Waroeng Setiabudhi: Santap Surabi dengan Cara Asik

Melalui inovasi, makanan tradisional dapat bertahan dari gerusan zaman. Dengan berbagai pilihan topping, Surabi disulap menjadi kekinian dan terkesan lebih enak daripada sebelumnya. Meski berjudul warung, tempat makan ini “anak muda banget” dan gak terkesan “kolot”.

Waroeng Setiabudhi: Santap Surabi dengan Cara Asik
Surabi Waroeng Setiabudhi yang dimasak dengan tungku. Sumber: PergiKuliner.com

“Wrruugghh...” Bunyi perut keroncongan yang kadang bikin malu sendiri dan bikin pengin menyantap makanan enak. Lapar tapi sedang gak pengin makan nasi. Siapa di sini yang suka lapar tapi malas makan nasi? Kayaknya pas nih kalau makan serabi. Sebentar sebentar, Serabi atau Surabi ya yang benar? Menurut KBBI sendiri sebutan yang tepat adalah Serabi. Tapi berbeda dengan umumnya, masyarakat Sunda lebih membudayakan sebutan Surabi, diambil dari Sura : “Besar”. Jadi, sah-sah saja nih ketika kalian mau menyebut dengan istilah Serabi atau Surabi.

Serabi muncul sejak tahun 1923, itu artinya Serabi sudah melewati 98 tahun kejayaannya sebagai makanan tradisional dan masih tetap lestari hingga kini. Dari berbagai daerah di Indonesia, ada 8 wilayah yang paling terkenal akan serabinya yaitu  Bandung, Solo, Kalibeduk, Bali, Minang, Bogor dan Ambarawa. Tentunya setiap daerah memiliki bentuk dan ciri khas masing-masing. Di daerah Jawa Barat sendiri, surabi biasa disantap sebagai sarapan. Surabi polos biasanya ditemani oleh gorengan, seperti bala-bala, gehu ataupun tempe. Ada pula surabi oncom dan surabi kinca/gula merah cair, tak luput ditemani dengan teh hangat ataupun kopi panas saat memakannya.

Memperkuat keberadaannya, Waroeng Setiabudhi yang menyediakan surabi kekinian ini muncul ditahun 2009 dan membuka cabang di Cihampelas tahun 2013. Kini tak hanya sebagai sarapan, surabi bahkan bisa tetap disediakan hingga malam hari. Seperti di Waroeng Setiabudhi yang mampu untuk menyulap serabi tetap eksis hingga sekarang. Meski beranjak kekinian, cara mereka memasak surabi tidak pernah berubah. Karena jika alat masaknya berubah, akan berubah juga rasanya. Alat yang dibutuhkan adalah tungku dan wadah yang terbuat dari tanah liat dengan bara api dari kayu.  

Tidak hanya menyediakan surabi, warung ini juga menyediakan makanan dan minuman pendamping lainnya seperti baso kampung, roti bakar, nasi goreng, kopi, minuman ringan, dan minuman tradisional yang khas. Menu tradisional tetap ditonjolkan karena mereka sebagai pelopor serabi modern ingin makanan tradisional tetap eksis. “Kami adalah kelompok dari individu yang percaya bahwa kejayaan makanan tradisional tidak akan habis terkikis oleh zaman dan pengaruh globalisasi makanan modern," tutur pemiliknya pada web Waroeng Setiabudhi. Salah satu usahanya adalah modernisasi dengan menambahkan pilihan topping seperti mayones dan keju pada surabi. Bahkan ada juga loh menu Surabi Crabby Patty dan Surabi Spaghetti, wah penasaran gak sih bakal kayak apa rasanya?

Serabi telor mayones keju. Sumber : Dokumen Pribadi Ginna Meriana

Serabi telor mayones keju. Sumber : Dokumen Pribadi Ginna Meriana

Harga yang ditawarkan pun cukup murah dimulai dari delapan ribuan, menyesuaikan dengan kondisi sekeliling yang ramai anak kos-kosan dari berbagai kampus di sekitar situ. Cocok untuk nongkrong asik bareng teman dan keluarga. Waroeng Setiabudhi ini tidak pernah sepi pengunjung, bahkan seringkali waiting list, padahal sudah disediakan dua lantai. Ditambah lagi live music yang bisa bikin kita terhibur, dan satu hal yang tak kalah menarik adalah proses pembuatan surabinya ada di bagian depan. Jadi, kalau penasaran kita bisa melihat proses pembuatannya ditemani dengan asap kebul dari surabi itu sendiri, lumayan hangat-hangat dikit lah. Hihi menarik bukan?

Tim Injo.id mencoba melakukan survei pada lima pengunjung secara acak, mayoritas dari mereka menyebutkan bahwa mereka menyukai Surabi telor mayones pakai saus (untuk varian asin) dan Surabi Kinca (untuk varian manis). “Aku sukanya Surabi telor mayones pakai saus soalnya kayak enak aja gitu pas,” kata salah satu pengunjung yang kami temui Sabtu (03/04).

Ia juga menambahkan, yang menarik dari Waroeng Setiabudhi ini material bangunannya terbuat dari kayu sehingga terkesan rustic dan menarik. Selain itu, yang membuat betah adalah live music yang bikin asik karena pengunjung bisa ikutan request lagu juga loh! Meski berjudul warung, tempat makan ini “anak muda banget” dan gak terkesan “kolot”.

Wujud tampak depan Waroeng Setiabudhi Bandung. Sumber : waroengsetiabudhi.com

Wujud tampak depan Waroeng Setiabudhi Bandung. Sumber : waroengsetiabudhi.com

Eits tapi tetap ingat ya teman-teman. Ketika kita sudah memesan, usahakan makanannya dihabiskan dan pesan sesuai porsi masing-masing ya. Seperti dalam potongan Q.S. Al-A’raf : 31 yaitu “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan”. Enaknya dapat, sehatnya dapat, dan melestarikan budayanya juga dapat. Alhamdulillah...

Kalau kalian mau tahu rasa surabi kekinian satu ini, bisa banget nih kamu langsung cus ke Jl. Dr. Setiabudhi No. 175 dan cabangnya di Jl. Cihampelas No. 159A Bandung. Di saat perut kalian keroncongan, menu pengganti nasi ini pas untuk kalian. Nah tunggu apalagi? Cobain Yuk!

Redaktur: Dyah Ayu N. Aisyiah