiapan menikah sebelumnya yang berbicara tentang cara memilih jodoh yang baik.

Tak perlu berlama-lama agar lebih menghemat kuota, inilah 5 syarat sahnya pernikahan. Monggo disimak!

1. Ada Calon Mempelai Laki-laki dan Perempuan

Berbicara pernikahan dalam Islam, tentu saja kedua calon mempelai yang hendak menikah harus sama-sama memeluk agama Islam. Kedua mempelai juga tidak memiliki hubungan mahram baik dari jalur nasab, jalur pernikahan, maupun jalur susuan.

Selain itu, kedua mempelai yang akan menikah ini tak boleh dalam keadaan ihram atau keadaan suci untuk menunaikan ibadah haji maupun umrah. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُحْرِمُ لَا يَنْكِحُ وَلَا يُنْكِحُ وَلَا يَخْطُبُ

"Orang yang sedang melaksanakan ihram tidak boleh menikah, tidak boleh menikahkan dan tidak boleh mengkhitbah." (HR. Ahmad).

Selanjutnya, kedua mempelai juga harus saling ridho. Ridho memiliki arti rela; suka; senang hati. Bukan karena terpaksa. Dengan kata lain, kamu menikah pure karena saling suka dan yakin bahwa calonmu itu merupakan sosok yang bisa menjadi partner untuk meraih surga.

Bagaimana jika dijodohkan?

Kalau kamu merasa kurang cocok, bicarakan baik-baik dengan orang tuamu. Sampaikan alasan-alasan yang membuatmu kurang srek terhadap seseorang yang hendak dijodohkan denganmu. Tentu dengan cara yang baik. Insyaallah sebagai orang tua juga akan mengerti bagaimana perasaan dan keinginan anaknya. Sebab kelak yang akan menjalani kehidupan berumah tangga ya anaknya. Namun, kalau kamu suka dan ridho, kenapa harus menolak? Apalagi kalau dijodohkan dengan orang yang memang kamu harapkan, mantap kan?

2. Ada Wali

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak sah pernikahan tanpa seorang wali." (HR. Darimi).

Orang yang berhak menikahkan seorang perempuan adalah walinya, dan wali yang paling utama ialah ayah kandung si perempuan tersebut. Apabila ayah kandungnya telah tiada atau karena beberapa hal sehingga beliau tak bisa atau tak sanggup menjadi wali, maka kewaliannya boleh diwakilkan.

Urutan wali pernikahan dari jalur nasab ayah antara lain kakek, anak laki-laki yang sudah dewasa (balig), saudara laki-laki sekandung, dan seterusnya. Kemudian dari nasab ibu terdapat kakek, saudara laki-laki, keponakan laki-laki, paman, dan seterusnya. Sebagai catatan, wali dari nasab ibu ini bisa menjadi wali hanya ketika tidak ada satupun wali dari nasab ayah.

Praktik yang sering dijumpai di Indonesia, tak sedikit wali yang mewakilkan perwaliannya kepada penghulu dari pihak KUA (Kantor Urusan Agama). Sebab mereka menganggap para penghulu ini lebih berkompeten dalam hal menikahkan. Sehingga prosesi pernikahan bisa berjalan lebih lancar.

3. Ada Saksi (Sedikitnya Dua Orang Laki-laki)

Setiap pernikahan yang diselenggarakan di dalam agama Islam wajib dihadiri oleh saksi nikah yang terdiri dari minimal dua orang laki-laki. Kedua laki-laki ini bisa berasal dari pihak keluarga laki-laki atau dari pihak keluarga perempuan saja. Atau bisa juga satu dari pihak laki-laki, satu dari pihak perempuan. Tergantung bagaimana kesepakatan kedua belah pihak.

Mengingat sakralnya suatu acara pernikahan, maka saksi nikah harus laki-laki yang beragama Islam dan memiliki akal serta telah dewasa (balig). Dengan maksud agar laki-laki yang ditunjuk sebagai saksi ini bisa mempertanggungjawabkan persaksiannya.

4. Ada Maskawin atau Mahar

Maskawin atau mahar merupakan sesuatu yang tak boleh luput dari sebuah acara pernikahan. Hal ini tercermin dari sebuah hadis yang mana Ibnu Umar berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الشِّغَارِ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'aliahi wasallam melarang nikah syighar (nikah tanpa mahar)." (HR. Ahmad).

Kemudian sebagian ulama menyebutkan bahwa jumlah mahar disesuaikan dengan jumlah yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yaitu pihak laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, pihak perempuan memiliki hak untuk menyebutkan berapa jumlah mahar yang diinginkan.

Namun, tak bisa menjadi patokan ketika seorang perempuan meminta mahar yang tinggi kemudian pernikahannya akan semakin berkah dan bahagia. Mahar juga tak menjadi tolok ukur kemuliaan di dunia maupun ketakwaan di sisi Allah. Sebab tolok ukur ketakwaan dalam pernikahan dilihat dari tanggung jawab mempelai laki-laki dan perempuan terhadap hak dan kewajibannya masing-masing terutama dalam hal beribadah.

Adapun bentuk mahar ini lebih baik berupa barang yang berwujud dan memiliki nilai seperti perhiasan, uang, seperangkat alat salat, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan mahar berupa surat atau ayat Al-Qur’an?

Dalam sebuah riwayat hadis, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam didatangi seorang wanita, lalu wanita itu berkata, "Aku berikan diriku kepada engkau." Dia berdiri dalam waktu yang lama.

Kemudian ada seorang laki-laki yang berkata, "Wahai Rasulullah, nikahkanlah dia denganku, jika engkau tidak menyukainya."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kamu memiliki sesuatu untuk maharnya." Laki-laki itu menjawab, "Aku tidak punya apapun kecuali pakaian yang ada pada badanku ini."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyanggah, "Jika pakaianmu kamu berikan, maka kau duduk tanpa pakaian. Carilah yang lainnya!"

"Tidak ada," jawab si laki-laki. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi perintah, "Carilah walau sebuah cincin besi!"

Laki-laki itu mencarinya, namun tetap tidak mendapatkannya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kamu hafal (ayat) Al-Qur’an?" Dia menjawab, "Ya. Surat ini dan itu (beberapa surat yang dia baca)."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Aku nikahkan kamu dengannya dengan (mahar) hafalanmu (atas ayat-ayat) Al-Qur'an."

Abu Isa berkata, "Ini merupakan hadis hasan sahih." Imam Syafi'i berpendapat berdasarkan hadis ini. Dia berkata, “Jika dia tidak memiliki sesuatu untuk mahar, maka dia bisa menikahinya dengan beberapa surat dari Al-Qur'an. Nikahnya boleh dan dia harus mengajari istrinya beberapa surat Al-Qur'an tersebut. (HR. Tirmidzi)

Dari kisah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mahar berupa ayat atau surat Al-Qur’an itu boleh. Akan tetapi kurang afdal. Karena jika menilik kisah di dalam hadis tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan si laki-laki untuk mencari sebuah mahar berupa benda terlebih dahulu meskipun hanya sebatas cincin  yang terbuat dari besi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak meminta laki-laki itu untuk mencari cincin berbahan dasar emas ataupun perak.

Nah, ketika laki-laki itu sudah benar-benar tak sanggup untuk menemukan cincin dari besi, baru Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruhnya untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia hafal untuk dijadikan mahar. Kisah tersebut juga sudah cukup membuktikan bahwa mahar berupa benda lebih diutamakan, meski nilainya kecil sekalipun.

Kalau memang ingin tetap menggunakan ayat Al-Qur’an sebagai mahar, alangkah baiknya gunakan bersamaan dengan mahar berupa benda walaupun nominalnya sedikit. Surat apapun boleh dijadikan mahar, tak harus surat Ar-Rahman. Namun, pastikan ayat yang kamu gunakan sebagai mahar merupakan ayat yang benar-benar kamu hafal dan kamu memahami isi kandungan dari ayat tersebut. Sebab setelah menjadi seorang suami, kamu memiliki kewajiban untuk mengajari istrimu beberapa surat Al-Qur’an tersebut.

Masih berbicara tentang mahar, ada satu kejadian menarik seperti yang diceritakan oleh 'Amir bin Rabi'ah, ia menceritakan,

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ

Ada seorang wanita dari Bani Fazarah menikah dengan mahar berupa sepasang sandal. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, "Apakah kamu rela atas diri dan hartamu dengan sepasang sandal ini?" Perempuan itu menjawab, "Ya." 'Amir berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membolehkannya." (HR. Tirmidzi)

Nyatanya, pada zaman Nabi pun ada seorang wanita yang menikah hanya dengan sepasang sandal sebagai mahar. Ya, sesederhana itu. Apakah kamu juga tertarik untuk menjadikan sepasang sandal sebagi mahar pernikahanmu?

Selama kamu dan calonmu sama-sama ridho, boleh-boleh saja. Tetapi kalau memang ingin menggunakan sepasang sandal sebagai mahar, ya jangan sandal jepit sejuta umat yang suka menghilang ketika salat Jumat. Yakali buat istri idaman cuma sepasang sandal pasaran. Minimal ya Slippers Flip Injo 1.0. Hihi.

Pada intinya, Sebaiknya-baiknya mahar adalah yang tidak memberatkan pihak laki-laki dan tidak merendahkan pihak perempuan. Bukankah demikian?

5. Ada Ijab Kabul

Ijab kabul sama dengan akad nikah. Ijab berarti kata-kata yang diucapkan oleh wali mempelai perempuan pada waktu menikahkan mempelai perempuan. Sedangkan kabul artinya ucapan tanda setuju (terima) dari pihak laki-laki. Dengan kata lain, ijab kabul berarti tanda serah terima layaknya proses jual beli namun dalam hal ini pihak wali menyerahkan anak perempuannya kepada pihak laki-laki.

Di Indonesia, ada sebagian ijab kabul yang menggunakan bahasa Arab ada pula yang menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini tak perlu dipermasalahkan karena hanya perbedaan bahasa, toh maknanya tetap sama. Jadi, baik bahasa Arab maupun bahasa Indonesia itu boleh dan pernikahan pun tetap sah.

Itulah lima syarat sah pernikahan. Alhamdulillah, kita telah mengetahui syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya, bagaimana proses melamar yang baik menurut Islam? Lalu bagi laki-laki, apa yang sebaiknya dilakukan ketika memiliki hasrat untuk menikahi seorang perempuan? Eh, boleh gak sih perempuan melamar duluan?

Nah, insyaallah pertanyaan-pertanyaan di atas akan dikupas pada artikel selanjutnya. See you on the next article, bestie!

Redaktur: Prita K. Pribadi