Sudut Pandang Dokter Ahli Kandungan: Ketahui Risiko Kesehatan Reproduksi Wanita Saat Memilih Childfree

Ada baiknya sebelum memutuskan sebuah pilihan⎯kita telah mempelajari terlebih dahulu bagaimana risiko dan efek yang akan dihadapi ke depannya. Bukan serta-merta ikut-ikutan dan mengabaikan sudut pandang lain. Sebab memilih tak punya anak bukan sebuah pilihan yang bebas risiko. Salah satu sudut pandang, disampaikan dari kacamata medis. Bagaimana risikonya?

Sudut Pandang Dokter Ahli Kandungan: Ketahui Risiko Kesehatan Reproduksi Wanita Saat Memilih Childfree
Ilustrasi childfree yang kerap menjadi tren bagi pasangan saat ini. Sumber: NOJ/LKo

Childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak setelah menikah telah bereovolusi menjadi tren. Berbagai kalangan baik psikolog hingga ahli agama pun mengutarakan opininya tentang childfree ini. Mulai dari yang pro, kontra, dan netral. Pembahasan mengenai hal ini tentunya sangat rumit dan sensitif, tetapi ada baiknya sebelum memutuskan sebuah pilihan⎯kita telah mempelajari terlebih dahulu bagaimana risiko dan efek yang akan dihadapi ke depannya. Bukan serta-merta ikut-ikutan dan mengabaikan sudut pandang lain. Sebab memilih tak punya anak bukan sebuah pilihan yang bebas risiko.

Salah satu sudut pandang, disampaikan dari kacamata medis. Bagaimana risikonya? Yuk simak saksama!

Kali ini penulis mewawancarai seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Makassar. Siti Maisuri Tadjuddin Chalid, Direktur Pendidikan, Penelitian, dan Pelatihan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin sekaligus  dosen di Fakultas Kodekteran Universitas Hasanuddin.

Dr. dr. Siti Maisuri Tadjuddin Chalid, SpOG (K)

Allah telah mengatur tubuh wanita dengan terdapatnya hormon bernama estrogen dan progesteron. Dua hormon ini cara kerjanya berlawanan, ketika progesteron meningkat saat kehamilan, maka hormon estrogen ditekan. Sebaliknya, jika seorang wanita tidak pernah hamil maka keterpaparan hormon estrogen akan meningkat.

“Jadi organ-organ reproduksi seperti endometrium (lapisan dalam rahim), ovarium (indung telur), dan payudara jika terpapar estrogen yang dominan terus-menerus, maka berisiko sel-selnya berkembang untuk menjadi sel-sel kanker,” jelas dokter wanita ini yang saya temui di Klinik Ibu dan Anak Restu Makassar pada Sabtu (25/9).

Kondisi ini dinamakan unopposed estrogen, kondisi dimana estrogen dominan (tidak ada lawannya). Biasa juga disebut estrogen dependent cancer, yaitu kanker yang disebabkan terpaparnya keberlebihan hormon estrogen. Contohnya kanker endometrium, kanker ovarium, dan kanker payudara.

Menurutnya⎯childfree, infertile (seseorang yang mengalami kemandulan/ secara biologis tak bisa memiliki anak), ataupun wanita yang tak pernah hamil⎯tak semua menjurus pada penyakit-penyakit tersebut. Namun jika setiap bulan mengalami menstruasi sepanjang waktu, indung telurnya akan mengalami perlukaan terus menerus. Sedangkan jika wanita hamil, maka artinya siklus tersebut berhenti sementara sebab tidak menstruasi selama 9 bulan. Digantikan dengan hormon progesteron, yang dihasilkan oleh plasenta saat hamil.

“Selama 9 bulan itu fase di mana estrogen tidak melimpah, sedangkan yang tidak pernah hamil estrogennya akan berlimpah terus, sehingga terjadilah yang namanya unopposed estrogen,” jelasnya.

Momen menyusui pun punya peran terhadap kadar esterogen yang berkurang. “Keterpaparan kelenjar-kelenjar di payudara terhadap hormon ini juga berkurang, sehingga mengurangi risiko kanker payudara,” jelas dokter yang juga merupakan Konsultan Fetomaternal Sub Spesialis Penanganan Komplikasi Kehamilan dan Kelainan Bawan pada Janin.

Jika seorang wanita memiliki peluang bisa memiliki anak, beliau menyayangkan keputusan tidak memiliki anak. Sebab banyak sekali pasangan yang tidak bisa memilikinya dengan ragam halangan. “Misalnya karena memang tidak memiliki rahim atau Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser Syndrome (MRKH), kelainan pembentukan rahim lainnya, kista Endometriosis, sampai Polycistic Ovarium Syndrome (PCOS)."

"(Atau) kelainan ovarium yang disebabkan hormon pria atau androgen yang berlebih sehingga menyebabkan sel telur sulit matang dan dibuahi secara normal). Yang pada akhirnya rela mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta untuk program bayi tabung,” jelas sang dokter sesuai pengalamannya di dunia kedokteran.

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

“Menikahlah dengan wanita yang penyayang dan subur, karena saya membanggakan banyaknya kalian pada seluruh umat. (HR. Abu Daud 2050, Nasai 3227 dan dishahihkan al-Albani).

Walaupun begitu, ia tidak menyalahkan seseorang yang memilih childfree menyinggung soal hak asasi manusia. Tapi ia hanya menitipkan pesan bahwa seseorang dengan pilihan tersebut harus mengetahui kesehatan tubuh dan bisa merawat tubuhnya dengan baik. Sebab sama dengan alasan seseorang memilih chilfree⎯entah itu alasan emosional, psikologis, bahkan karir⎯keputusan tersebut punya risiko yang tak bisa diabaikan soal penyakit-penyakit yang memungkinkan menyerang.

“Ada baiknya tetap mengedukasi diri mengenai kesehatan reproduksi wanita.”

Selain itu ia menyebutkan, meski dalam agama tak ada kewajiban memiliki anak, namun sudah kodrat sebagai manusia terutama wanita untuk bereproduksi. “Tugas kodrati, atau amanah dari Allah. Jika kita sebagai wanita memutuskan untuk tidak hamil, tidak melahirkan, tidak memiliki anak⎯maka kita harus siap dengan segala risiko-risiko itu, karena berarti kita telah melawan kodrat alamiah kita.”

Adapun jumlah anak yang masih bisa diatur sehingga bisa meminimalisir kekhawatiran. “Kita masih bisa menunda atau mengatur kehamilan itu dengan berbagai macam metode kontrasepsi,” ungkap dokter kelahiran tahun 1967 tersebut.

Lebih lanjut ia menambahkan, jika tren childfree di Indonesia bertambah layaknya di negara-negara maju, maka piramida penduduk Indonesia ini akan besar di atas. Maksudnya, menyempit di usia muda tetapi jumlah lansia terlampau banyak. Padahal pada tahun mendatang, Indonesia akan mengalami bonus demografi. (Baca juga: Menyongsong Indonesia Emas! Merdeka Bukan Zona Nyaman, Justru Pemacu Zaman dan Tantangan).

“Untuk merawat lansianya saja harus mengambil tenaga kerja dari negara-negara lain, seperti di Jepang saat ini. Sebetulnya keunggulan Indonesia saat ini karena dengan adanya bonus demografi, maka kita punya angkatan pekerja yang banyak dan memenuhi semua lini pekerjaan,” imbuhnya menambahkan pandangan mengenai dampak childfree terhadap negara.

Tak hanya itu, dalam lingkup lebih sederhananya lagi yakni dampak terhadap rumah tangga. Tak menutup kemungkinan jika childfree akan memicu perceraian. “Walaupun disepakati untuk tidak memiliki anak, tetapi ada potensi berkurangnya kasih sayang dan berkurangnya keterikatan antar pasangan,” tambahnya.

Lalu apakah ada saran untuk mereka yang memilih untuk childfree?

Yah mau tidak mau, harus rutin screening, periksa untuk deteksi kanker payudara, kanker endometrium, kanker ovarium. Minimal 6 bulan sekali.”

Lalu ia juga membandingkan kasus salah satu wanita yang tidak menikah sehingga tak melahirkan maupun menyusui. Lalu meninggal dengan kanker payudara. “Untuk usia-usia yang kasus kanker ini kebanyakan nanti terjadi setelah 40 tahun, karena usia menopause (sudah tidak bisa hamil).”

Ia juga mengingatkan, jika salah satu alasan tidak ingin punya anak adalah ketakutan akan bentuk tubuh yang tak elok sesudah melahirkan⎯hal itu masih ada solusinya. “Itu kan bisa diperbaiki lagi nanti setelah melahirkan dengan diet, olahraga, dan pola hidup sehat lainnya.”

Sebagai penutup, ia mengungkapkan bahwa keindahan wanita ada pada seorang anak. Sebab anak adalah penyejuk, perhiasan dan kekayaan dunia. “Memiliki anak itu sebuah keindahan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.”

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran : 14).

Redaktur: Prita K. Pribadi