Satu Jam di Kota Tua

Tak se-kolot namanya, tempat yang bangunannya tampak klasik ini justru banyak dikunjungi anak muda dan anak-anak. Kota Tua bisa jadi pilihan menarik saat kamu bosan dengan nuansa modern, apalagi Jakarta yang banyak dikelilingi bangunan kaca super tingginya. Didasarkan dengan konsep ‘kota’, didalamnya terdapat banyak macam tempat wisata, seolah tempat-tempat tersebut adalah rumahnya

Satu Jam di Kota Tua
Depan bangunan Museum Fatahillah. Sumber: Dokumen pribadi Ardhy

Menginjakan kaki di tanah ibu kota pada akhir Maret ini rasa-rasanya pengin mengeluh terus. Cuaca yang panas teramat menyilaukan dan lumayan membanjiri wajah serta punggungku. Maklum, pendatang dari Kota Kembang ini biasa dikelilingi danau dan bukit-bukit─yang ada sih kedinginan terus hehe. Satu tempat yang terngiang saat ditawari tempat wisata mana yang pengin aku kunjungi sesampainya di Jakarta adalah, Kota Tua. Awal mula melihat video clip untuk mempromosikan baju yang didirekturi oleh Gianni Fajri, salah satu direktur film Indonesia yang kontennya pada aestethic. Waktu itu aku mengklaim, ia menggunakan latar tempat di Kota Tua. Oleh karenanya aku kepo-in tempat satu ini, alhasil tertarik juga nih setelah cari tahu lewat Instagram. Ternyata banyak spot foto estetiknya! Hihi.

Tak se-kolot namanya, tempat yang bangunannya tampak klasik ini justru banyak dikunjungi anak muda dan anak-anak. Kota Tua bisa jadi pilihan menarik saat kamu bosan dengan nuansa modern, apalagi Jakarta yang banyak dikelilingi bangunan kaca super tingginya. Didasarkan dengan konsep ‘kota’, didalamnya terdapat banyak macam tempat wisata, seolah tempat-tempat tersebut adalah rumahnya yang bisa dikunjungi dengan kartu berbayar bernama Jack Card. Tak lupa dikelilingi lagi oleh kedai makan dengan penamaannya yang jadul seperti Kedai Seni Djakarte dan Cafe Batavia.

Sepanjang jalan dekat Kedai Seni Djakarte.

Dengan harga tiket 5 ribu rupiah, aku bersama kedua kawan masuk ke salah satu museum yang paling ikonik, yaitu Museum Fatahillah. Saat melewati pintu masuk sudah terlihat betapa luasnya museum ini. Desain tua didalamnya sama sekali tidak mengganggu mata melainkan menjadi sangat unik, mulai dari jendela, pintu-pintu yang lebar, lantai berbahan kayu yang tampaknya sangat kuat, dan megahnya lagi saat melihat tangga yang begitu lebar dengan kolaborasi warna merah tua mencolok dengan bahan kayu, berhasil menonjolkan elegansi tempat ini walaupun arsitektur dan barang-barangnya yang kuno.

Jendela dan lantai kayu dengan arsitektur yang jadul di Museum Fatahillah.

Selain ada ‘pajangan’ yang bisa kamu rasakan unsur sejarahnya, disana juga terdapat penjelasan mengenai barang tersebut, bahkan diceritakan melalui tulisan sejarah apa saja yang telah diukir. Barang paling unik sekaligus aestethic versiku yaitu saat menemui kotak penyimpanan, piring dan gelas panjang dengan ukiran dan motif sangat detail. Jadi gemes pengin dibawa ke rumah untuk dipajang di ruang tamu! Ada pula botol keramik yang bentuknya unik banget dan tinta pena serta bel meja berwarna gold sehinga punya kesan yang sangat mewah lho.

Gelas dan piring unik sekaligus mewah peninggalan sejarah di Museum Fatahillah.

Hal-hal kecil seperti itu saja membuatku terpesona, apalagi kalau kamu lihat langsung deh! Banyak barang-barang jadul seperti lemari, meja kursi, patung, dan senjata-senjata bersejarah yang masih bagus visualnya. Banyak pula ruang-ruang seperti ruang pengadilan, dan ruang bawah tanah. Yap! Ruang bawah tanah ini dulunya adalah tempat penjara lho. Kesannya yang gelap dan hanya terdapat batu-batu pemanas berbentuk bulat membuat aku merinding membayangkan zaman dahulu saat orang-orang menempati ruang ini. Meskipun sempat direnovasi berkali-kali, tempat ini tak menghilangkan nuansa kunonya karena menjunjung tinggi nilai sejarah. Kamu bisa mengunjungi Museum Fatahillah untuk berlibur sekaligus jadi tempat edukasi keluarga, mulai dari pukul 9 pagi hingga 3 sore ya!

Aku datang sekitar pukul 2 siang, dimanfaatkan untuk makan siang yang telat dan menikmati objek wisata di sini rasanya waktu sangat tidak cukup, sehingga hanya berfoto di sedikit tempat saja. Kabar baiknya, aku bisa berfoto dengan suasana sepi depan Cafe Batavia, yang konon menjadi spot favorit banyak orang. Saat itu orang-orang udah keburu diusir sama penjaga karena jam operasional yang terbatas. Yay!

Depan Cafe Batavia.

Masih banyak tempat yang pengin aku datengin satu-satu di Kota Tua ini. Nuansa dan setiap detail yang ditampilkan baik itu lukisan, ukiran barang, maupun interiornya membuat aku jatuh hati pada tempat ini. Sayangnya waktu yang tak memungkinkan membuat aku menyesal datang sebentar. Walaupun begitu, aku sudah menyematkan beberapa tempat di Kota Tua nih seperti Toko Merah, juga Museum Seni Rupa dan Keramik─siapa tahu berjodoh lagi kesini jadi gak akan bingung mau kemana duluan yang mau aku datengin kan hehehe. Tempat mana saja nih yang wajib kamu datengin buat menghiasi feed instagram selain Kedai Seni Djakarte, Cafe Batavia, dan Museum Fatahillah? Jangan lupa luangkan waktumu selonggar mungkin agar pengalaman satu jam di Kota Tua ini tidak terulang, sehingga kamu bisa menikmati tiap sudutnya!

Redaktur: Niko Aditya R.