Toxic Positivity: Apakah Selalu Bahagia itu Tanda Bersyukur?

Sebuah anggapan yang keliru jika menganggap mental yang sehat ditandai dengan merasa bahagia setiap waktu dan tetap harus tersenyum ketika menghadapi kesulitan. Padahal, Rasulullah juga pernah bersedih kok. Beliau bersedih ketika Ibrahim, putra beliau, meninggal di usia masih balita. Lalu pertanyaannya, apakah konsep larangan toxic positivity berseberangan dengan perintah untuk bersyukur?

Toxic Positivity: Apakah Selalu Bahagia itu Tanda Bersyukur?
Ilustrasi orang yang sedang mengalami kesulitan namun terpaksa tetap harus tersenyum.

Kejadian demi kejadian datang ke kehidupan kita tanpa permisi. Allah mengatur kejadian tersebut sedemikian rupa menjadi skenario yang spoiler-nya pun kita tak tahu. Otak kita merespon kejadian-kejadian tersebut dengan berbagai macam emosi. Tidak hanya perasaan senang, namun bisa juga perasaan sedih, marah, takut, kecewa, ataupun jijik. Ya, manusia memang diciptakan oleh Allah dengan dihiasi oleh beragam emosi. 

Sebuah anggapan yang keliru jika menganggap mental yang sehat ditandai dengan merasa bahagia setiap waktu. Tetap harus tersenyum ketika menghadapi kesulitan. “Kamu harus bahagia! Sedih itu hanya untuk orang-orang yang lemah.” Bagaimana menurutmu kalimat itu? Padahal, Rasulullah juga pernah bersedih kok. Beliau bersedih ketika Ibrahim, putra beliau, meninggal di usia masih balita. Apakah Rasulullah orang yang lemah? Tentu tidak bukan?

Disebut mental health yang baik jika kita bisa merasakan berbagai macam emosi, baik nyaman atau tidak nyaman, emosi positif ataupun emosi negatif. Maka jika dituntut untuk hanya terus beremosi positif, hati-hati kamu dapat terjebak dalam Toxic Positivity. Toxic Positivity adalah tentang menjadi positif bagaimanapun caranya. Meski dihadapkan pada keadaan yang sulit atau mengerikan sekalipun, orang tetap harus memiliki sikap yang positif.

Menurut Canadian Mental Health Association, berikut ini terdapat tanda ketika positivity berubah menjadi toxic :

  • Kamu menepis atau mengabaikan perasaan yang tidak “positif”
  • Kamu merasa bersalah atau malu karena mengalami emosi “negatif”
  • Kamu menghindari atau bersembunyi dari perasaan tidak nyaman
  • Kamu hanya fokus pada aspek positif dari situasi menyakitkan

Dari penjelasan di atas, artinya emosi yang tidak terekspresikan dengan tepat dapat menyebabkan mental health kian memburuk. Tidak seperti perasaan positif yang selalu diharapkan, yang ada justru stres karena permasalahan emosi sebelumnya tidak terselesaikan.

Berikut cara-cara yang bisa kamu tempuh untuk menghindari Toxic Positivity:

  • Kelola emosi negatif kamu, tapi jangan menyangkalnya

Adanya emosi negatif juga dapat memberi informasi penting bagi diri kita. Contohnya, kamu merasa sedih ketika seseorang membahas masa lalumu. Dari situ bisa kamu tarik bahwa bisa jadi kamu belum memaafkan atau menyelesaiakan permasalahan masa lalumu.

  • Bersikap realistis terhadap apa yang seharusnya kamu rasakan.

Tidak apa jika kamu merasa stres, khawatir, atau takut. Tidak perlu berharap terlalu tinggi terhadap diri sendiri, cukup fokus terhadap langkah-langkah apa yang bisa kamu ambil untuk menyelesaikan masalahmu.

  • It’s okay to feel more than one thing

Ketika kamu menghadapi suatu tantangan, mungkin kamu akan merasa gugup, panik, sekaligus berharap untuk mendapat hasil yang terbaik. Emosimu bisa jadi serumit situasimu saat itu, tak apa kok.

  • Fokus mendengarkan orang lain dan menunjukkan dukungan

Ketika ada orang bercerita kepadamu tentang masalahnya dan mengekspresikan emosinya, jangan kamu timpali dengan kata yang bernada toxic. “Senyum dong, nangis gak akan menyelesaikan masalah.” Melainkan beri tahu bahwa apa yang mereka rasakan adalah normal dan kamu ada di sana untuk mendengarkan. “Gapapa kalau kamu mau nangis, ada yang bisa aku bantu gak untuk membuat ini lebih mudah buat kamu?” Bandingkan dengan kalimat sebelumnya, lebih enak didengar yang mana?

  • Perhatikan bagaimana perasaanmu

Mengikuti akun media sosial yang “positif” memang bisa memberikan inspirasi. Namun jika dengan melihat unggahan yang “menyemangati” kamu malah makin merasa malu dan bersalah, bisa jadi karena unggahan tersebut mengandung toxic positivity. Dalam kasus seperti ini, kamu perlu mempertimbangkan untuk membatasi konsumsi media sosial.

Perasaan ini valid, nyata ada, dan penting. Izinkan dirimu untuk merasakannya. Coba duduk dengan nyaman, setelah kamu lebih rileks coba dapatkan informasi dari emosi yang kamu rasakan. Emosi ini dapat membantu kamu untuk menemukan hal apa saja yang perlu kamu ubah. Bukan berarti bertindak berdasarkan emosi, melainkan mengelola dan memproses emosi tersebut sebelum mengambil tindakan tertentu.

Tapi ingat, penerimaan emosi ini bukan berarti dapat melampiaskannya asal-asalan. Misalkan ada keadaan yang menyebabkan kamu marah, bukan berarti kamu boleh mengucapkan kata-kata kasar dan membanting segala macam barang yang ada di sekitarmu. Penerimaan emosi juga perlu dibarengi dengan penyaluran emosi yang baik.

Lalu pertanyaannya, apakah konsep larangan toxic positivity berseberangan dengan perintah untuk bersyukur? Sebelumnya, mari kita resapi ayat berikut.

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِينَ

 “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 139).

Larangan yang dimaksud disini bukan berarti Allah tidak membolehkan perasaan sedih di saat merasa kesulitan. Yang tidak diperbolehkan adalah larut dalam kesedihan kemudian melupakan bahwa Allah selalu beserta orang iman. Kesedihannya menyebabkan malas beribadah dan malah berputus asa. Bukankah setelah kesulitan ada kemudahan?

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyiroh: 5)

Bahkan Allah mengulang firman tersebut di ayat selanjutnya. Artinya, memang tidak dipungkiri ada keadaan-keadaan sulit yang tidak dapat kita hindari. Merasa kesal dan stres merupakan hal yang wajar. Namun seperti tips di atas, berikutnya kita perlu mengambil langkah untuk menyelesaikan permasalahan kita. Yakin Allah akan memberikan kemudahan setelahnya.

Penjabaran di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa justru dengan penerimaan emosi yang dirasakan, kesehatan mental dapat terjaga dan lebih mudah dalam mencari jalan kesyukuran. Bersyukur bahwa dengan menjadi orang iman, segala sisi kehidupan dalam orang iman bisa menjadi pahala. Ketika terkena musibah, jika mengucap istirja’ dan bisa bersabar maka akan mendapat pahala. Ketika mendapat nikmat, jika bersyukur akan mendapat pahala pula.

Coba bayangkan saat kita mendapaatkan cobaan terkena Covid-19, sedih dan takut bukan? Atau seketika kamu mendapat hasil positif covid kamu langsung sujud syukur? Justru melalui perasaan sedih dan takut tadi, kita dapat menyadari nikmat kesehatan yang selama ini Allah berikan untuk kita. Menyadari bahwa kita harus mempersiapkan amalan kita untuk akhirat dengan sebaik-baiknya. Juga segera bertobat untuk dosa yang pernah dikerjakan.

Sebagai umat manusia yang terlahir dengan berbagai ragam emosi, yuk kenali lebih dalam diri kita sendiri. Lebih peka terhadap perasaan kita maupun perasaan orang lain. Jika kamu kesulitan untuk menangani emosimu sendiri, kamu bisa meminta bantuan kepada psikolog atau psikiater yang mudah kamu jangkau.

Terakhir, aku ingin menutup pembahasan kali ini dengan kutipan dari Daniel Braga “Hidup itu seperti membaca buku. Beberapa bab mungkin sedih, beberapa bab terlihat menyenangkan, dan beberapa bab lagi terlihat menarik. Tetapi jika kamu tidak pernah membalik halaman, kamu tidak pernah tahu apa yang ada di bab berikutnya.”

Redaktur: Niko Aditya