Tanpa Sadar, 'Kibr' Mengakar

Penyakit hati merupakan penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata. Oleh karena itu tidak semua orang menyadari bahwa dirinya sedang terkena penyakit hati. Salah satu penyakit hati yang mudah mengakar di lubuk sanubari manusia adalah kibr atau biasa disebut dengan sombong. Sombong merupakan dosa pertama kali yang dilakukan Iblis untuk mendurhakai Allah. Ketika itu Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam.

Tanpa Sadar, 'Kibr' Mengakar
Ilustrasi melindungi hati dari berbagai penyakit. Sumber: Canva

Tahukah kamu bagian tubuh manusia yang paling mudah terkena penyakit? Bagian tubuh manusia yang paling mudah sakit bukanlah kaki yang selalu melangkah ke sana ke mari. Bukanlah tangan yang mengayun ke kanan ke kiri. Bukan pula mata yang bisa menatap tajam. Bagian tubuh manusia yang mudah terkena penyakit adalah hati.

Abu Hurairah radhiallahu 'anhu berkata, “Hati adalah raja, anggota tubuh adalah tentaranya. Jika rajanya baik, maka tentaranya akan baik. Jika rajanya buruk, maka tentaranya akan buruk.”

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa hati adalah pusat penggerak seluruh organ tubuh dan berpengaruh pada fungsi dari masing-masing organ yang lain. Maka dari itu, alangkah pentingnya kita menjaga hati agar tetap sehat dan tidak mudah terkena penyakit.  Sebagaimana organ tubuh lainnya, terkadang hati juga bisa terkena penyakit sehingga menjadi tidak sehat. Selayaknya kaki yang sakit maka tidak bisa melangkah, hati yang sakit tidak dapat menjalankan fungsinya yang khas yaitu selalu mengutamakan Allah dalam segala hal.

Penyakit hati merupakan penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata. Oleh karena itu tidak semua orang menyadari bahwa dirinya sedang terkena penyakit hati. Salah satu penyakit hati yang mudah mengakar di lubuk sanubari manusia adalah kibr atau biasa disebut dengan sombong. Sombong merupakan dosa pertama kali yang dilakukan Iblis untuk mendurhakai Allah. Ketika itu Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam.

Dikutip dari buku Hakikat Tawadhu’ dan Sombong menurut Al-Qur’an dan As Sunnah pengertian sombong adalah memandang diri sendiri lebih tinggi dari kebenaran sesama manusia. Seseorang yang sombong senantiasa melihat dirinya di atas orang lain dalam sifat-sifat kesempurnaan. Ketika seseorang memandang dirinya lebih hebat daripada orang lain maka cenderung meremehkan orang yang di bawahnya.

Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan makna sombong sebagaimana sabdanya,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim)

Sebagai manusia yang senantiasa ingin menyempurnakan amal perbuatannya, sudah sepantasnya menghindari penyakit-penyakit hati yang dapat menggelincirkan kita ke dalam neraka. Namun sayangnya terkadang kita terjebak dalam nafsu sesaat sehingga tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan merupakan salah satu bentuk kesombongan. Berikut akan dipaparkan bentuk-bentuk kesombongan yang seringkali tidak disadari. Check this out!

1. Merasa sudah tahu saat ada penyampaian ilmu

Ketika saya mengikuti sebuah rapat kerja, Ibu R sebagai pemimpin yayasan menyampaikan bahwa salah satu bentuk kesombongan adalah saat mendengar penyampaian ilmu merasa sudah tahu. Mendengar pernyataan tersebut rasanya seperti tertampar. Pernah beberapa kali saat sedang mendengarkan penyampaian ilmu merasa bahwa sudah tahu dan sudah pernah mempelajari ilmu tersebut. Padahal hal ini merupakan salah satu bentuk kesombongan yang sering dilakukan.

Jika ilmu diibaratkan sebagai air, maka sudah sepantasnya air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Apabila hati ini sudah merasa tahu, berarti secara tidak sadar kita sudah meninggikan hati. Maka yang terjadi ilmu yang dituangkan tidak akan masuk ke dalam kalbu. Karena tidak ada air yang mengalir ke tempat yang lebih tinggi.

2. Tidak pernah berdoa kepada Allah

Sebagai seorang manusia yang lemah tanpa pertolongan dari Allah, sudah sepantasnya kita selalu membutuhkan pertolongan Allah dalam semua keadaan. Baik saat kondisi sedang baik-baik saja ataupun dalam kondisi sedang kesulitan. Kita harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah melalui doa-doa yang kita panjatkan. Namun sayangnya ada sebagian orang yang tidak pernah berdoa kepada Allah. Mereka mengganggap bahwa segala sesuatu terjadi karena kerja kerasnya sendiri.

Seseorang yang tidak pernah berdoa kepada Allah termasuk ke dalam salah satu bentuk kesombongan. Hal ini sesuai dengan firman Allah sebagai berikut,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghofur: 60)

3. Bersifat kasar kepada sesama

Ketika seseorang sudah merasa benar dan menolak kebenaran dari orang lain, maka akan berlaku merendahkan orang lain. Orang tersebut akan selalu berusaha mengutamakan pendapatnya dan tidak mau menerima pendapat orang lain. Segala cara akan dilakukan agar apa yang dia inginkan tercapai bahkan dengan cara yang kasar sekalipun.

Bersifat kasar kepada orang lain merupakan salah satu bentuk kesombongan karena merasa dirinya berada di atas orang lain. Orang yang merasa di atas orang lain akan bertindak semena-mena tanpa memperhatikan perasaan orang lain.

Hal-hal sepele di atas mungkin masih sering kita lakukan. Mulai saat ini sudah sepantasnya tidak melakukan hal tersebut karena sudah tahu ilmunya. Ketika sudah mengetahui ilmunya, hukumnya wajib untuk mengamalkan. Apabila masih terasa berat untuk menghindari bentuk-bentuk kesombongan, ingatlah firman Allah di dalam QS. Luqman ayat 18 berikut,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Redaktur: Prita K. Pribadi