Seni Merawat Pernikahan untuk Kehidupan Berumah Tangga yang Harmonis, Pasangan Baru Wajib Tahu!

Sebagaimana sebuah ladang, pernikahan juga harus dirawat agar bisa terus bertumbuh dan tidak layu atau bahkan hingga kering. Karena tidak mudah menjaga rasa cinta pada satu orang yang selalu bertemu setiap hari kan? Makan bersama, tidur bersama, pasti ada momen-momen yang membuat sebal, marah, bahkan melakukan sesuatu untuk pasangan sebatas karena rasa tanggung jawab saja. Betul tidak?

Seni Merawat Pernikahan untuk Kehidupan Berumah Tangga yang Harmonis, Pasangan Baru Wajib Tahu!
Ilustrasi rumah tangga yang harmonis. Sumber: Canva

Seperti yang kita tahu, menikah adalah ibadah terpanjang. Setelah menikah, sepanjang sisa hidup kita akan dihabiskan dengan beribadah. Suami mencari nafkah untuk istri dihitung ibadah, istri memasak untuk suami dihitung ibadah, sampai mengurus anak bersama juga ibadah. Banyak sekali hal-hal yang dulunya berdosa jika dilakukan antara laki-laki dan perempuan jadi bernilai ibadah setelah menikah. Itulah kenapa menikah juga disebut sebagai ladang pahala.

Sebagaimana sebuah ladang, pernikahan juga harus dirawat agar bisa terus bertumbuh dan tidak layu atau bahkan hingga kering. Karena tidak mudah menjaga rasa cinta pada satu orang yang selalu bertemu setiap hari kan? Makan bersama, tidur bersama, pasti ada momen-momen yang membuat sebal, marah, bahkan melakukan sesuatu untuk pasangan sebatas karena rasa tanggung jawab saja. Betul tidak?

Nah, berikut ini ada beberapa seni merawat pernikahan yang saya peroleh dari Sri Juwita Kusumawardhani, seorang psikolog, melalui sorotan pada akun Instagramnya. Saya juga mengolaborasikan tips dari beliau dengan beberapa pengalaman pribadi. Insyaallah seni merawat pernikahan ini dapat membantumu menjaga keharmonisan dalam berumah tangga. Yuk, simak!

1. Saling Perhatian

Saling memperhatikan bisa memupuk rasa cinta. Misalnya sebelum tidur bertanya kepada pasangan, “Bagaimana harimu? Apa saja yang sudah kamu lalui atau lakukan seharian? Apa ada hal yang mengganggu yang belum kamu ceritakan?" Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini bisa membuat pasangan merasa diperhatikan. Jangan lupa, jadilah pendengar yang baik ketika ia sedang menceritakan masalahnya agar ia merasa didengarkan dan nyaman untuk terus bercerita.

2. Saling Mengapresiasi Hal-hal Kecil 

Kita semua pasti senang jika apa yang kita lakukan dihargai dan diapresiasi oleh orang lain. Begitu pula pasangan kita. Beri pujian atau hadiah kecil yang dia sukai. Tidak perlu mewah, untuk beberapa istri bahkan tidak perlu dibelikan emas permata. Diajak jalan-jalan ke taman setelah seharian mengurus rumah pun sudah membahagiakan. Betul kan, Ibu-ibu? Hehehe.

3. Menjaga Komunikasi

Komunikasi sangat penting dalam hubungan apa pun. Baik hubungan suami-istri, orang tua dengan anak, maupun hubungan antar teman. Dengan pasangan, kita perlu mengomunikasikan beberapa aspek, di antaranya:

  • Apa kebutuhan terbesar masing-masing dan bagaimana cara mewujudkannya. Dengan mengomunikasikan hal ini bisa meminimalisir drama kode-kodean alias saling kode untuk memenuhi keinginan masing-masing, yang biasanya malah berujung salah paham.
  • Apa perilaku menyebalkan yang tidak disukai masing-masing dan perlu diubah.
  • Trauma masa kecil seperti apa yang sudah membentuk kepribadian masing-masing, dan mencoba untuk saling memahaminya. Trauma masa kecil atau innerchild mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan berhubungan dengan orang lain. Menceritakan trauma masa kecil dan bagaimana itu bisa membentuk kepribadian kita bisa membuat pasangan lebih mengerti tentang kita, sehingga dia tahu bagaimana harus bersikap. Begitu pula sebaliknya.

4. Saling Membantu

Walaupun lazimnya perempuan atau istri yang mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, namun suami ikut membantu melakukan pekerjaan rumah juga sah-sah saja loh. Tidak perlu ada perasaan ini tugas siapa, ini tugas siapa. Karena Nabi Muhammad pun sering membantu pekerjaan istri-istrinya.

Sebuah hadis menjelaskan, ketika ditanya tentang kesibukan nabi saat di rumah, Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu salat maka beliau pergi salat." (HR Bukhari)

5. Saling Memaafkan

Sebagai dua insan dengan isi kepala yang berbeda, perbedaan pendapat sangat mungkin terjadi. Sehingga menimbulkan beberapa masalah. Karenanya, kita harus bisa saling memaafkan dengan mengingat kebaikan-kebaikan pasangan kita. Sekecil apa pun itu.

Merawat sebuah ladang ada seni juga ilmunya. Begitu pula rumah tangga. Tidak perlu kaku bahwa suami mutlak jadi raja yang berkuasa penuh atas istri dengan alasan istri wajib taat pada suami. Karena istri juga berhak untuk dibahagiakan, disayangi, dan dimengerti sebagai seorang perempuan.

Suami ibarat jembatan, dan istri sebagai muatannya. Sebagai jembatan, suami akan memuat istri dan anaknya menuju surga. Baik surga dunia, maupun akhirat. Sebagai jembatan juga harus stay di tempat. Tidak boleh jelalatan. Tidak boleh pindah tanpa aturan. Kalau mau menambah muatan, boleh. Asal kuat menopang, dan mampu berbuat adil.

Bagi istri, sebagai muatan, jadilah mudah. Berusaha untuk tidak mempersulit. Ringan untuk dibawa. Tidak keras hati dan keras kepala. Jika antara istri dan suami sudah saling memahami tugas dan peran masing-masing, maka terciptalah surga. Baik surga dunia maupun akhirat.

Jika kita telah berhasil merawat ladang pahala kita dengan baik, maka kita pasti akan mendapatkan hasil panen yang baik pula. Pahala yang berlimpah, kehidupan rumah tangga yang harmonis dan romantis, serta surga yang menjadi tujuan utama.

Redaktur: Ubaid Nasrullah