Tunjungan Praja: Sedekah Pakaian Barokah Serasa di Tunjungan Plaza

Program “pakaian barokah” LDII yang rutin berjalan setiap ramadan ini pun tak perlu diragukan lagi kebermanfaatannya. Ditambah konsep menarik dari PAC Medokan Semampir meningkatkan antusias warga untuk turut andil dari program ini. Karena kemasan yang menarik, pakaian yang sudah pernah dipakai pun tampak seperti pakaian baru yang menarik untuk dimiliki.

Tunjungan Praja: Sedekah Pakaian Barokah Serasa di Tunjungan Plaza
Kebahagiaan dari Warga LDII penerima pakaian barokah. Sumber: Instagram/genpraja

Memanfaatkan momentum ramadan, saling berbagi “pakaian barokah” menjadi kegiatan rutin yang diusung oleh organisasi keagamaan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Warga LDII yang memiliki pakaian lebih dari cukup (minimal sepuluh potong pakaian) dipersilakan menyedekahkan minimal satu potong pakaiannya. Tak hanya baju yang sudah pernah dipakai, warga LDII pun dipersilakan menyedekahkan pakaian baru jika memang beriktikad. Pakaian-pakaian ini berikutnya disalurkan bagi warga lain yang membutuhkan, mereka bisa memilih pakaian yang sesuai kebutuhan dan keinginan. 

Cara bersedekah paling baik tentunya memilih barang terbaik yang memang kita sukai, dengan cara memilih pakaian yang masih pantas dan masih bagus untuk diberikan. Dengan menyedekehkan sesuatu yang kita sukai, itulah yang disebut kebaikan, seperti termaktub dalam Q.S. Ali Imron ayat 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.”

Pembagian pakaian barojah Tunjungan Praja dikemas dengan cara menarik. Sumber: Youtube/Kostum Marching Band

Kita dapat meniru kebiasaan baik warga LDII ini untuk menyedekahkan hal yang terbaik yang bisa kita berikan. Jangan sampai kita menyedekahkan hal yang tidak kita sukai. Ah daripada menuh-menuhin lemari, udah ga mau dipake lagi karena sudah lusuh, daripada dibuang sayang mending dikasih ke orang lain. Coba bayangkan, jika kita saja tak mau memakainya bagaimana orang lain mau memakainya? Ayat Al Baqarah 267 ini pas sekali menggambarkan keadaan ini.


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا۟ ٱلْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِـَٔاخِذِيهِ إِلَّآ أَن تُغْمِضُوا۟ فِيهِ ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌ

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Baqarah: 267).

Istilah “pakaian barokah” ini diambil oleh LDII bukan tanpa alasan, melainkan memiliki pengharapan yang besar terhadap pakaian yang disedekahkan, tetap memiliki nilai manfaat bagi orang lain, juga menambah nilai ketaatan dan kebersyukuran bagi pemberi maupun penerimanya.

Warga LDII PAC Medokan Semampir tengah memilih pakaian barokah. Sumber: Instagram/genpraja

Program “pakaian barokah” ini pun dilakukan oleh Masjid Baiturrohman LDII PAC Medokan Semampir, PC Sukolilo, Surabaya. Uniknya, pembagian “pakaian barokah” ini dikonsep layaknya di pusat perbelanjaan. “Pakaian barokah” dipajang berjejer rapi menggunakan hanger dan setiap pakaian diberi hangtag/label bertuliskan “Tunjungan Praja”, sehingga tampak seperti pakaian baru. Tak hanya pakaian bekas, pakaian baru pun tersedia seperti sarung, kerudung, dan beberapa pakaian wanita. “Karena melihat evaluasi beberapa tahun sebelumnya, pakaian barokah yg harusnya masih bagus terlihat kucel dan kurang menarik bagi penerima. Namun dengan konsep seperti ini pakaian terlihat baru walaupun bekas, dan juga rapi dan wangi (karena kami semprot pewangi sebelum hari H pembagian),” ucap Muhammad Brian Adam R., selaku Project Officer Tunjungan Praja pada Tim Injo pada Sabtu (08/05)

Tunjungan Praja, kegiatan yang asal namanya merupakan plesetan dari Tunjungan Plaza Surabaya ini berhasil terlaksana di tanggal 30 April 2021. Fatchur Rifqi Andrean Pratama, Ketua Panitia Tunjungan Praja menyebutkan bahwa keadaan pandemi tidak menyurutkan semangat untuk meneruskan program yang sudah berjalan sejak tahun 2018 ini, dengan protokol kesehatan tetap menjadi syarat pengunjung memasuki lokasi.

Tak hanya tentang display, perkara pengemasan pun menjadi nilai tambah. Pakaian barokah yang sudah dipilih dan diambil kemudian dibungkus rapi dan diberi papperbag layaknya kita belanja di toko atau pusat perbelanjaan. Wah keren banget!

Tunggu sebentar, masih ada lagi nih tentang pensuasanaan ruangan yang tak kalah penting. Meski hanya bertempat di lantai dua masjid, dekorasinya pun tak kalah apik. Ornamen-ornamen khas perbelanjaan memperkuat suasana nyaman saat memilih pakaian. Pengunjung diajak merasa sedang berbelanja dengan harga 0 rupiah untuk setiap barang.

Sebelum acara dimulai setiap undangan akan diberikan voucher atau tiket bertuliskan jumlah pakaian yang boleh diambil setiap sesinya, dimana pembagian pakaian dibagi menjadi 3 sesi. Setiap sesi dilakukan bergantian antara pria dan wanita, untuk menghindari kerumunan yang berlebih. Sesi pertama dan kedua jumlah pakaian yang diambil setiap orang dibatasi. Tujuannya agar semua undangan bisa mendapatkan bagian rata. Setelah itu sesi 3, yaitu sesi bebas. Para undangan berhak mengambil sepuasnya pakaian yang tersisa agar pakaian barokah habis, tidak ada pakaian tersisa.

Tampak suasana perbelanjaan di pembagian pakaian barokah Tunjungan Praja. Sumber: Instagram/genpraja

Adanya pembagian menjadi tiga sesi ini agar memaksimalkan pemanfaatan pakaian barokah. Suhardi, takmir masjid Baiturrohman turut mengamini kebermanfaatan dari adanya program pakaian barokah ini, “Alhamdulillah di satu sisi bingung menghabiskan pakaiannya, di satu sisi bingung kurang pakaiannya. Ini alhamdulillah sekali bisa terlaksana pakaian barokah pada malam hari ini bisa membantu saudara kita yang membutuhkan.”

Tentu soal menyoal pahala tak perlu kita bahas lagi, selama niat karena Allah selalu melingkupi. Hati kita menjadi lebih bersyukur dan ikut merasa gembira bukan jika dapat memberi kepada yang lebih membutuhkan? Kebahagiaan ini terpancar dari ucapan salah satu pengunjung Tunjungan Praja, Khoirul Mustofa “Alhamdulillah tahun ini kita gak usah belanja lagi.”

Kebahagiaan dari Keluarga Khoirul Mustofa akan adanya Tunjungan Praja. Sumber: Instagram/genpraja

Program “pakaian barokah” yang rutin berjalan setiap ramadan ini pun tak perlu diragukan lagi kebermanfaatannya. Ditambah konsep menarik dari PAC Medokan Semampir meningkatkan antusias warga untuk turut andil dari program ini. Karena kemasan yang menarik, pakaian yang sudah pernah dipakai pun tampak seperti pakaian baru yang menarik untuk dimiliki.

Kamu juga dapat meniru program pakaian barokah ini loh! Menyisihkan sebagian pakaian yang masih pantas pakai dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Tak hanya itu, kamu juga dapat mengajak rekanmu untuk membuat konsep menarik seperti Tunjungan Praja ini. Bagaimana? Sudah siap berbagi? Yuk segera!

Redaktur: Niko Aditya