Privilege Jadi Faktor Penting Kesuksesan, Apa Betul?

Hmmm, apakah benar sebuah privilege sebegitu pentingnya? Lalu apakah tak ada harapan yang sama besar bagi seseorang yang berasal dari latar belakang ekonomi dan keluarganya biasa saja?

Privilege Jadi Faktor Penting Kesuksesan, Apa Betul?
Sosok Nur Imroatun Sholihat, gadis asal desa yang berhasil mengenyam pendidikan setinggi-tingginya hingga ke negeri Kangguru. Sumber: INJO.ID

Beberapa hari lalu, jagat maya ramai dengan pemberitaan seorang aktris manis, Maudy Ayunda karena telah berhasil lulus dari Pendidikan S2 di Stanford University, Amerika Serikat. Namanya kini bertransformasi berkat gelarnya menjadi Ayunda Faza Maudya, BA, MA, MBA. Menambah satu anak berprestasi tentu sangat membanggakan dan menjadi sumber inspirasi bagi satu negeri ini. Sontak hal ini menjadi perbincangan, utamanya muda-mudi di Indonesia.

“Bayangin lu jadi anak tetangganya,” ucap akun @bungutpisage.

“Ga perlu insecure nder, jadi kayak Mbak Maudy itu privilege banget. Gak cuma jadi pintar aja tapi ada latar belakang ekonomi dan juga keluarga yang support. Good parenting is most important things in the factor of successfulness. Privilege is not a joke. Dijadiin motivasi aja ya,” komentar @werdiningrum21_.

“Bener. Ini justru jadi motivasi buatku untuk punya banyak duit. Biar anakku kelak punya privilege and opportunity yang sama dengan Maudy Ayunda. Anyone can, right?!!,” balas akun @victoryhunter_.

Hmmm, apakah benar sebuah privilege sebegitu pentingnya? Lalu apakah tak ada harapan yang sama besar bagi seseorang yang latar belakang ekonomi dan keluarganya biasa saja? 

Demi mendapat gambarannya, kali ini aku akan membahas seseorang yang bahkan datang dari keluarga sederhana tapi prestasinya luar biasa. Yuk kita simak!

Perkenalkan, namanya Nur Imroatun Sholihat, S.E., CIA, CISA, CAPM atau akrab dipanggil dengan sebutan Mbak Iim. Ya, tampak dari gelar panjangnya itu, gadis kelahiran Purworejo ini punya sikap kegigihan yang patut diteladani dalam meraih mimpi.

Aku mengenal Mbak Iim sedari aku duduk di bangku perkuliahan daerah Lampung. Mungkin hubungan kami lebih seperti kakak-adik, junior-senior, atau tidak jarang jadi mentor-mentee. Hal ini karena kami punya banyak kesamaan. Paling tidak, sama-sama bergelut di bidang akuntansi dan punya hobi senada yaitu menulis. Meskipun kini Mbak Iim sedang menggeluti bidang IT audit di Kementerian Keuangan, hubungan kami yang diawali dari kuliah dengan fakultas dan tinggal di lingkungan kos yang sama⎯membuatku mengenal sosok perempuan ini sedikit lebih banyak ketimbang orang lain.

Ya, kini ia menjadi salah satu pegawai di Kementerian Keuangan RI sebagai IT Auditor. Menjadi chief reporter pun ia lakoni di sebuah majalah cukup bergensi bertempatnya ia bekerja bernama Auditoria.  Selain itu, Mbak Iim juga seorang Ambassador dari SheLeadsTech, gerakan yang mendorong dan mendukung perempuan untuk berkecimpung di dunia IT. Tak hanya sampai situ, perempuan yang tumbuh dan besar di tanah Jawa ini telah menjadi Public Relations Manager dari MoF-Data Analytics Community. Demi mengisi waktu luang, Mbak Iim juga kerap menulis di blog pribadinya www.imzpression.com. Terkadang juga didapati ia aktif menulis dan membaca puisi di beberapa kegiatan.

Fuih… bacanya saja hampir tak pernah istirahat jika aku berperan sebagai Mba Iim ini! Seolah tidak berhenti untuk tumbuh kembang dan mengagumkan, Kabar baru yang aku dapatkan darinya, kini ia mendapatkan Australia Awards Scholarship. Waduuuh, kehebatan macam apa lagi ini?! Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Negeri Kangguru yang dibiayai langsung oleh Pemerintah Australia. Ia berhasil mencatatkan dirinya menjadi salah satu dari 50 penerima beasiswa dengan 6.021 pendaftar. “Aku Insyaallah berangkat ke Australia nanti di Januari tahun 2022 setelah border Australia dibuka,” jelas Mbak Iim ketika ditanya perihal kapan keberangkatan studinya via telepon, Minggu (11/04).

Disela percakapan kami yang telah lama tidak berkabar dan penuh rasa penasaran, apa sebetulnya kunci kesuksesan yang selalu dipegang? Lalu ia menjawab dengan tegas, “Kegigihan, Believe In Your Dream, Yourself, and Work For it!”.

Nah, jika sebagian dari kita berpikir bahwa seseorang harus terlahir pintar untuk menggenggam mimpinya dan privilege demi memudahkan hidup. Lain kata dengan Mbak Iim, sikap gigih justru menjadi kuncinya. Ia juga mengaku, dirinya bukan orang yang sering menduduki peringkat pertama di sekolah. Apalagi berasal dari keluarga kaya raya yang penuh dengan privilege. “Yang terpenting adalah seseorang harus tahu betul apa mimpinya, tahu kapasitas dirinya dan mau berjuang untuk sampai di titik yang dituju. Tentu saja, tanpa mengesampingkan aspek lain bernama takdir,” kata Mbak Iim.

Semua hal yang didapatkan hari ini nyatanya bukan sebuah hal yang tiba-tiba menjelma menjadi besar. Aku ingat betul ketika ia mengisahkan mimpi-mimpinya sejak awal. Seolah kembali ke masa Iim Kecil, ia bercerita berbagai hal. Mulai dari ragam beasiswa sekolah yang diterima sejak sekolah dasar. Lalu memulai karirnya di dunia menulis sejak sekolah menengah. Hingga momen saat ia memenangkan lomba menulis dan menjadi juara pertama kala itu. “Lomba itu jadi titik turning point ku,” katanya singkat. Kala itu ia berjuang melawan para peserta lain dari Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan telah memberikannya hadiah lebih besar dari pada nominal SPP sekolah dalam satu tahun!

Mau tahu hal mengagumkan lainnya saat Mbak Iim membangun mimpinya yang keren ini?

Ternyata Mbak Iim sudah mengkhayalkan semua impiannya saat di bangku SMP loh! “Memulai rencana besar dari memilih akan SMA dimana, kuliah dimana, hingga mimpi kuliah di luar negeri,” ungkapnya.

Mbak Iim sadar akan kesulitan untuk mewujudkan mimpinya kala itu. Mengingat ia lahir dari desa, dengan stereotype masyarakat yang kerap kali merendahkan mimpi dan cita-cita. Belum lagi kesulitan yang harus dihadapi ketika orang tuanya kurang kooperatif.  Ia harus meyakinkan berkali-kali dengan penjelasan yang begitu mendetail. Ditambah lagi tantangan proses belajar karena teknologi zaman dulu belum secanggih hari ini. “Tetap berbicara dengan orang tua melalui pendekatan yang perlahan dan mudah dimengerti, tidak menghiraukan cemooh orang yang meremehkan meski kadang menyakiti hati”. Betapa ia berjalan tegak, selalu fokus pada tujuan utama yang telah direncanakan sejak dulu. Hal ini mengingatkanku pada sebuah ayat Al-Qur’an yang berbunyi:


فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” – (QS. Al Insyirah : 5-6)

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya, Dia bahkan menyebutkan dua kali dalam ayat yang berdekatan, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.

Diantara percakapan panjang kami, aku menanyakan sebuah pertanyaan padanya: “Lantas, bagaimana cara Mbak Iim melewati semua kesulitan itu?”

“Ketika kesulitan menghampiri, kita harus mengingat alasan kita memulai, alasan kita melangkah.” Sungguh jawaban yang singkat, padat, dan begitu menyentuh! Di ujung percakapan, aku mencoba menanyakan apa saja tips yang bisa diberikan untuk kita yang sedang berupaya menggapai mimpi. Berikut jawaban yang aku ringkas untuk teman INJO.ID.

1. Kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri

Bukan berarti dengan mengajak diri sendiri perang batin, melainkan yang dimaksud adalah mengalahkan diri akan ketakutan, kemalasan, dan beragam hal negatif lainnya yang melekat. Ia mengajari untuk berbicara pada diri sendiri dan bekerja sama meraih tujuan. Maka untuk sampai tahap ini; kita harus mengenal diri sendiri, mengajak diri berdiskusi soal ketakutan apa saja yang ada dan mencari solusi atas berbagai ketakutan itu. Hingga akhirnya perasaan takut dan ingin menyerah bisa terkalahkan.

2. Selalu mengelilingi diri dengan positive vibes (lingkaran yang positif)

Membuat circle yang memiliki mimpi dan energi yang sama. Menjadi jujur satu sama lain, agar bisa saling mendukung dan mencarikan solusi. Juga, penting untuk memiliki orang yang lebih berpengalaman pada bidang yang kita targetkan. Sebab, orang yang lebih berpengalaman biasanya memiliki kacamata yang lebih luas. Tak lupa Mbak Iim mengingatkan untuk lebih banyak membaca hal-hal yang positif, tentu tanpa melupakan Al-Quran dan Hadis sebagai pegangan utama seorang muslim.

Diantara banyaknya pencapaian yang telah diraih, Mbak Iim mengaku bahwa masih ada beberapa mimpi yang belum bisa ia raih, Salah satunya adalah mendukung mimpi orang lain dan menjadi manusia yang bermanfaat banyak bagi sekitar. “Ingin menjadi hebat dan menghebatkan orang lain… Karena saat ini masih belum bisa berdampak banyak untuk orang lain. Dan masih berupaya untuk menggapai itu.”

Wow! Sudah punya pencapaian sehebat ini, tapi masih berpikir kebermanfaatannya bagi orang lain loh. Masya Allah.

Upaya menjadi seseorang yang bermanfaat, ia lakukan melalui bantuan jika seseorang punya minat di bidang IT, menulis, akuntansi, atau pertanyaan seputar beasiswa. “Akan selalu menyenangkan untuk bisa membantu orang lain menggapai mimpi mereka,” kata Mbak Iim. Wih, adem banget ya dengarnya!

Selain itu, ia juga siap berbagi tips dan trik tentang bagaimana seseorang berhasil meski tidak dikelilingi privilege?

Tak menutup kenyataan, ia pun menyadari orang yang terlahir dengan privilage akan lebih mudah untuk menggapai mimpi. Tapi kalau kita tidak punya itu, bukan berarti kita harus menyerah dan berhenti mencoba. “Meskipun memang kita harus berlari lebih kencang, berupaya lebih keras dibandingkan orang-orang yang memiliki privilege dalam hidup. Karena dengan tekun, kerja keras, dan doa dari orang-orang sekeliling kita, mimpi itu akan menjadi nyata,” katanya menanggapi persoalan privilege.

Menyimak kisah gadis desa yang menjelma menjadi gadis penuh kehebatan ini, apa kamu masih stuck dengan kondisi yang kurang mampu?  Buktinya, tak melulu Maudy Ayunda yang bisa hebat kan? Siapa pun bisa hebat di jalannya masing-masing dengan kegigihan dan pantang mundur. Justru dengan menanamkan sikap itu, bisa mengalahkan ragam privilege loh! Tak lupa ia berpesan, menekankan untuk melibatkan Allah tak luput dari urusan yang sedang kita usahakan. “Jangan sampai kita mengupayakan sesuatu yang belum kita doakan. Jadi doa first, usaha kemudian.”

Nah, kalau kamu penasaran dengan sosok Mba Iim yang inspiratif ini, boleh banget ya mampir ke profil dan karya-karya lain di blog pribadinya. Setelah kamu melihatnya, ungkapan "keren" enggak akan ada habisnya terngiang untuk Mbak Iim!

Well, siap jadi Maudy Ayunda atau Mbak Iim versi kamu? Semangat berjuang teman INJO.ID! Kamu pasti bisa menjadi apa yang kamu mau!

Redaktur: Prita K. Pribadi