PPKM : (bukan) Pura-Pura Kelihatan Miskin

Ternyata apa yang terlihat dari penampilan seseorang, tak menjamin hal tersebut sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Hal ini bisa kita lihat dari kisah pria pembeli bakso di atas. Siapa yang menyangka bahwa seseorang dengan penampilan yang terlihat serba berkecukupan namun kenyataannya berseberangan?

PPKM : (bukan) Pura-Pura Kelihatan Miskin
Ilustrasi Penerapan PPKM. Sumber: beritasatu.com

Pandemi Covid belum berakhir sejak 2019 hingga saat ini. Apalagi dengan adanya varian baru jenis omicron yang telah masuk ke Indonesia. Bahkan varian tersebut diyakini lebih cepat menular daripada varian-varian sebelumnya (detik.com). Salah satu upaya pemerintah untuk mencegah peningkatan kasus Covid yang masih berlangsung hingga kini adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau disingkat dengan PPKM.

Adanya PPKM ini cukup berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk kondisi perekonomian masyarakat. Banyak masyarakat yang tak berdaya. Terkadang mereka berjualan namun orang lain tak mampu membeli. Mereka juga tak mampu bekerja karena pekerjaan terbatasi. Kondisi ini membuat dilema, bagaimana cara memenuhi kebutuhan sedangkan kemampuan dan barang-barang yang tersedia tak mampu dijadikan sumber penghasilan?

Berbicara soal PPKM, aku teringat pada awal bulan Agustus lalu, tepatnya tanggal 2 Agustus 2021, aku bersama kedua orang tuaku mengunjungi kediaman Pak Subhan, teman ayahku, di daerah Klojan, Kota Malang. Pada kesempatan tersebut, Pak Subhan bercerita tentang banyak hal mulai dari hal receh seperti jumlah kucing yang ada di rumahnya, hingga kisah yang menarik perhatianku yaitu kisah nyata seseorang yang terkena dampak dari PPKM karena adanya pandemi Covid.

Pak Subhan bercerita, suatu hari ada penjual bakso berhenti di depan rumahnya. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pria dengan pakaian dan sepeda motor yang bagus menghampiri penjual bakso. Kemudian pria tersebut memesan bakso seraya menyodorkan uang sejumlah Rp3.000,00. Melihat kejadian tersebut, muncul rasa penasaran di dalam hati Pak Subhan. Setelah pria itu selesai membeli bakso, Pak Subhan bertanya kepadanya, “Mas, saya lihat motor Anda bagus, pakaian Anda juga bagus. Tetapi kenapa Anda membeli bakso hanya 3000 rupiah?"

“Iya pak, karena uang saya adanya ini,” jawab pria itu.

Mendengar jawaban itu membuat Pak Subhan semakin penasaran. “Loh, kok bisa, Mas? Dari penampilan Anda, dan juga motor Anda yang bagus ini, Anda terlihat tidak memiliki masalah ekonomi.”

Kemudian pria itu menjawab, “Iya, Pak. Mungkin dulu kondisi saya seperti yang Bapak pikirkan. Namun semenjak adanya pandemi ini membuat keadaan saya berubah."

“Saya kerja mendapatkan gaji sebesar 5 juta tiap bulannya. Namun uang itu dipakai untuk bayar cicilan motor dan cicilan rumah. Sisanya 800 ribu, itu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya sehari-hari. Dan saya sekarang sudah tidak bekerja lagi, Pak,” imbuh pria itu.

"Kenapa mas tidak jual saja sepeda motornya? Kan uangnya bisa dipakai buat tambah-tambah kebutuhan sehari-hari,” saran Pak Subhan.

“Kalau saya jual motor ini, siapa yang mau beli, Pak? Apalagi masih ada tanggungan cicilannya yang belum lunas," sahut pria itu sekaligus mengakhiri percakapan.

Sayangnya, ucapan pria itu juga menjadi akhir dari cerita Pak Subhan. Entah bagaimana kondisi ekonomi dari keluarga pria itu saat ini. Semoga Allah mudahkan segala urusannya dan melancarkan rezekinya. Aamiiin.  

Ternyata apa yang terlihat dari penampilan seseorang, tak menjamin hal tersebut sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Hal ini bisa kita lihat dari kisah pria pembeli bakso di atas. Siapa yang menyangka bahwa seseorang dengan penampilan yang terlihat serba berkecukupan namun kenyataannya berseberangan?

Kisah ini membuatku cukup terkesan, karena bukannya berpura-pura terlihat “miskin” dan mengharapkan belas kasihan orang lain, namun pria itu justru tak segan berbagi kondisi yang ia alami kepada orang lain. Mungkin menurut pria tersebut ia hanya sekadar bercerita. Namun melalui ceritanya, Allah seolah-olah mengajarkanku tentang arti bersyukur. Apakah kamu merasakan hal yang sama?

Rasanya selama ini aku adalah manusia yang tak tahu diri, merasa apa yang kumiliki saat ini seperti makanan di meja, pakaian di lemari, keluarga yang memfasilitasi segala kebutuhanku, adalah hal yang wajar dimiliki oleh semua orang. Ternyata tidak. Ada banyak orang yang untuk makan hari itu saja mereka belum tahu mau makan apa. Hal ini mengingatkanku pada sebuah hadis. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِى سِرْبِهِ مُعَافًى فِى جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

”Barang siapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141).

Membaca hadis tersebut harusnya sudah cukup membuat kita bersyukur pada setiap waktunya. Salah satu penyebab kebanyakan orang lupa akan nikmat-nikmat yang ia punya dan selalu merasa kurang adalah karena ia terlalu sibuk melihat orang lain yang berada di atasnya. Ketika membuka sosial media misalnya, yang dilihat adalah berbagai macam kemewahan dan kebahagiaan orang lain. Ketika ia tidak memiliki kemewahan dan kebahagiaan tersebut, biasanya ia akan mulai membandingkan hal itu dengan dirinya. Alih-alih ikut merasa senang dan bersyukur, ia malah merasa insecure. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah berpesan,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kalian, dan janganlah kalian melihat orang yang lebih tinggi dari kalian, sesungguhnya hal itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah." Abu Mu'awiyah menyebutkan dengan redaksi, "(nikmat Allah) atas kalian."  (HR. Ibnu Majah)

Dari kisah yang diceritakan Pak Subhan dan beberapa kandungan hadis di atas, aku ingin mengingatkan kepada diriku sendiri dan kamu yang membaca artikel ini bahwa sebanyak apapun yang kita miliki, sebanyak apapun keberhasilan yang kita capai, jika tidak ada rasa cukup dalam diri maka kita akan selalu merasa kurang.

Bahagia adalah bukan semata-mata ketika kita berhasil mendapatkan sesuatu, melainkan bagaimana kita merasa cukup dan bersyukur atas pemberian Allah. Selain itu, karena kita adalah manusia yang sering lupa, maka kita perlu berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk selalu bersyukur.

رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml: 19).

Redaktur: Ubaid Nasrullah