Refleksi 365 Hari: Menyeimbangkan Cita dan Cinta

Cita adalah hasrat jiwa dan keinginan hati, sedangkan cinta adalah fitrah manusiawi. Lantas apakah benar meraih cita akan kehilangan cinta? Ataukah sebaliknya cinta menjadi penghalang, sehingga tak dapat menggapai cita? Hmmm, bisa enggak kalau keduanya berjalan bersama saja?

Refleksi 365 Hari: Menyeimbangkan Cita dan Cinta
Ilustrasi Penyelarasan Cita dan Cinta. Sumber : imnotbhaijan.wordpress.com

Antara cita dan cinta. Dua hal yang membuat kita dilema. 365 hari meramu cita dan cinta, membuat pikiran menjadi penat dan hati pun harus keluar masuk unit gawat darurat. Ya, dalam kehidupan memang tak dapat lepas dari keduanya. Sebenarnya, mana sih yang harus didahulukan?

Cita adalah hasrat jiwa dan keinginan hati, sedangkan cinta adalah fitrah manusiawi. Lantas apakah benar meraih cita akan kehilangan cinta? Ataukah sebaliknya cinta menjadi penghalang, sehingga tak dapat menggapai cita? Hmmm, bisa enggak kalau keduanya berjalan bersama saja?

Seseorang yang fokus terhadap cinta, lebih menganggap segalanya. Mereka ini yang disebut dengan berkeinginan tinggi. Sedangkan, seseorang yang mengedepankan cita, mereka yang berjiwa tinggi. Keduanya bisa terpedaya dan berkorban untuk hal yang ingin mereka capai. Mari kita bahas satu per satu!

CITA

Seseorang yang mempunyai cita, akan paham kapan harus bekerja, mengutaman kebahagiaan prang tua dan keluarga. Termasuk punya target kapan ia harus siap menikah. Hidupnya penuh dengan keteraturan dan tertata. Walaupun manusia yang hanya bisa berencana, dan Allah sebagai penentunya.

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim No. 2653)

Meskipun takdir seseorang akan menjadi apa, berapa banyak rezekinya, dan siapa jodohnya yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz. Ketiga takdir tersebut tidak dapat terwujud jika tidak dijemput. Ya, tentu selain usaha, diimbangi ibadah dan doanya yang kuat. Tidak ada ceritanya orang bisa kaya dengan menganggur, orang bisa menjadi pengajar tanpa ilmu dan pendidikan. Juga tidak bisa seseorang mendapat jodoh tanpa melamar dan dilamar.

Dalam buku The Magic of Thinking Big dari D. J. Schwartz menyebutkan, “Kalau Anda percaya bisa berhasil, Anda akan betul-betul berhasil”. Cita merupakan ciri kemuliaan. Modal cita, seseorang akan dapat membangun pendirian yang kokoh, tidak lemah menghadapi masalah, dan tidak jera bila ditimpa kegagalan.

CINTA

Cinta tak butuh majas litotes maupun hiperbola. Cinta itu sederhana. Tak melulu soal kata dan rasa, tetapi juga soal sikap yang nyata. Lalu cinta yang seperti apa yang pantas untuk terus diperjuangkan?

Tujuan hidup muslim di dunia ini tak lain adalah masuk surga Allah. Maka, jenis cinta yang baik bukan yang membawa petaka dan menjerumus ke neraka. Melainkan cinta yang membawa diri menjadi pribadi yang baik sehingga mendatangkan aroma harum surga. Apa lagi kalau bukan dengan cara dan sesuai ketentuan di dalam Al-Quran dan Al-Hadis?

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauzy, seorang ulama termasyhur pada zamannya menjelaskan bahwa ada tiga jenis cinta yang diperbolehkan Allah untuk dimiliki orang iman. Jadi, hal ini perlu dipahami agar tidak timbul persepsi yang keliru tentang cinta ya muda-mudi!

1. Cinta Hanya Kepada Allah (Mahabbatullah)

Hakikinya cinta, sebenar-benarnya cinta, dan kewajiban orang iman untuk mewujudkannya; ialah cinta kepada Allah. Namun cinta saja tidak cukup untuk membangun kedekatan kepada Allah (taqorrub ilallah). Melainkan harus disertai dengan ibadah dan pengesaan terhadap-Nya.

Hal inilah yang seharusnya bisa menjadi koreksi diri. Selama 365 hari ini sudah seberapa dekat kita dengan Allah? Sudahkah tertib menjalankan salat lima waktu? Atau masih nyaman menjadi anggota deadliners salat? Hayo loh! Pertanyaan-pertanyaan tersebut diharapkan mampu mengetuk hati agar tumbuh menjadi hamba yang lebih baik. Jika kemarin masih santai-santai ketika mendengar azan, cukup kemarin saja. Tak perlu diulang dan diteruskan. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki kualitas ibadah. Sebab setiap hembusan napas yang diberikan Allah, bukan hanya sekadar nikmat. Tetapi juga tanggung jawab setiap hamba.

2. Cinta pada Apa yang Dicintai oleh Allah (Mahabbah Maa Yuhibbullah)

Jika kita ingin dicintai seseorang, kita juga harus mencintai sesuatu yang disukainya bukan? Sama halnya ketika ingin mendapatkan cinta Allah. Maka hamba-Nya harus senantiasa mencintai sesuatu yang Allah suka. Cara ini merupakan sebuah jalan agar lebih dicintai Allah pula. Ketahuilah! Jika Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah akan memberitahu seluruh makhluk yang ada di langit dan bumi untuk mencintainya juga. Subhanallah, siapa yang enggak mau kayak gitu?

Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw bersabda,

إذا أحبَّ الله العبدَ نادى جبريل: إن الله يحبُّ فلانًا فأحبِبْه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل في أهل السماء: إن الله يحب فلانًا فأحِبُّوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض

“Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Dia menyuruh Jibril. Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia, maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril menyeru penduduk langit, ”Sesungguhnya Allah mencintai si fulan maka cintailah dia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” (HR. Bukhori).

3. Cinta yang Manusiawi

Cinta jenis ini tumbuh secara alamiah dari setiap insan, baik kepada suatu benda maupun sesama manusia. Tetapi ingat! Cinta ini tidak boleh melebihi cinta kepada Allah. Sebabnya, dapat melalaikan kewajiban beribadah. Mendapatkan cinta ini pun tak bisa main-main loh! Ya harus sesuai aturan yang telah ditentukan Allah. Inilah cinta yang sering digalaukan kaum muda-mudi, betul tidak? Hihi.

Macam-macam ceritanya, kadang ada yang bisa menikah sesuai target umurnya, sedang yang lain masih harus bersabar menunggu hilal yang tak kunjung tampak. Meramu cinta memanglah melelahkan. Namun ingatlah, saat kualitas diri di-upgrade menjadi lebih baik, maka Allah tak akan diam. Di situlah Ia sedang menyiapkan pasangan yang baik pula sesuai dirimu.

Upaya medapatkan tiga cinta tersebut, Nabi Daud as yang disaksikan oleh Rasulullah saw sebagai manusia yang paling baik ibadahnya, beliau merutinkan membaca doa berikut.

اللَّهُمَّإِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِيْ يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ وَأَهْلِيْ وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, amalan yang mengantarkanku menggapai cinta-Mu. Ya Allah, jadikan kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada cintaku pada diriku sendiri, keluargaku, dan air dingin.” (HR. Tirmidzi).

CITA DAN CINTA

Jadi, tanpa bingung mendahulukan mana antara cita dan cinta, tentunya bisa berjalan beriringan dong! Cita tanpa cinta terasa hambar. Dan cinta tanpa cita hanyalah bualan. Dengan catatan, cita dan cinta di sini untuk siapa? Sesuai pembahasan di atas, ya semata yang diridakan dan diniatkan karena Allah. Jangan salah paham lagi soal cita yang harus dikejar secara ambisius tapi lupa pada Allah Sang Penentu. Jangan salah mengarahkan cinta lagi selain cintamu pada Allah, apalagi sampai melanggar. Ketika kamu melibatkan urusanmu pada Allah, tenang saja Allah juga akan kasih kok! Malah Allah yang akan menuntun cita dan cinta mana yang terbaik buatmu. Maka tugas kita, perbaiki terus pribadinya dan maksimalkan apa yang ada di depan mata. Kemudian menyerahkannya pada Allah Sang Pemilik Keputusan.

فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran : 159).

Dalam momen penghujung tahun ini, manfaatkan sebagai tolok ukur meramu cita dan cinta yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Ketika diri telah berhasil berjuang melewati dua semester kuliah dengan bobot mata kuliah yang semakin sulit. Ketika diri telah berani bangkit kembali untuk merintis bisnis-bisnis yang telah gulung tikar kemarin. Ketika diri mau belajar menjadi pasangan yang saleh/salehah. Teruslah bergerak, tidak berdiam diri meratapi banyaknya kegagalan. Ingatlah masa lalu tak dapat diubah, namun masa depan selalu dapat diperjuangkan.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d : 11).

Termasuk perihal akhirat, keberhasilan cita dan cinta sebagai hamba dapat diukur dari seberapa diri ini mampu taat pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Seberapa mampu tulus ikhlas dalam beramal saleh dan tidak mengulangi dosa yang diperbuat di tahun sebelumnya. Semua kerja keras tangan, pikiran, dan hati tidak akan sia-sia begitu saja. Ada saatnya kata “semoga” berubah menjadi “alhamdulillah”. Percayalah, Allah punya timing yang tepat, tidak terlalu cepat ataupun lambat.

Sebagai penutup, tak lupa bersyukur dengan apa yang telah kamu upayakan di tahun ini. Selama hal itu positif walaupun tak melulu mulus, sabar dan tawakal. Ikhtiar harus selalu ada di setiap perjalanan bukan?

“Kuncinya adalah selalu bersyukur sehingga selalu fokus pada apa yang dimiliki. Menikmati apa yang ada, bukan meratapi apa yang tiada atau yang hilang dari genggaman tangan kita. Kita tak selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, namun sesungguhnya kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Bersyukurlah!” (Dikutip dari buku Al-Bashirah Edisi 05 Tahun II Rubrik Tanmiyah).

Redaktur: Prita K. Pribadi