Turut Jadi Garda Depan Covid-19, Sudahkah Bersyukur pada Guru?

Mungkin kita jarang mendengar guru disebut sebagai garda terdepan “melawan” Covid-19, namun fungsi dan perannya tak boleh kita abaikan. Di masa pandemi ini, tugasnya mencerdaskan dan membangun bangsa jauh lebih berat dibandingkan pembelajaran di dalam kelas. Jangan menganggap guru memiliki banyak waktu beristirahat. Justru, di masa sekarang pekerjaan guru semakin berlipat.

Turut Jadi Garda Depan Covid-19, Sudahkah Bersyukur pada Guru?
Ilustrasi guru yang tak mudah menjalankan pembelajaran via daring. Sumber: birokratmenulis.org

Tak terasa, pandemi sudah setahun berlalu, belum ada tanda-tanda penurunan grafik positif covid yang signifikan. Kian hari kian banyak pihak mengeluhkan keadaan yang tak beranjak baik. Padahal jika kita tilik lebih dalam, sebetulnya pandemi mengajarkan bahwa kebersyukuran menjadi akses kita meraih kelegaan hati dalam segala situasi yang menimpa kita saat ini. Tak terkecuali bersyukur dalam masalah belajar mengajar bagi pelaku pendidikan.

Jika kita bersyukur kepada Allah karena masih diberi nikmat kesehatan dan kemampuan belajar, maka sudah sepatutnya kita juga berterima kasih kepada guru-guru di seluruh Indonesia atas kesemangatannya mendidik anak bangsa. Karena nikmat Allah tak jatuh dari langit begitu saja, pasti melewati perantara manusia sebagai pembuka gerbangnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954).

Mari kita resapi, guru ikut merasakan pahit getir mengajar di masa pandemi ini. Pembelajaran yang selayaknya diterapkan secara tatap muka, mau tak mau kelaziman tersebut dikesampingkan terlebih dahulu. Pembelajaran daring menjadi opsi utama bagi sekolah di kota besar yang sudah terjangkau internet. Zoom Meeting, Google Meet, ataupun membagikan materi lewat Whatsapp adalah beberapa metode daring yang bisa dijadikan pilihan.

Demi kelancaran pembelajaran via Zoom maupun Google Meet, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelontorkan dana yang sangat besar, 7,2 trilyun. Dana tersebut dialokasikan berupa kuota data internet bagi peserta didik jenjang PAUD, SMP, SMA, mapun mahasiswa. Pendidik (guru dan dosen) pun juga tak luput mendapatkan bantuan. Namun sebagai syarat bantuan turun, siswa maupun guru harus terdaftar dalam aplikasi dapodik. Adanya syarat tersebut, artinya baik siswa maupun guru yang belum terdaftar di dapodik tidak dapat mendapatkan bantuan kuota tersebut. Hal ini dirasakan oleh siswa dan guru di sekolah swasta rintisan yang belum terakreditasi seperti SMP Unggulan Baitul Manshurin di Kabupaten Bandung.

Ketiadaan bantuan kuota ini seringkali dikeluhkan oleh siswa dan tentunya cukup menghambat pembelajaran daring. “Belajar luring konvensional saja tantangannya sudah banyak, anak gak konsentrasi di kelas, gak mengerjakan tugas, apalagi belajar secara daring, pasti ada kendala lagi juga,” ucap Restia Lasri Yumawan, salah seorang guru SMP swasta kepada tim injo.id, Sabtu (10/04). Siswa sering menyampaikan izin berhenti belajar di tengah pembelajaran karena kehabisan kuota, koneksi yang bermasalah, bahkan izin tidak mengikuti pembelajaran via Zoom karena tidak ada kuota.

Selain permasalahan kuota, penyampaian materi juga menjadi PR tersendiri. Materi pelajaran yang lebih mudah dimengerti jika dijelaskan secara tatap muka, dipaksa alih metode menjadi pembelajaran jarak jauh. Seperti pelajaran IPA yang seringkali menuntut adanya praktikum, rumus-rumus matematika yang butuh coret-mencoret, juga pelajaran-pelajaran lain yang membutuhkan metode diskusi. Meski terkadang tak puas dengan kualitas pembelajaran yang ada, namun hal ini justru menjadi cambuk bagi guru untuk terus belajar menyiapkan rancangan pembelajaran yang efektif. Saya yakin para guru juga berharap dapat memberikan pengajaran yang terbaik agar anak didiknya dapat memahami materi dengan jelas.

Kesulitan-kesulitan tersebut juga dirasakan oleh Agna Sita Novela, guru Bahasa Inggris di salah satu SMP swasta di Bandung.  “Berasa lebih sulit dalam mengajar karena yang pertama, sulit kontrol ketertiban anak-anak, kedua sulit juga masalah kesulitan media atau jaringan juga, terus kurang bisa interaksi dengan baik secara online dibanding kalo tatap muka langsung. Ada beberapa tuntutan yang kita sebagai guru harus sampaikan dan capai, tapi ada kesulitan-kesulitan di prosesnya saat daring gini,” jelasnya pada tim injo.id via Whatsapp di waktu yang sama.

Terkadang rasanya sangat menyesakkan ketika siswa mengeluhkan belum memahami materi dengan baik. Perasaan gagal menjadi guru menghantui. Cara pengajaran seperti apa yang harus guru lakukan? Rasa gatal ingin terus belajar memberikan semangat agar tak putus asa dan berusaha berpaku pada kurikulum darurat. Evaluasi demi evaluasi terus dilakukan, siswa diajak bekerja sama agar pembelajaran tak hanya berjalan satu arah.

Perasaan itu turut diamini oleh Agna, “Mungkin banyak yang beranggapan kalau sekolah online ‘gurunya enak’ tapi nyatanya pas kita di posisi guru teh ga ‘seenak’ itu. Justru guru-guru harus muter otak gimana caranya materi tersampaikan dengan keterbatasan situasi pandemi gini. Contohnya waktu buat nyiapin materi, media, keluh kesah orang tua, tuntutan sana sini itu juga banyak.”

Meski begitu, masih saja ada siswa yang kurang bisa diajak berkembang. Ketika diberi tugas, terkadang tak dikerjakan. Ketika berkesempatan belajar melalui Zoom, keseriusan belajar pun sulit terlihat oleh guru. Hal ini turut disuarakan oleh guru Bahasa Indonesia, Ayomi Nurfadillah kepada kami. “Karena kita ga tau apa siswa di rumah sebenarnya siap tidak dalam belajar. Kadang ada yang matikan video dari awal sampe akhir, di-absen gak nyaut, tapi di-japri bilang hadir alasan koneksi. Jadi agak menimbulkan suudzon. Ini sebenarnya siswa belajar atau main, dan hanya sekedar ikut kelas.”

Pembelajaran daring, banyak anak yang tidak menyalakan kamera video. Sumber: Dok. Pribadi SMP Unggulan Baitul Manshurin

Pembelajaran daring, banyak anak yang tidak menyalakan kamera video. Sumber: Dok. Pribadi SMP Unggulan Baitul Manshurin

Kendala-kendala tersebut banyak ditemui di kota-kota yang memudahkan pembelajaran menggunakan internet. Belum lagi permasalahan yang muncul dari daerah-daerah yang tak terjangkau internet. Pertanyannya, apakah semua guru dapat cepat beradapatasi terhadap perubahan yang semerta-merta ini? Jawabannya tentu tidak semua.

Tak cukup berkoordinasi dengan siswa, guru pun harus lebih aktif berkoordinasi dengan orang tua siswa. Harapannya baik guru maupun orang tua tak saling melempar tanggung jawab. Guru tetap melakukan monitoring dan evaluasi pembelajaran. Diharapkan pula orang tua sebagai pemegang kendali penuh ketika anak belajar di rumah dapat mengawasi dan mendukung proses belajar anak. “Jangan sampai stigmatisasi mutu hanya dilempar ke guru.” Disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Unifah Rosyidi, dalam Special Interview BeritaSatu. Orang tua, guru, dan panduan pembelajaran yang jelas dari kemendikbud saling bergandengan mengangkat mutu pendidikan bersama.

Unifah juga menyampaikan bahwa ada yang hilang ketika pembelajaran jarak jauh, yakni suasana belajar yang biasa ada pada pembelajaran konvensional.  Ini menjadi alasan mengapa siswa seringkali merasa tugas-tugasnya banyak dan tertekan secara psikologis. Pembelajaran yang praktis dan aplikatif menjadi tips khusus dari Ketum PGRI ini.

Melalui pembelajaran yang praktis dan aplikatif, nilai-nilai dasar pembelajaran yang tidak dapat digantikan dari pembelajaran konvensional pun diharapkan dapat tersampaikan. Nilai-nilai, seperti kasih sayang, kejujuran, dan respect pada perbedaan.

Ia memberikan contoh, “Misalnya kita mendiskusikan tentang sampah, anak-anak bisa diminta tanggung jawab, ‘bagaimana sih seharusnya kita?’ Kalau buang sampah boleh ga dekat dengan pemukiman? Itu meskipun tidak sepenuhnya mewakili pembelajaran bersama guru, tapi paling tidak ini bisa mengisi kekosongan kekhawatiran. Maka diperlukan panduan yang aplikatif.”

Masukan dari Ketum PGRI tersebut menutup pembahasan kita kali ini. Sebenarnya jika dikulik lebih dalam, masih banyak aspek tanggung jawab guru yang belum tersentuh dalam pembahasan kali ini. Permasalahan pembuatan perangkat pembelajaran merupakan kewajiban yang tak dapat dikesampingkan juga. Meski sudah ada pedoman pembelajaran pada masa pandemi, namun guru tetap harus meningkatkan kualitas diri dan mengolah pedoman yang sudah ada disesuaikan dengan mata pelajaran terkait.

Terakhir, mungkin kita jarang mendengar guru disebut sebagai garda terdepan “melawan” Covid-19, namun fungsi dan perannya tak boleh kita abaikan. Di masa pandemi ini, tugasnya mencerdaskan dan membangun bangsa jauh lebih berat dibandingkan pembelajaran di dalam kelas. Jangan menganggap guru memiliki banyak waktu beristirahat. Justru, di masa sekarang pekerjaan guru semakin berlipat.

Terima kasih pahlawanku.

Redaktur: Prita K. Pribadi