Selalu Wawas Diri! Ini 5 Tata Krama Bergaul Agar Tidak Menjadi Pelaku 'Bully'

Terkadang seseorang terlalu fokus pada ketakutan yang kondisinya menghakimi mereka. Salah satu yang (masih) sering terjadi hingga saat ini adalah perilaku perisakan atau bullying. Ketakutan ini juga punya kewas-wasan tersendiri bagi orang tua saat menyekolahkan anaknya karena tak bisa lagi mengawasi mereka 24 jam penuh seperti dahulu kala. Namun, apakah ketakutan tersebut menjadikan lupa pada namanya seorang "pelaku"?

Selalu Wawas Diri! Ini 5 Tata Krama Bergaul Agar Tidak Menjadi Pelaku 'Bully'
Seorang anak yang menjadi korban bully oleh anak lain. Sumber: sehatq.com

Terkadang seseorang terlalu fokus pada ketakutan yang kondisinya menghakimi mereka. Salah satu yang (masih) sering terjadi hingga saat ini adalah perilaku perisakan atau bullying. Ketakutan ini juga punya kewas-wasan tersendiri bagi orang tua saat menyekolahkan anaknya karena tak bisa lagi mengawasi mereka 24 jam penuh seperti dahulu kala. Namun, apakah ketakutan tersebut menjadikan lupa pada namanya seorang "pelaku"?

Ya, terlalu fokus takut menjadi korban, bukan alasan untuk tidak berwawas diri agar terhindar dari pelaku perisakan. Sebab nyatanya, perilaku negatif ini bisa menular loh!

Ditch the Label, sebuah badan amal anti penindasan menyebutkan 14% pelaku perisakan adalah korban. Angka tersebut didapatkan dari hasil survey pada 8.850 responden berusia 12 sampai 20 tahun. Hal ini mengisyaratkan, bahwa sebagian pelaku perisakan pernah berperan sebagai korban pula hingga ia melakukan hal yang sama untuk menyalurkan kesakithatiannya.

Sangat disayangkan, di Indonesia sendiri ternyata korban perisakan malah terjadi pada ranah pendidikan sebanyak 41%. Persentase hasil riset Programme for International Students Assessment (PISA) 2018 ini telah melampaui rata-rata negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang hanya 22,7%. Indonesia telah menempati posisi ke-5 dari 78 negara sebagai negara yang paling banyak muridnya mengalami perisakan.

Data penelitian tentang tingkat korban bully di beberapa negara dari PISA. Sumber: databoks.katadata.co.id.

Selain itu, murid di Indonesia mengaku sebanyak 15% mengalami intimidasi, 19% dikucilkan, 22% dihina dan barangnya dicuri. Selanjutnya sebanyak 14% murid mengaku diancam, 18% didorong oleh temannya, dan 20% terdapat murid yang kabar buruknya disebarkan.

Menghindari perilaku menjadi tukang bully, lingkungan terdekat sangat berpengaruh dalam melakukan pola asuh dan didikan ke arah yang benar sedini mungkin. Enggak mau juga kan teman INJO.ID jadi pelaku apalagi penyebab? Tampaknya wawas diri perlu ditingkatkan lagi nih! Sebab menjadi korban atau pun pelaku terkadang tak disadari oleh diri sendiri. Ada yang menggapnya bercanda, bentuk keakraban, bahkan dimaklumi karena merasa takut dianggap jadi orang baper atau lemah.

Huh.... tampaknya normalisasi ini perlu dikaji lagi oleh masing-masing orang. Mana yang baik atau buruk? Mana yang normal atau kelewat batas? Maka dari itu, mengaji tentang tata krama bergaul ini perlu diketahui dan dipahami betul bagi siapa pun. Agar tak ada pihak dirugikan dan merugi. Lebih jelas lagi, yuk simak beberapa tata krama yang telah dirangkum oleh tim INJO.ID sebagai pengingat!

1. Berbahasa yang Baik dan Sopan

Hal pertama yang bisa kamu ingat adalah hati-hati dalam berucap. Ada peribahasa bilang, "Mulutmu Harimaumu". Dalam konotasi negatif, kalimat tersebut bermakna bahwa perkataan yang dilontarkan bisa saja menyakiti orang lain. Maka berpikir sebelum bertindak juga bisa kamu tanamkan.

Tak ada salahnya kok kalau kamu kepengin pakai bahasa 'gaul' saat ngobrol sama teman. Yang perlu diingat, jangan sampai kebebasan itu menjadi alasanmu untuk berkata semena-mena. Tetap menjaga lisan, tidak berkata kotor dan kasar.

Diriwayatkan dalam hadis,

مَنْ يَضْمَنُ لِيْ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنُ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) kejahatan lisan yang berada di antara dua tulang rahangnya, dan kejahatan kemaluan yang berada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan memberikan jaminan surga kepadanya.” (HR. Bukhori tentang Al-Adab).

 2. Tidak Menghina dan Ber-Ghibah

Apakah ada yang senang kisah diri sendiri diceritakan diam-diam di belakang kita oleh orang lain? Terlebih hal yang buruk. Jatuhnya saja sudah memfitnah karena tak bisa memvalidasi lisan terhadap orang yang bersangkutan loh!

Pertanyaan sederhana ini mungkin bisa jadi introspeksi diri. Apakah kita telah terjerumus pada sikap buruk tersebut? Membicarakan aib orang lain (ghibah) di masa sekarang sudah lebih banyak lagi bentuknya. Lewat televisi dalam tayangan infotainment, atau akun gosip di media sosial. Nah loh! Jadi reminder juga ya kan, siapa yang masih suka nonton atau follow akun gosip?

Larangan ini pun telah diingatkan oleh Allah melalui Q.S. Al-Hujurat ayat 12.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Kalian menjauhilah dari berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain juga janganlah ada di antara kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati (bangkai)? Tentu kalian akan merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah karna sesungguhnya Allah maha menerima tobat lagi maha penyayang.”

3. Mengabaikan Salah Satu Orang atau Membicarakan Hal yang Tidak Dimengerti Oleh Salah Satu Orang

Perlakuan ini sih annoying banget cuma ngebayanginnya doang! Bayangkan saja jadi orang terkucilkan saat berkumpul. Enggak diajak ngobrol atau sengaja membahas sesuatu yang diri ini tidak mengerti, alhasil jadi orang menyedihkan dan terpojok.

Ya, mojokin orang memang enggak selalu dengan cara dikatain atau dihina. Nyatanya diabaikan sama sekali juga hal yang paling bikin sakit hati. Sikap abai tersebut akan membuat orang merasa rendah diri, overthinking, dan mendadak introspeksi sama diri sendiri "gue abis bikin salah apaan ya?" atau "mereka enggak suka kali ya gue di sini". Batinnya akan penuh dengan segelintir pertanyaan lalu bergulat dengan diri sendiri.

So, kalau memang seseorang punya salah terlebih hal yang tidak disadari, lebih baik komunikasi dan diingatkan saja dengan santun ya!

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -: «إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً، فَلَا يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُونَ الْآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ; مِنْ أَجْلِ أَنَّ ذَلِكَ يُحْزِنُهُ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda: ketika kalian sedang berbicara tiga orang maka dua orang tidak boleh berbisik-bisik meninggalkan yang lain (mengabaikan) karena supaya yang lain tidak susah (berprasangka buruk).” (HR. Tirmidzi pada Kitab Istidzan).

4. Tidak Membuat Panggilan atau Julukan Bermakna Buruk

Betapa senang hatinya orang tua mencari nama seorang anak dengan makna yang baik.

Betapa bangganya orang tua memanggil lantang nama anaknya yang indah.

Lalu nama tersebut diganti dengan panggilan atau julukan yang tak sepadan, bagaimana rasanya saat orang tua mendengarnya? Bayangkan saja jika kamu berperan sebagai orang tua.

Menciptakan sebutan yang buruk akan membuat seseorang berkecil hati. Bahkan malu hingga meninggalkan lingkungan tersebut. Hati-hati loh! Sebab menyangkut perasaan orang lain, hal ini bukan lagi sesuatu yang sepele dan tentu kamu telah menjadi seorang perisak.

Yuk catat lagi firman Allah di bawah ini!

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula seorang perempuan (mengolok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan itu (yang diolok- olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok- olok). Jangan kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk- buruknya panggilan adalah panggilan yang fasik setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yan dzalim." (Q.S. Al-Hujurat : 11)

5. Tidak Menghina dan Menggunjing (Adu Domba)

Kiranya pada zaman kini, mengoreksi kembali dalam menormalisasikan kata dan ucapan sangatlah diperlukan. Alasan bercanda seolah menjadi tameng pertahanan saat seseorang sudah mengutarakan sakit hatinya. Padahal tidak ada yang senang jika diri kita ini dijadikan bahan hinaan atau gunjingan. Sebab hal ini akan menimbulkan putusnya tali silahturahmi karena mencoba jauh dari lingkungan yang tidak nyaman.

Pun dengan adu domba, yang artinya sama dengan menggunjing seseorang. Dimana seseorang menyebarluaskan berita dan bergosip dengan niat agar seseorang saling tidak menyukai hingga menimbulkan permusuhan. Memprovokasi dan menghasut menjadi upaya orang yang mengadu domba.

Tanpa disadari, pelaku adalah seorang yang hina karena mencoba mencari perutungan dengan "menumbalkan" orang lain yang tak berbuat salah kepadanya. Padahal Allah sudah mengingatkan kita di dalam Al-Qur'an tentang larangan ini.

وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَهِينٍ , هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
“Dan janganlah kamu ikuti siapapun yang mengobral sumpah lagi berkarakter rendah, yang suka mencela yang senang mengadudomba (memfitnah).” (Q.S. Al-Qalam, 10-11).
Selain itu, perilaku adu domba termasuk pada dosa besar dan tidak akan merasakan nikmatnya surga.
عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَجُلاً يَنِمُّ الْحَدِيثَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ ».
“Dari Hudzaifah, beliau mendapatkan laporan tentang adanya seseorang yang suka melakukan namimah maka beliau mengatakan bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda, “Pelaku adu domba tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim No. 303).

Nah, lima tata krama ini bisa jadi pengingat teman INJO.ID dalam bergaul. Jangan lupa disampaikan lagi kepada temanmu jika terdapat hal yang melenceng dari tata krama di atas. Damai dengan sesama tentu merupakan keinginan bersama sehingga kita perlu paham terlebih dahulu bagaimana menciptakan kedamaian tersebut kan?

Kilas balik pada bahasan pertama, tentu kita semua tidak mengharapkan posisi sebagai orang yang tersakiti ini. Sebagai orang tua atau pun tidak, bagaimana sih cara mengetahui seseorang telah menjadi korban bully? Tampaknya hal ini juga menjadi poin penting dalam rangka saling mengingatkan. So, mari kita ketahui apakah ciri-ciri korban bully di bawah ini terdapat di lingkungan sekitarmu?

Tanda-tanda seorang anak yang sedang ditimpa perilaku bullying ini kami ringkas dari situs resmi Stop Bulliying milik Departemen Kesehatan Amerika Serikat melalui pelansiran dari cnnindonesia.com.

1. Tiba-tiba Tidak Memiliki Teman dan Menghindari Situasi Sosial; korban bully ini terlihat murung dan tiba-tiba jauh dengan teman sepermainan biasanya. Lalu ia enggan bersosialisasi dengan banyak orang sehingga mencari tempat sesunyi mungkin dan menghindari kontak sosial.

2. Rasa Kepercayaan Diri yang Berkurang; korban bully akan mengalami penurunan kepercayaan diri. Sebab tak ada yang bisa menjadi pundaknya saat tertekan dengan keadaan yang sulit untuk diceritakan.

3. Memiliki Cedera yang Tak Bisa Dijelaskan; disebabkan oleh tindakan dari si pelaku bully yang melakukan penindasan fisik, dan menjadi pribadi yang sangat tertutup dengan tiba-tiba.

4. Melakukan Tindakan Merusak Diri;  hal ini menjadi bentuk pelampiasan para korban bully karena adanya perasaan tertekan dan merasa tidak mudah untuk diselesaikan begitu saja. Menyakiti diri ini bisa dengan memukul kepala atau melukai bagian tubuh tertentu dengan benda berbahaya, serta tak ada nafsu makan dan minum.

5. Hilang Minat; tiba-tiba tak bergairah untuk melakukan kegiatan rutin, seperti berangkat sekolah lalu nilai-nilai pelajaran yang menurun. Pura-pura sakit pun bisa jadi tanda karena menghindari kegiatan tersebut.

6. Sulit Tidur atau Sering Mimpi Buruk; mengalami mimpi buruk dan depresi karena tekanan yang dihadapi membuat tubuh mereka terlihat lemas dan tak bergairah. Bisa terlihat dari area mata menjadi gelap karena tak bisa beristirahat dengan tenang.

Naudzubillahi mindzalik...

Semoga kita semua bukan tergolong pada sifat-sifat yang buruk.

Semoga kita semua bukan termasuk seorang pelaku maupun korban bully.

Redaktur: Prita K. Pribadi