Rendahnya Literasi: Merenungi Kasus Hobi Mengutip dan Tingginya Minat Media Sosial

Fenomena ini menjadi bumerang bagi pengguna akun tersebut, diserang oleh para penikmat literasi, sastra, maupun penggemar Eka Kurniawan⎯dan menganggapnya tak bisa membaca konteks secara utuh dari buku best seller tersebut. Hal ini juga semakin membukakan mata para masyarakat kita bahwa betapa rendahnya minat membaca, namun betapa tingginya minat seseorang untuk tertarik pada sebuah kutipan atau quotes. Akhirnya, fenomena ini berujung pada kasus yang lebih dalam dan menampar masyarakat kita. “Indonesia darurat literasi”.

Rendahnya Literasi: Merenungi Kasus Hobi Mengutip dan Tingginya Minat Media Sosial
Anak kecil sedang membaca buku. Sumber: kompas.com

Sebuah survey menunjukkan, bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-62 dari 70 negara dalam dunia literasi. Survey tersebut tertuang pada Program for International Student Assesment yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development. Adapun yang dimaksud dengan literasi adalah pendalaman seseorang terhadap sebuah bacaan atau ilmu pengetahuan.

Dalam buku yang ditulis oleh Jim Trelease, seorang pakar pendidik asal Amerika Serikat, berjudul The Read-Aloud Handbook, ia memaparkan sebuah studi dari oleh Kaiser Family Foundation pada anak-anak berusia antara 8 sampai 18 tahun. Yayasan non-profit yang bergerak di bidang kesehatan itu mengungkapkan, bahwa anak-anak dalam rentang usia tersebut, sebanyak 53 persen tidak membaca buku di waktu senggang, 65 persen tidak membaca majalah, dan 77 persen tidak membaca koran.

Selain itu, Jim Trelease menyebutkan dalam buku yang sama, “…sebuah kajian yang mengindikasikan bahwa sebuah laman web hanya 18 persen yang benar-benar dibaca oleh para pengunjung.” Artinya, sebagian orang mungkin kurang memahami apa yang dibaca melalui media online.

Penelitian itu sudah dilakukan sekitar 11 tahun yang lalu. Sewaktu tak semua orang memiliki gawai pintar seperti sekarang. Di mana Youtube, Instagram, Whatsapp, dan lain sebagainya belum menjamur di lintas generasi. Lantas, dengan kemudahan mendapatkan informasi seperti sekarang, apakah angka-angka di atas membaik? Apakah dengan kondisi tersebut, tingkat literasi orang dapat meningkat?

Beberapa hari ke belakang, terdapat fenomena soal literasi yang menjadi trending topic di Twitter. Hal ini membuat saya cukup resah. Sebab penulis sekelas internasional, Eka Kurniawan diolok-olok oleh salah satu pengguna akun Twitter. Katanya, yang namanya Eka Kurniawan enggak usah ditemani. Lalu memfitnah dan merendahkan sang penulis. Hal itu ia simpulkan perkara setelah membaca potongan kutipan lewat medium lain. Yang ternyata kutipan tersebut diambil dari buku Eka, berjudul Cantik Itu Luka.

Fenomena ini menjadi bumerang bagi pengguna akun tersebut, diserang oleh para penikmat literasi, sastra, maupun penggemar Eka Kurniawan⎯dan menganggapnya tak bisa membaca konteks secara utuh dari buku best seller tersebut. Hal ini juga semakin membukakan mata para masyarakat kita bahwa betapa rendahnya minat membaca, namun betapa tingginya minat seseorang untuk tertarik pada sebuah kutipan atau quotes. Akhirnya, fenomena ini berujung pada kasus yang lebih dalam dan menampar masyarakat kita. “Indonesia darurat literasi”.

Perlu adanya kesadaran dari para pembaca atau warganet untuk tidak membaca sebuah bacaan sepotong-sepotong, Apalagi sampai menyebarkan informasi hoaks. Bahkan, Allah berfirman dalam Al-Quran pada Surat Al-Isra’.

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu mengerjakan apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya.” (Al-Isra’ 17: ayat 36).

Sudah jelas bahwa sebagai manusia, hendaknya mendalami sebuah pengetahuan sebelum mengerjakannya. Sama halnya dengan menyebarkan informasi yang harus dipelajari dan didalami terlebih dahulu sebelum disebar. Sebab menebar hate speech atau fitnah akan dihakimi di akhirat kelak. Padahal perilaku ini salah satu hal yang dibenci oleh Allah, sebagaimana sabda Rasullullah saw.

إِنَّ اللّةَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوْقَ الْأُمَّهَاتِ وَمَنْعًا وَهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ : قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian melukai ibu kalian, menuntut yang bukan hak, dan mengubur hidup-hidup pada anak perempuan, dan benci Allah atas kalian bila menyebar berita yang belum jelas kebenarannya (katanya-katanya), banyak bertanya (meminta), dan menyia-nyiakan harta” HR. Bukhori.

Manusia adalah makhluk yang serba memiliki kekurangan, apalagi dalam hal menghakimi. Pasti akan timpang sebelah. Tapi Allah adalah sebaik-baiknya hakim, dan nantinya perbuatan manusia yang baik ataupun buruk, akan dihakimi oleh-Nya. Tak pandang bulu, informasi hoaks rentan pada siapa saja. Banyak informasi yang tersedia di internet kerap membuat para pembaca bingung dan sulit untuk menentukan mana informasi yang dapat dipercaya. Lalu, apa jalan keluarnya?

Tentu saja membaca! Kali ini saya mengangkat soal literasi tak semata-mata untuk membuka kasus saja. Melainkan mengajak semua orang untuk meningkatkan tingkat literasi di masyarakat kita.

Kunci dari saya, mulailah dengan tidak terburu-buru menyimpulkan sebuah informasi yang belum terjamin kebenarannya. Bila ingin mencari informasi yang berkaitan dengan agama, bisa bertanya melalui para mubaligh atau mubalighot. Bila informasi yang dicari berkaitan dengan ilmu dunia, bisa melakukan riset kecil melalui internet, jurnal ilmiah, ataupun buku.

Bakal terasa loh bedanya saat kita banyak baca buku dengan tidak. Bukan sekadar baca kutipan atau informasi pendek di media sosial saja ya! Seperti yang bisa dipelajari dari kasus Eka Kurniawan, setiap informasi yang melintas, kita harus mengetahui konteksnya. Jadi, jangan sampai cepat menyimpulkan dengan ilmu yang sedikit atau setengah-setengah.

Apapun yang dilakukan, jangan sampai merugikan diri sendiri dan orang lain atas informasi yang diterima atau disebar. Bila mempelajari dan mendalami sebuah ilmu dengan membaca, lalu ilmu tersebut disebar maka mereka bisa mengambil manfaatnya. Itulah yang disebut perbuatan yang baik seperti yang disabdakan Rasulullah saw.

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Dan sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Tabhrani)

Guru SMA saya pernah berkata, “tangkap ilmu dengan tulisan.” Beliau menyiratkan agar kiranya para siswa mau dan ingin menambah ilmu pengetahuan dengan cara membaca. Tidak hanya buku pelajaran, beliau juga menyarankan untuk membaca novel dan semacamnya. Selain terhibur, ilmu berupa kosa kata juga akan bertambah.

Socrates (470-339 SM) mengatakan bahwa huruf dan tulisan dapat mengacaukan pikiran dan ingatan. Pada zaman Nabi, ilmu itu adanya di hati. Kini ilmu itu adanya di tulisan. Ilmu pengetahuan jika hanya dihafal akan hilang ditelan masa, dengan kata lain suatu saat kita akan lupa. Namun jika ilmu itu ditulis, jika suatu saat lupa, bisa dibaca lagi supaya menjadi ingat.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, izinkan saya mengutip kata-kata Jim Trelease yang mungkin bisa kita terapkan, khususnya sebagai orang tua maupun calon orang tua.

“Kita harus memastikan bahwa pengalaman awal anak dalam hal membaca itu tidak menyakitkan sehingga mereka akan senantiasa gembira mengingat pengalaman tersebut, kini, dan selamanya. Namun, jika pengalaman-pengalaman awal itu terus menerus menyakitkan, kita hanya akan menciptakan pembaca di jam sekolah, alih-alih pembaca seumur hidup.”

Bila dahulu kita kerap mendapatkan pengalaman buruk dalam membaca, seperti book shaming. Yakni tidak boleh membaca komik atau cerita, bahkan hanya boleh membaca buku pelajaran yang tidak disukai. Marilah sama-sama membiasakan dan memperbaiki diri kita agar menjadi pembaca seumur hidup! Bisa dimulai dengan membaca jenis bacaan yang disenangi. Sebagai orang tua, juga bisa berperan dalam membiasakan diri membaca agar memiliki anak yang melek literasi. Karena anak adalah peniru ulung. Bila anak sudah terbiasa membaca buku, insyaallah anak-anak kita nantinya akan menjadi seorang yang memiliki tingkat literasi tinggi.

Semoga bermanfaat.

Redaktur: Prita K. Pribadi