Tips Berbicara yang Baik untuk Mengurangi Kebiasaan Basa-Basi yang Terkadang Bikin Sakit Hati

Dalam beberapa konteks, basa-basi itu perlu. Bahkan boleh dibilang basa-basi merupakan salah satu harga yang murah untuk menjaga kerukunan. Namun, jika tidak berhati-hati dalam bertutur kata, basa-basi juga bisa menjadi pisau bermata dua. Pada satu sisi, basa-basi memiliki manfaat. Namun di sisi lain, terkadang basa-basi justru bisa bikin sakit hati.

Tips Berbicara yang Baik untuk Mengurangi Kebiasaan Basa-Basi yang Terkadang Bikin Sakit Hati
Ilustrasi orang yang sedang berbasa-basi. Sumber gambar: etalasebintaro.com (Edit: Canva)

“Mau kemana, Mas? Gak mampir dulu?”

Kamu pasti pernah atau sering menerima pertanyaan semacam itu. Saat akan berangkat kerja, sekolah atau hanya pergi keluar yang tak jauh dari rumah, terkadang ada tetangga yang menyapa. Sebenarnya tidak ada maksud menyuruh kita untuk benar-benar mampir selain hanya untuk bertegur sapa saja. Orang Indonesia biasa menyebut kebiasaan unik ini dengan 'basa-basi'.

Ada beberapa kalimat template basa-basinya orang Indonesia, seperti bertanya, “Mau pergi kemana?”, “Lagi ngapain?”, dan beberapa pertanyaan lainnya yang sebenarnya sudah jelas kita mau pergi kemana dan sedang apa, tetapi beberapa orang tetap menanyakannya. Dari situlah, kenapa hal itu disebut basa-basi.

Dalam beberapa konteks, basa-basi itu perlu. Dengan basa-basi seperti menyapa tetangga yang hendak bekerja, menawarkan makanan pada seseorang yang duduk di sebelah kita dan hal lainnya yang sering kita anggap sepele karena hanya basa-basi saja, tanpa kita sadari hal sepele seperti itulah yang justru bisa menjaga kerukunan. Boleh dibilang basa-basi merupakan salah satu harga yang murah untuk menjaga kerukunan.

Namun, jika tidak berhati-hati dalam bertutur kata, basa-basi juga bisa menjadi pisau bermata dua. Pada satu sisi, basa-basi memiliki manfaat. Namun di sisi lain, terkadang basa-basi justru bisa bikin sakit hati.

Mungkin kita pernah ditanya atau bertanya seperti, "Kuliah dimana?", Kapan lulus?", “Kerja dimana?", Kapan nikah?"

Mungkin bagi kita yang bertanya akan menganggap itu hanya sebuah basa-basi yang bertujuan untuk membuka obrolan atau mencairkan suasana agar tidak canggung. Sebenarnya sah-sah saja untuk melontarkan pertanyaaan semacam itu. Namun, yang terkadang bikin sakit hati tanpa kita sadari ialah pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

Contohnya saat kita bertanya, "Udah dapet kerja belum?” Kemudian orang yang kita tanya menjawab, “Belum." Mungkin di situ ia berharap kita akan memberikan respon yang baik dengan memberi masukan atau membantu mencarikan lowongan pekerjaan. Tetapi yang sering terjadi, kita malah sering merespon dengan sesuatu yang tidak enak didengar. Bukannya memberi solusi, terkadang kita malah merendahkannya. Bahkan membandingkan dia dengan orang lain yang sudah bekerja, dan hal seperti itulah yang terkadang membuatnya tersinggung hingga sakit hati tanpa kita ketahui. Dalam hal ini, Allah telah memperingatkan kita melalui firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Supaya terhindar dari perkataan yang buruk dan basa-basi yang bisa memicu sakit hati, berikut ini ada beberapa tips adab berbicara yang baik. Yuk, simak!

1. Berbicara yang baik dan sopan

Memang sudah sewajarnya disaat kita berbicara (dengan siapapun) kita harus berbicara dengan baik dan sopan, minimal tidak berkata dan bernada yang kasar. Di manapun dan dengan siapapun kita berbicara, kesopanan dalam berbicara harus terus diterapkan. Seperti firman Allah dalam ayat berikut,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى. فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut” (QS. Thaha: 43-44)

Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun agar bertutur kata yang lembut kepada Fir'aun. Padahal kita tahu betapa durhakanya Fir'aun kepada Allah. Dari ayat tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya ketika kita berbicara dengan orang yang berperilaku buruk sekalipun, kita ditekankan untuk tetap berkata dengan baik dan sopan tanpa menyakitinya.

2. Tidak mencela dan merendahkan lawan bicara

Semua orang pasti tidak suka dicela atau direndahkan saat berbicara, karena pada saat kita mencela orang lain pasti orang tersebut akan tersinggung bahkan marah. Saat berbicara juga tidak boleh merendahkan lawan bicara walaupun kita lebih tinggi secara ilmu dan pangkat. Hal ini juga tertera dalam firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

3. Merendahkan suara ketika berbicara dengan orang tua

Dalam bersosialisasi, pasti kita perlu yang namanya adaptasi. Sebab masing-masing dari kita memiliki cara berbicara yang berbeda. Tergantung di mana atau dengan siapa kita berbicara. Saat berbicara dengan teman sebaya, mungkin kita bisa menggunakan gaya bicara yang santai dan bebas. Namun saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau yang dituakan, terutama orang tua kandung, kita dianjurkan untuk merendahkan nada bicara dan menggunakan kata yang sopan. Seperti riwayat hadis berikut,

وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ

“Jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah.” (HR. Al Bukhari no. 2731).

4. Lebih baik diam daripada berbicara tidak baik

Pada saat-saat tertentu, diam bisa menjadi salah satu opsi untuk mengontrol lisan kita dengan baik. Layaknya sebuah peribahasa "Diam itu Emas". Jika kita berbicara hanya untuk gibah, mencela, merendahkan, bahkan sampai memfitnah seseorang, maka lebih baik diam. Sebab hal itu bukanlah tabiat seorang muslim yang beriman. Seperti riwayat hadis berikut ini,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari no. 6018; Muslim no.47)        

Selama manusia masih bersosialisasi, pepatah "Mulutmu Harimaumu" juga akan terus relevan sampai kapanpun. Hal ini berlaku baik komunikasi secara langsung maupun via media sosial. Oleh karena itu, kita harus membiasakan lisan kita untuk berkata yang baik. Apabila lisan kita sudah terbiasa mengatakan hal-hal yang baik, maka kita sendiri yang akan risih dan merasa bersalah jika berkata hal yang buruk.

Tentu kamu juga sudah mengetahui betapa besar pengaruh ucapan terhadap perasaan atau sikap orang lain. Nah, dengan memahami beberapa tips di atas, insyaallah kita akan lebih bisa menjaga lisan kita dari perkataan yang buruk dan bisa menggunakannya untuk mengatakan sesuatu yang bermanfaat. Dengan demikian, kita bisa memilah mana basa-basi yang bisa mempererat silaturahmi, mana basa-basi yang basi dan justru bikin sakit hati.

Redaktur: Ubaid Nasrullah