Sabar, Tawakal, dan 8 Upaya Isolasi Mandiri yang Efektif dari COVID-19

Perlu diketahui, setiap individu yang terinfeksi COVID-19 memiliki respon tubuh yang berbeda-beda tergantung kekebalan tubuh masing-masing. Mulai dari tanpa gejala, gejala ringan, sedang hingga berat. "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari). Lantas bagaimana upaya isoman yang efektif itu? Apa saja yang harus dipersiapkan?

Sabar, Tawakal, dan 8 Upaya Isolasi Mandiri yang Efektif dari COVID-19
Ilustrasi isolasi mandiri sebab adanya virus COVID-19. Sumber: nu.or.id

Kasus aktif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 253.826 kasus hingga hari ini (1/7) dilihat dari akun media sosial resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, @KemenkesRI. Penambahan jumlah kasus harian dan angka kematian akibat virus ini mencapai rekornya masing-masing sebanyak 24.836 kasus terkonfirmasi dan 504 kematian dalam sehari. Keterisian tempat tidur rumah sakit atau Bed Occupancy Rate (BOR) pada 6 provinsi di Indonesia pun melebihi 80% pada laman resmi Kemenkes RI. Dimana idealnya BOR tidak boleh melebihi 80%. Maka, hal ini menandakan sistem kesehatan di Indonesia sudah mulai kolaps.

Gelombang kedua COVID-19 di Indonesia sebagian besar diduga karena adanya varian Delta, yakni mutasi virus COVID-19 varian baru dari India. Varian ini terkenal dengan tingkat penularan paling tinggi yakni 3 kali lipat lebih menular dan memberikan manifestasi gejala yang lebih berat dari sebelumnya. Secara ganas, ia juga telah memasuki 9 provinsi di Indonesia per tanggal 23 Juni 2021.

WHO mencatat telah terdapat 11 macam varian mutasi virus COVID-19 yang kemudian dilabeli berdasarkan alfabet Yunani dan mengelompokkannya berdasarkan variant of concern dan variant of interest. Variant of concern yakni varian Alpha, Beta, Gamma, dan Delta terbukti merupakan kelompok varian yang lebih menular dan menyebabkan gejala penyakit yang lebih parah. Bahkan menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anjuran penggunaan dua masker lebih baik untuk mencegah berbagai macam varian mutasi virus ini. 

Sumber gambar: tempo.com

Infografis Silsilah COVID-19. Sumber: grafis.tempo.co

Perlu diketahui, setiap individu yang terinfeksi COVID-19 memiliki respon tubuh yang berbeda-beda tergantung kekebalan tubuh masing-masing. Mulai dari tanpa gejala, gejala ringan, sedang hingga berat. Pada orang dewasa, kasus terkonfirmasi COVID-19 diklasifikasikan sebagai berikut:

  1. Pasien gejala berat: disertai sesak napas dengan laju napas lebih dari 30 kali/ menit, saturasi oksigen kurang dari 95%; maka harus mendapatkan perawatan di HCU ataupun ICU RS rujukan.
  2. Pasien gejala sedang: disertai sesak napas dengan laju napas 20-30 kali/ menit, saturasi oksigen kurang dari 95%; harus menerima perawatan khusus di RS baik itu RS lapangan, RS darurat COVID-19, RS non rujukan, maupun RS rujukan.
  3. Pasien gejala ringan: demam, batuk, kehilangan penciuman dan pengecapan, nyeri otot, nyeri tenggorokan, pilek dan bersin, mual muntah, nyeri perut, diare, konjungtivitis atau mata merah, ruam kulit, laju napas normal 12-20 kali/menit dan saturasi oksigen 95% ke atas; jika memenuhi syarat isolasi mandiri di rumah atau melakukan isolasi di fasilitas isolasi pemerintah jika ada.
  4. Pasien tanpa gejala: dapat melakukan isolasi mandiri di rumah. 

Ada pun klasifikasi kasus terkonfirmasi COVID-19 pada anak kurang lebih sama. Perbedaannya terdapat pada laju napas karena hal tersebut didasarkan pada usia. Lebih rinci, kamu bisa akses tabelnya di laman resmi IDAI.

Mengingat virus ini menular dan berisiko mematikan bagi imun rendah terutama pada orang yang punya penyakit penyerta, ditetapkannya karantina dan isolasi mandiri (isoman) menjadi anjuran yang tepat dari pemerintah. Namun, tahukah kamu? Sebenarnya istilah isoman ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam loh! Pada zaman Nabi pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Nabi memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika berada di dalam tempat tersebut dilarang untuk keluar.

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR Bukhari).

Lantas bagaimana upaya isoman yang efektif itu? Apa saja yang harus dipersiapkan?

Kali ini kami ingin merangkum jawaban-jawabannya untuk teman INJO.ID, tentu tak lepas dari protokol kesehatan Kemenkes RI. Yuk simak saksama!

1. Mengabari Fasilitas Kesehatan Terdekat

Langkah awal saat terpapar virus COVID-19 adalah menghubungi fasilitas kesehatan terdekat (FKTP) agar tetap dipantau jika sewaktu-waktu mengalami perburukan. Manfaat lainnya, keluarga bisa mendapatkan edukasi secara langsung terkait isoman, obat-obatan dan vitamin yang perlu dikonsumsi. Sikap bijaksana ini merupakan upaya penting agar orang-orang di sekitar kamu tetap sehat dan memaklumimu. Jadi, jangan malu mengakui ya! Sebab sakit ini bukan aib. Demi keselamatan bersama, kamu harus peduli dan tidak boleh diam saja.

Lebih lanjut menurut Kemeskes, isoman dilakukan selama 10 hari di rumah. Jika tidak bergejala, tidak perlu melakukan swab PCR ulang setelah 10 hari. Namun, jika bergejala dan lebih dari 10 hari, maka isoman ditambah 3 hari sebagai pemantau bebas dari gejala demam dan gangguan pernapasan. Setelah gejala hilang, ada baiknya tetap melakukan kontrol ke FKTP terdekat.

2. Ruangan dan Ventilasi yang Memungkinkan, Serta Berjemur

Memilih ruangan untuk sendiri disertai ventilasi yang baik lebih disarankan. Jika tidak memungkinkan, masih diperbolehkan untuk digabung dengan anggota keluarga lain dengan syarat menjaga jarak minimal satu meter dan pakai masker. Walaupun begitu, tak ada salahnya untuk mempertimbangkan fasilitas isolasi yang telah disediakan oleh pemerintah loh! Aturan ruangan ini sama halnya dengan tempat tidur ya teman INJO.ID!

Selanjutnya, berjemur juga menjadi hal yang bisa kamu lakukan setelah berdiam di ruangan. Kamu bisa meluangkan waktu sebelum pukul 10 pagi dan setelah 3 sore. Lakukan aktivitas berjemur ini minimal sekitar 10-15 menit setiap hari. Bahkan olahraga ringan pun sangat disarankan.

Nah, untuk menghindari penularan dengan pasien pada atap yang sama; sesering mungkin membuka jendela untuk meningkatkan sirkulasi udara di rumah. Sebab hal ini dapat menurunkan risiko penularan secara airborne.

3. Penggunaan Kamar Mandi dan WC

Jika rumahmu punya dua kamar mandi dan WC, maka memungkinkan untuk dilakukan pemisahan penggunaan. Jika tidak, jangan panik dulu! Mari siapkan alat-alat pembersih, disinfektan, dan alat-alat mandi seperti sikat gigi, handuk, sandal, dan lain-lain. Lalu kamu harus membersihkan permukaan kamar mandi dan WC setiap selesai digunakan.

4. Makan dan Minum

Jika memungkinkan, sebaiknya makan dan minum di ruangan tersendiri. Bila tidak, maka boleh melakukannya di ruangan yang sama dengan anggota keluarga lain. Asalkan menjaga jarak minimal satu meter. Tak lupa peralatan makanan jangan digabung ya! Setiap selesai makan dan minum harus langsung cuci dengan sabun dari air mengalir (sebaiknya air hangat).

5. Jangan Menerima Tamu dan Keluar Rumah

Kita semua sadar bahwa COVID-19 ini sangat berbahaya. Maka kamu yang sedang isoman diharapkan jangan menerima tamu apalagi keluar rumah ya. Sementara kok! Kamu harus sabar agar kita semua bisa selamat dan sehat dong! Jangan sampai iri jika mendapatkan kerabat di media sosial bisa keluar rumah, padahal keadaan di luar rumah sedang buruk. Ada baiknya saling mengingatkan saja, tak perlu di luar rumah jika tak ada hal yang sifatnya urgent. Hal ini juga berlaku sama pada seseorang yang masih saja betah nongkrong berlama-lama di cafe. Selalu diingatkan, sebab hilangnya wabah penyakit perlu team work yang kuat dari setiap manusia. Maka hindari sikap egois dan jadilah orang yang bermanfaat bagi sekitar.

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. ath-Thabarani, ad-Daraquthni, dll. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 3289).

6. Tindakan Pencegahan

Walaupun dinyatakan negatif, tetap saja isoman dan tindakan preventif perlu dilakukan jika punya pasien positif COVID-19 di satu atap. Menggunakan masker dan mengurangi interaksi seolah menjadi kewajiban dalam keadaan ini. Selain itu, mencuci tangan pada air mengalir dengan sabun sesering mungkin. Tak menyentuh area wajah jika dirasa tangan tidak bersih. Selalu mengurus dan membersihkan barang-barang dengan disinfektan terutama barang sering pakai.

Aturan ini serupa dengan pakaian yang dikenakan. Sebaiknya memisahkan pakaian pasien dengan memasukkan ke dalam kantong plastik atau wadah tertutup. Tak lupa membersihkan hal lainnya pada permukaan yang sering disentuh oleh pasien seperti gagang pintu, meja, kursi, dan lantai. Teknis pembersihan ini ada baiknya menggunakan APD dan sarung tangan. Jika tidak ada, seminimal mungkin pakai masker.

Dahulu  3M (Menjaga jarak, Memakai masker, dan Mencuci tangan) sempat diterapkan, namun virus ini melonjak sejak beberapa pekan lalu. Sehingga pemerintah menambahkan aturan tersebut menjadi 5M (Menjaga jarak, Memakai masker, Mencuci tangan, Mambatasi mobilitas, dan Mejauhi kerumunan).

7. Keperluan Obat-obatan Berdasarkan Protokol Kemenkes dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

a. Pasien Dewasa Tanpa Gejala; jika memiliki penyakit penyerta/ komorbid, tetap melanjutkan pengobatan rutin yang dikonsumsi. Ada pun suplemen yang dapat dipersiapkan diantaranya :

- Vitamin C, dengan pilihan:
- Tablet vitamin C non acidic 500 mg 2 kali sehari ATAU
- Tablet isap vitamin C 500 mg 2 kali sehari ATAU
- Multivitamin yang mengandung Vitamin C 1-2 kali sehari ATAU 
- Dianjurkan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zinc.

*Catatan: dosis vitamin C di atas untuk pasien terkonfirmasi positif COVID-19, untuk mencegahnya sebenarnya tidak perlu konsumsi hingga 1000 mg. Angka kecukupan vitamin pada orang dewasa adalah 75-90 mg, dan bisa ditoleransi hingga 200-500 mg sehari pada orang normal. Jika berlebih akan terbuang dan menumpuk di ginjal dan memperberat kerja ginjal. Jadi untuk ragam minuman vitamin C 1000 mg pada kondisi non COVID-19 tidak disarankan untuk dikonsumsi setiap hari.

- Vitamin D terbagi dua yakni manfaatnya sebagai suplemen dan obat. Sebagai suplemen, 400 IU-1000 IU/ hari (tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, tablet effervescent, tablet kunyah, tablet hisap, kapsul lunak, serbuk, sirup). Sedangkan sebagai obat, 1000-5000 IU/ hari (tersedia dalam bentuk tablet 1000 IU dan tablet kunyah 5000 IU). Dapat ditambahkan suplemen tradisional ataupun suplemen herbal modern lainnya dengan syarat sudah teregistrasi di BPOM.

b. Pasien Dewasa dengan Gejala Ringan

Untuk pasien dewasa dengan gejala ringan, selain vitamin C, D, dan Zinc sesuai dosis di atas ditambahkan:

  • Antibiotik
  • Antivirus
  • Pengobatan simptomatik (sesuai gejala), jika demam: Paracetamol 500 mg, 3 kali sehari. Lalu langsung berhenti konsumsi saat demam hilang.

*Catatan: penggunaan antibiotik dan antivirus sebaiknya tetap dalam pengawasan dokter sebab penggunaan obat-obat di atas dalam jangka panjang bisa menyebabkan berbagai macam efek samping, seperti gangguan liver, gangguan ginjal, dan lain-lain.

c. Pasien Anak Tanpa Gejala dan Gejala Ringan (Berdasarkan Protokol IDAI)

- Vitamin C

  • 1-3 tahun : maksimal 400 mg/hari
  • 4-8 tahun : maksimal 600 mg/hari
  • 9-11 tahun : maksimal 1,2 gram/hari
  • 12-18 tahun : maksimal 1,8 gram/hari

*Catatan: dosis vitamin C di atas untuk anak yang terkonfirmasi positif COVID-19, sedangkan untuk pencegahan dan dosis vitamin C pada balita normal tidak lebih dari 50 mg sehari.

- Zinc, diberikan dengan dosis 20 mg/ hari.

*Catatan: untuk pemakaian antibiotik dan antivirus pada anak juga sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter spesialis anak, jangan memberikan obat sembarangan pada anak terutama obat-obatan dengan label K (merah). 

- Nutrisi yang Adekuat; perbanyak cairan bernutrisi, protein nabati dan hewani, juga buah atau sayur yang kaya vitamin C, vitamin E, dan Zinc.

8. Memantau suhu, saturasi oksigen, dan laju napas 

Pemantauan ini berguna bagi pasien yang sedang isoman. Namun tak menutup kemungkinan sangat bermanfaat juga untuk tindakan preventif. Berikut kami jelaskan lebih detailnya sebagai edukasi.

a. Suhu

Mengukur dan mencatat suhu tubuh dengan termometer 2 kali sehari (pagi dan malam). Jika terjadi peningkatan suhu tubuh lebih dari 38°C, segera beri informasi ke petugas pemantau atau keluarga terdekat.

b. Saturasi oksigen

Saturasi oksigen (SpO2) menandakan kecukupan oksigen hingga ke sel-sel jaringan tubuh. Saturasi oksigen diukur minimal 1 kali sehari, dapat diukur dengan pulse oximeter yang ditempelkan pada jari.

  • Nilai saturasi oksigen normal untuk mayoritas orang adalah 95-100,
  • Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat bila alat menunjukkan angka 93-94 terus-menerus,
  • Segera ke IGD terdekat bila alat menunjukkan angka kurang dari 92 terus-menerus.

c. Laju napas

Apabila tidak ada alat saturasi, bisa menghitung frekuensi napas normal menggunakan timer atau jam biasa. Hal ini untuk mengetahui apakah pernapasan dalam kondisi sesak atau tidak. Laju napas dikatakan sesak bila lebih cepat dari batas normal sesuai usia berikut.

  • Dewasa : > 20 kali/ menit
  • Anak 12-17 tahun : > 20 kali/ menit
  • Anak 6-12 tahun : > 30 kali/ menit
  • Anak 1-5 tahun : > 40 kali/ menit
  • Anak 1-12 bulan : > 50 kali/ menit
  • Anak 0-1 bulan : > 60 kali/ menit

Jangan lupa untuk melihat ada tidaknya napas cuping hidung dan tarikan dinding dada yang menandakan kondisi sesak.

Nah, itulah 8 (delapan) upaya yang bisa dilakukan saat isoman ya teman INJO.ID! Perlu diingat lagi, jangan salah kaprah mengonsumsi obat-obatan. Ada baiknya berkonsultasi dahulu dan memperbanyak baca yang rujukannya resmi dari Kemenkes RI dan IDAI. 

Demi memantau kondisi secara berkala, kamu juga bisa catat hotline COVID-19 (119 ext.9) atau langsung menghubugi FKTP bila mengalami keluhan baru saat masih sakit selama isoman. Bila ada keluhan atau sakit sedang, berat, terutama sesak napas dan sangat lemas, segera hubungi ambulans atau ke IGD.

Upaya-upaya tersebut tentu menjadi ikhtiar yang insya Allah efektif, terlebih hal-hal tersebut telah disesuaikan dengan standar dari pemerintah di Indonesia. Namun, ada PR penting juga nih! Berita-berita di luar sana tampaknya perlu difilter dengan cerdas. Nyatanya, kita masih saja dihantui dengan informasi yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tabayyun sangat diperlukan sebagai muslim yang bijak. Sebab kencangnya informasi di media sosial atau broadcast via WhatsApp yang bertebaran itu, dapat membuat siapa saja turut terpengaruh dan malah menambah beban pikiran. Maka, betapa pentingnya mengklarifikasi sumber berita yang aktual. Hal ini pula yang menjadi faktor penyebab munculnya teori konspirasi COVID-19 tanpa fakta sains dengan penyebarannya secepat api.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS. Al-Hujurat ayat 6).

Selain semua upaya yang telah disebutkan. Sebagai umat muslim, wajib mengingat Allah dalam menjaga sabar, doa dan tawakal.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya". (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571)

Bersabar atas ujian sakit dengan adanya wabah ini, salah satu cara Allah menggugurkan dosa hamba-Nya. Selain itu, orang yang tetap bersabar hingga ia wafat akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid. 

عَنْ عَائشةَأَنَّهَا قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُوْن فَأَخْبَرَنِي رسولُ الله صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلمَ : إِنّه كانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُوْنُ فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُأَنَّهُ لَا يُصِيْبُهُإِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَهُإِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيْدِ

Dari ‘Aisyah bahwasanya Ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terkait perihal wabah, kemudian beliau memberitahuku,

"Wabah penyakit adalah sejenis siksa (azab) yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin. Tidak ada seorangpun yang terserang wabah, lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, juga mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR. Ahmad).

Kegigihan manusia dalam berikhtiar tidak boleh sampai melemahkan tawakal kepada Allah. Tanpa disertai tawakal, menunjukan bentuk kesombongan seorang hamba, seolah merasa mampu mendapatkan keinginan tanpa bantuan Allah.

وَمَنْ يَّتَوَ كَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْئٍ قَدْرًا

“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS.At-Thalaq : 3 ).

Ya, tentu amat lelah bukan berdiam diri di rumah dan melakukan segala hal terbatas mengandalkan jaringan online? Namun kesabaranmu dengan diam di rumah juga bentuk ikhtiar loh! Kamu telah turut berpartisipasi dalam melakukan team work ini! Kamu hebat telah bersabar dan bertahan sekali pun keadaan semakin sulit. Kamu mengagumkan dengan berani mengingatkan temanmu yang masih di luar rumah atau tak pakai masker.

Redaktur: Prita K. Pribadi