Sejarah Menyembelih Hewan Qurban, Bukan Sekadar Ritual Iduladha

Berbagai definisi muncul ketika mendengar kata Iduladha, ada yang mendefinisikan kewajiban bagi orang yang memiliki rezeki lebih, dan ada juga yang mendefinisikan kegiatan menyembelih hewan qurban untuk memperbaiki gizi. Tapi yang paling menarik, ada juga yang mendefinisikan hari raya idul adha ini sebagai momentum berharga dalam menjalankan sunah yang diawali oleh Nabi Ibrahim loh!

Sejarah Menyembelih Hewan Qurban, Bukan Sekadar Ritual Iduladha
Ilustrasi Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan domba jantan, sumber: POPMAMA.com

Seperti kita ketahui bersama, setiap nabi yang diutus pada zamannya pasti memiliki rintangannya masing-masing. Ada nabi yang mencoba untuk sabar dalam menghadapi umatnya dan ada juga nabi yang mendoakan jelek kepada umatnya karena tidak mengikuti perintah Tuhan-Nya. Nabi Ibrahim menjadi salah satu nabi yang memiliki berbagai macam cobaan, salah satu cobaannya saat ini kita kenal dengan sebutan hari raya Iduladha.

Berbagai definisi muncul ketika mendengar kata Iduladha, ada yang mendefinisikan kewajiban bagi orang yang memiliki rezeki  lebih, dan ada juga yang mendefinisikan  kegiatan menyembelih hewan qurban untuk memperbaiki gizi. Tapi yang paling menarik, ada juga yang mendefinisikan hari raya idul adha ini sebagai momentum berharga dalam menjalankan sunah yang diawali oleh Nabi Ibrahim loh!

Eits tapi udah pada tau belum nih ceritanya?  Yuk langsung simak!

Nabi Ibrahim mempunyai istri Bernama  Siti Hajar. Mereka sudah lama menikah tetapi belum dikaruniai anak, padahal mereka sangat mendambakannya. Pada suatu hari, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT, isinya:

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh” ( As sofat ayat 100).

Kemudian  Allah SWT  menjawab doa Nabi Ibrahim dengan memberikan seorang anak laki-laki Bernama Ismail, sesuai dengan Firman Allah SWT:

فَبَشَّرْنٰهُ بِغُلٰمٍ حَلِيْمٍ

“Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Ismail)” (As-Sofat 101).

Kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena Nabi Ibrahin diperintah untuk membawa pergi istri dan anaknya dari Palestina. Dengan berat hati Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT untuk meninggalkan istri dan anaknya di tempat yang kering, tandus dan tidak ada orang satupun. Waktu demi waktu pun berlalu, hingga akhirnya Ismailpun Kembali kepangkuan ayahnya.

Pada suatu malam saat Nabi Ibrahim tertidur, ia bermimpi, isi mimpinya Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih  Ismail yang sudah tumbuh besar  sebagai bukti ketaatannya kepada Allah SWT. Keesokan harinya Nabi Ibrahim menemui anaknya . lalu dengan berat hati Nabi Ibrahim berkata kepada  Ismail, isinya:

قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

“Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu” (As-Sofat ayat 102).

Dengan ikhlas nabi Ismail menjawab:

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

”Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (As-Sofat ayat 102).

Kemudian Nabi Ibrahim pun membawa Ismail keatas bukit dan membaringkannya, lalu bersiap melaksanakan penyembelihan. Pada saat Nabi Ibrahim mulai mendekatkan pedang kepada tubuh anaknya Ismail, keajaiban pun terjadi, Allah SWT menggantikan  Ismail dengan seekor domba jantan dari surga, sesuai dengan firman Allah SWT:

وَفَدَيۡنٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيۡمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (As-Sofat ayat 107).

Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil berbagai macam hikmah yang seharusnya dapat direalisasikan, bukan hanya saat perayaan ritual Iduladha saja, tapi juga harus bisa diterapkan didalam kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh hikmah yang dapat diambil dari sejarah diatas adalah ketaatan dan keikhlasan  yang menjadi kunci utama dalam melewati cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

 Redaktur : Dyah Ayu N. Aisyiah