Soal Memuliakan, Tugas Orang Tua Atau Anak?

Jika orang tua mempertanyakan kemuliaan seorang anak, apa orang tua bisa menjawab pertanyaan soal sudahkah menghargai anak-anaknya? Jadi apa yang dimaksud memuliakan dan siapa yang harus melakukannya?

Soal Memuliakan, Tugas Orang Tua Atau Anak?
Kekerasan orang tua kepada anak. Sumber: theasianparent.com

Beberapa waktu ke belakang, terendus kabar soal seorang anak yang tega menganiaya ibu kandungnya. Sebab tidak diberi uang sebesar 50 ribu rupiah untuk membeli rokok. Kejadian itu terjadi di Kelurahan Mojo Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo, seperti yang dilansir dari surakarta.suara.com (21/9/2021).

Kala itu, ibunya tidak mempunyai uang sehingga tidak bisa memberi permintaan sang anak. Lalu ibu itu memberi nasihat, namun pukulan kepala yang ia dapat ditambah dengan cipratan ludah. Anak itu melakukannya semata-mata tak menerima dinasihati oleh ibunya.

Seorang ibu yang merasa sakit hati, melapor ke kantor polisi setempat. Namun akhirnya, ia mencabut laporannya begitu peristiwa itu berhasil diselesaikan secara kekeluargaan. Sang ibu juga merasa tidak ingin membiarkan anaknya di dalam jeruji besi. Cukup menyadari kesalahan dan bisa memperbaikinya, ibu mengharapkan itu dari anaknya.

Lain cerita namun masih seputar ibu dan anak, ada juga orang tua yang kerap memukul anaknya, bahkan berani memukul wajah. Kisah ini dialami oleh seorang anak berinisial K yang merupakan kenalan saya.

Saat itu, K masih berusia sekitar dua tahun. Anak kecil, dengan segala keingintahuannya pada dunia ini, mencoba melihat apa yang dilakukan sang ayah dengan ponselnya. Namun tanpa berpikir panjang, ia mengorbankan 1.000 hari pertama yang penting untuk perkembangan buah hatinya itu⎯dengan melayangkan tamparan keras menuju pipi balita yang malang. Sebuah ponsel yang tak seberapa nilainya, dirasa lebih berharga dibandingkan tumbuh kembang anaknya sendiri. Padahal, ada istilah, “Apa yang kau tabur, itulah yang akan kau tuai”. Maksudnya, hal yang orang tua lakukan, kelak akan ditiru oleh anak suatu hari nanti.

Tak berhenti di situ, saat ini K telah menginjak usianya yang ke enam. Perlakuan kasar masih ia dapatkan dari orang tuanya. Namun bukan lagi fisik, melainkan kekerasan verbal dan mental. Seperti dimarahi, dibentak dan semacamnya yang tak sewajarnya.

Sampai sini, bagaimana kamu melihat kedua kasus di atas?

Tampaknya terdapat hubungan yang salah nih antara orang tua dan anak! Memang benar seorang anak, wajiblah berbakti kepada orang tua. Bagi laki-laki, baktinya kepada orang tua adalah sampai akhir hayat orang tua itu sendiri. Sedangkan bagi perempuan, baktinya kepada orang tua adalah sampai dirinya menikah dengan seorang laki-laki yang paham agama. Rasulullah saw bersabda,

“Suruhlah anak kalian salat ketika berumur tujuh tahun, dan kalau sudah berusia sepuluh tahun, maka pukullah mereka (karena meninggalkan salat) dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara laki-laki dan perempuan).” (HR. Ibnu Majah).

Dalil di atas sudah sangat jelas, bahwa Rasulullah memperbolehkan kepada para orang tua untuk memukul anaknya. Namun dengan catatan, pukullah anak itu jika meninggalkan salat. Pukulan yang dimaksud juga harus merupakan bentuk pukulan mendidik dan tidak diarahkan ke kepala atau wajah.

Melihat kasus di atas, apakah selain bagian tersebut orang tua boleh memukul anak? Menurut saya pribadi, rasanya tidak. Terlebih untuk kesalahan-kesalahan sepele yang dilakukan sang anak.

Nabi saw bersabda dalam salah satu hadis,

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ}.

“Muliakanlah anakmu, dan perbaikilah budi pekerti mereka.” (HR Ibnu Majah).

Dari sabda Rasulullah saw, kita tahu bahwa anak harus dimuliakan. Seperti memenuhi kebutuhannya, mendidik dengan baik, memberikan cinta kasih yang cukup, dan lain sebagainya. Apakah ada dalil yang menyatakan bahwa orang tua boleh memukul anak selain meninggalkan salat? Sejauh ini, saya belum menemukan dalil seperti itu.

Maria Montessori, seorang pakar pendidik dari Italia sekaligus penggagas metode Montessori, Ia mengatakan, bahwa sejatinya anak itu membutuhkan setidaknya dua hal dari orang tua dan lingkungannya. Dikutip dari buku The 1946 London Lectures, Montessori mengatakan “…anak membutuhkan seseorang yang memberinya rasa simpati dan cinta.”

Metode Montessori sendiri, merupakan sebuah metode pendidikan yang memberikan anak kebebasan dalam mengatur kegiatan dan waktunya.

Tidak ada yang mengatakan bahwa mendidik anak itu mudah. Akan tetapi, sebagai orang tua yang telah hidup lebih lama dan mengenal dunia ini jauh lebih baik dibandingkan anak⎯orang tua harus memberikan kedua hal itu. Layaknya, orang tua harus memberi anak pengertian dan doktrin bahwa anak pantas hidup, dicintai dan diberi kasih sayang. Sehingga kekerasan fisik atau verbal, sangat tak pantas dilakukan orang tua. Sebab jika hal buruk ini terjadi, bisa sangat sulit disembuhkan secara batin. Luka tetaplah luka. Akan selalu membekas di alam bawah sadar manusia.

Bila orang tua tidak menginginkan anak tumbuh dengan pribadi yang buruk, kasar, dan tidak berbakti⎯maka hendaknya orang tua muliakan anak terlebih dahulu. Sebab setiap anak dilahirkan dengan baik, dan sikap anak bergantung pada orang tuanya yang merupakan lingkungan paling dekat sedari ia muncul ke dunia. Jika orang tua mempertanyakan kemuliaan seorang anak, apa orang tua bisa menjawab pertanyaan soal sudahkah menghargai anak-anaknya? Maka dari itu tugas memuliakan perlu kerja sama, dan orang tua menjadi tokoh utama dalam hal ini. Perhatikan juga lingkungan sekitar anak, yang bisa menjadi lingkungan terdekat kedua setelah keluarga. Selain itu, ingatlah bahwa masing-masing orang tua  akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya di akhirat kelak.

Yuk beri teladan yang baik sedari dini kepada anak, agar tumbuh menjadi anak yang saleh/ salehah! Aamiin.

Semoga bermanfaat.

Redaktur: Prita K. Pribadi